[REVIEW NOVEL] TUNANGANKU, PEMBUNUH?

Cover Gloomy Gift
dok. pribadi

Judul buku     : Gloomy Gift

Penulis           : Rhein Fathia (@rheinfathia)

ISBN               : 978-602-291-089-3

Penerbit          : Bentang Pustaka (@bentangpustaka)

Penyunting      : Pratiwi Utami

Perancang sampul   : Wahyudi

Pemeriksa aksara     : Septi Ws

Penata aksara          : gabriel_sih

Foto sampul              : iStock

Tanggal Terbit          : Maret 2015

Harga             : Rp 54.000,00

Tebal              : iv + 284 hlm; 20,5 cm

Rating             : 5 dari 5 bintang

 

TERKADANG CINTA ADALAH TENTANG MENGHADAPI KETAKUTAN TERBESARMU

Sinopsis :

Kupandangi kamu dengan wajah memelas. Berharap kamu mau menyingkap apa yang sedang kita alami sekarang. kamu tetap pada pendirianmu, bungkam. Pura-pura tak ada hal besar yang baru saja terjadi.

Bagaimana mungkin semua baik-baik saja? Di hari pertunangan kita, segerombolan orang menyerbu rumah. Tembakan diletuskan. Peluru. Jeritan orang-orang. Dan, kamu membawaku kabur masih dengan kebaya impian yang kini terasa menyiksa dipakai di saat yang tak sepantasnya.

Hal yang seharusnya bahagia, menjelma tegang dan penuh tanya. Kenapa kita harus lari? Belum cukupkah aku mengenalmu sejauh ini?

Aku tak siap menyambut kenyataan. Tak siap jika harus kehilangan. Tak kuat menahan rasa takut berkepanjangan.

***

Kara Arkana. Seorang putri mungil yang rapuh, cengeng, girly dan manja khas anak tunggal dari pasangan suami-istri, Pandu-Belinda, dan sekarang telah menjelma menjadi gadis yang memikat, hangat, dan memiliki ketangguhan hati sekeras baja dibalik kerapuhannya. Penggemar cerita Disney Princess. Pemilik dan pengelola gerai kado di mal ternama di Jakarta yang bernama Glad to Gift You.

Zeno Ramawijaya. Tunangan Kara Arkana. Tipikal pria yang tidak banyak bicara dan terlihat judes kepada orang lain jika belum dikenalnya secara dekat. Memiliki sikap tegas dan sorot mata yang selalu tampak mengintimidasi. Tenang, kaku, bicara seperlunya. Namun ternyata sosok penyayang keluarga dan hangat kepada orang-orang terdekatnya.

Belinda.  Ibunda Kara yang merupakan seorang perancang busana. Ibu penyayang yang mampu mengelola emosi dengan baik, tetap tenang meski wajah anggunnya menampilkan kekhawatiran.

Garin Ramawijaya. Ayah dari Zeno dan Dhewa, kepala keluarga Ramawijaya. Mantan purnawirawan TNI AD. Founder SYL (Save Your Life) -organisasi rahasia.

Raymond. Pengusaha slash Bos Lintang Samudra (LS) . Seorang pria paruh baya berperut agak tambun dan pipi gemuk.

Pandu. Papa Kara. Sosok yang mendominasi sisi lain kehidupan Kara sekarang. Kehadirannya dalam ingatan kenangan masa lalu selalu membayangi Kara.

Bagaimana perasaanmu ketika akan menghadapi sebuah pesta pertunangan? Bahagia? Gugup? Cemas?

Itulah yang dirasakan oleh Kara menjelang detik-detik pertunangannya dengan Zeno Ramawijaya –seorang arsitek dan eksekutif muda berbakat yang memikat. Namun tak disangka di hari yang begitu istimewa, membahagiakan dan ditunggu-tunggu Kara malah menjadi momen melelehnya semua trauma akan masa lalunya.  Zeno tahu pasti kalau suara tembakan yang diletuskan oleh gerombolan LS pada hari pertunangannya itu akan kembali membuat Kara rapuh dan trauma.

Bagaimana jika dalam sekejap seseorang yang kau cintai berubah menjadi sosok yang tak kau kenal?

Bagaimana jika ternyata kenyataan menghadapkanmu bahwa tunanganmu adalah seorang pembunuh?

Beretta m9 -senjata Zeno. sumber: google
Beretta m9 -senjata api Zeno.
sumber: google

Bagaimana mungkin Zeno bersedia membongkar identitasnya kalau Kara pernah berjanji untuk ‘tidak akan pernah menjalin hubungan apa lagi menikahi pria yang memiliki pekerjaan maut tiap detiknya.’ –hlm.57. Zeno takkan pernah sanggup menghadapi kenyataan kalau seandainya Kara mengetahui dirinya merupakan bagian terpenting dari sebuah ‘organisasi rahasia’ yang dapat mengancam nyawa tiap detik. ‘Karena menceritakan identitasku sama saja dengan membuatmu pergi dariku!’ –hlm.154

***

foto1603
dok. pribadi

Novel ini merupakan novel bergenre action-romance pertama yang aku baca dan ditulis oleh penulis lokal! >_< Novel ini ringan dibaca dan adegannya mudah dibayangkan. Detail deskripsi dari berbagai ‘aksi’-nya nggak membuat jenuh pembaca, malah sebaliknya, membuat pembaca betah untuk terus membaca halaman per halaman yang penuh kejutan hingga tak terasa sudah tiba di halaman terakhir (ini agak nyesek kenapa tiba-tiba udahan ceritanya -_- hahah *ditoyor* ). Kerennya di novel ini penulis menggunakan nama sandi dan kecanggihan teknologi.

Romance di novel ini bukan seperti novel-novel romance lain yang menyuguhkan kisah cinta ala Cinderella meskipun tokoh utamanya pecinta Disney. Action dalam novel ini juga terasa nyata dan recommend banget untuk difilmkan! Settingnya lokal. Iya, di Indonesia. Sepertinya kalau Iko Uwais masih sixpack, dia cocok kalau memerankan tokoh Zeno. *agak maksa* 😀

Penulis menggunakan POV orang ke-3. Penulis berhasil menyedot pembaca masuk ke dalam cerita dan sukses membuat jantung pembaca seketika berdebar-debar, trenyuh, mencelus, sedetik kemudian tiba-tiba menahan napas, berganti jadi senyum-senyum sendiri, dan nyaris menjerit (Oke yang terakhir ini agak lebay karena aku sayang sama Zeno, tapi endingnya.. *ditampar Kara*).

Nah, kalau membicarakan ending dari novel ini tuh agak menggantung karena sepertinya (akan) ada lanjutannya *pantes kurang tebel*. Twist-nya ada di epilog. Tapi aku jamin kalian nggak akan terburu-buru untuk mencapai ending karena keseruan alur ceritanya.

Well, cover buku ini udah berhasil merangkum sosok tokoh utama (Zeno) yang misterius, cool, keren, gagah dan bertanggung jawab. Walaupun waktu itu sempat diadakan voting antara dua cover berikut,

cover novel GG
sumber: FP Penulis

aku bersyukur karena akhirnya Gloomy Gift dicetak dengan cover yang sekarang 😀

Kekurangannya yaitu kurang kompleksnya permasalahan (hanya mengenai pengejaran dan traumatik –kehilangan), ada beberapa kesalahan/kekurangan penulisan kata seperti ‘diluar’, ‘keluar kota’, ‘disekitarnya’, ‘kebelakang’, ‘data itu ada saku’.

Berikut ini quotes yang bertebaran di buku ini 😀 :

  • “Kadang kala selembar foto bisa menjadi benda mengerikan, hanya karena kemampuannya menghadirkan sosok yang tiada menjadi ada.” – hlm. 83

  • “Cinta bisa membuatmu mampu melakukan apa pun, termasuk melukai sosok yang kamu cintai.” – hlm. 129

  • “Kebanyakan pria menganggap wanita hanya sebagai makhluk yang ditadirkan untuk ditaklukkan, bukan untuk dilindungi. Materi sebanyak apa pun tidak akan memenuhi ‘rasa terlindungi’ yang wanita butuhkan.” – hlm. 133

  • “Jika masih rasional, itu bukan jatuh cinta.” – hlm. 138

  • Sometimes, someday means ‘I know it will be never happen.” – hlm. 139

  • “Karena setiap orang butuh kambing hitam untuk penderitaan yang dia rasakan.” – hlm 155

  • Someone you love has at least one secret that would break your heart.” – hlm. 185

  • “Lawan terberat setelah diri sendiri adalah sahabat sendiri.” – hlm. 216

  • “Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, tapi syukuri apa yang pernah kita alami.” – hlm. 242

  • “Hal paling menakutkan adalah kehilangan orang yang sangat kita cintai.” – hlm. 254

  • Sometimes, love is about facing your biggest fear.” – hlm. 264

[REVIEW NOVEL] SEJOLI

foto1517

Penulis              : Wangi Mutiara Susilo (@WangiMS)

Penerbit            : Sekata Media (@SekataMedia)

Editor                : Patresia Kirnandita

Proofreader      : Ari Funatik

Penata letak      : Diandra Novitasari

Desain sampul  : Diandra Novitasari & M. Fadli

Tahun Terbit     : 2014

Tebal                 : viii+188 hlm

ISBN                  : 978-602-71655-4-0

Harga                 : Rp 40.000

Rating                 :  3 dari 5 bintang

Sinopsis :

Kenya : “Does he make you laugh?”

Rayya : “At least, he doesn’t make me cry.”

Buat Rayya, Kenya adalah seorang part time lover dan full time good friend. He’s number 1 on her speed dial button. Melewati hari Kamis yang notabene adalah hari paling dibenci Rayya bersama dengan cowok itu memberikan kesenangan sendiri. Amazing guy, itulah predikat yang Rayya sematkan diam-diam untuk Kenya.

Bagi Kenya, Rayya adalah his number one and two dalam bucket list-nya. Belum ada seorang cewek pun yang bisa melihat segala sesuatu dengan cara yang berbeda dan tetap bisa membuat Kenya tertawa dengan mudahnya. Namun, mencintai dan menjadikan Rayya sebagai pacar adalah dua hal yang berbeda buat Kenya. Dia takut melakukan yang kedua. Terlalu ngeri membayangkan sahabatnya menjauh kalau kelak dia menyatakan cinta.

Dua sahabat. Satu kisah tentang cinta diam-diam dan menyimpan rasa.

What if you find soul mate and best friend in one person that you least expected?

***

Membaca sinopsisnya membuatku seketika merasakan ada es yang meliuk di hatiku. Oh damn! ‘Dua sahabat. Satu kisah tentang cinta diam-diam dan menyimpan rasa.’  Nyeeesss! Baiklah, sekarang kalimat berikutnya, “What if you find soul mate and best friend in one person that you least expected?”

Nah, lho! Bagaimana tuh cara menjawab pertanyaannya? Kalau kamu akan melakukan apa? Kalau aku sih masih mikir keras hingga detik ini meski pun novel ini udah selesai aku baca beberapa hari yang lalu. Tapi kisah Rayya dan Kenya memang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Persahabatan mereka (Rayya dan Kenya) yang bisa dikatakan memang kelewat batas itu ternyata memang beralasan. Bagaimana tidak? Ketika sebuah persahabatan antara seorang cewek dan cowok yang amat lekat itu ternyata masing-masing menyimpan rasa cinta yang transparan. Namun sebagaimana mestinya cinta, di awal ia selalu berhasil disembunyikan dan akhirnya menjadi hal yang biasa saja dengan sebuah status ‘persahabatan’ walau pun se-transparan itu. Bahkan panggilan ‘sayang’ pun rasanya menjadi hal yang biasa saja. Itu yang mereka alami dan jalani.

Buat Kenya, mungkin aku adalah sahabat. Teman baik. Buatku, Kenya itu semuanya. Kakak, sahabat, teman baik. Tapi, nggak pernah jadi pacar. Kekasih. Nope. – (Rayya) hlm. 5-6

Frasa ‘I kinda like you’ punya arti tersembunyi: ‘I’m madly in love with you and absolutely adore you, but can’t actually say that because it sounds so creepy’. – (Kenya) hlm. 19

Ritual pertemuan setiap hari Kamis yang merupakan hari off-nya Kenya itu cukup menggambarkan kedekatan hubungan mereka. Seperti kalimat ‘Everything I do, I do it for you,’ itulah mereka berdua. Hang out sampai tengah malam, ngobrol random, nonton film bareng, dan segalanya bersama deh, pokoknya! (walau pun pekerjaan mereka berbeda, ya!)

Namun semua nggak berjalan mulus begitu aja. Pasti persahabatan pun ada riak-riaknya. So, wajar kan karena segala keakraban mereka bertahun-tahun itu si Rayya menanyakan statusnya ke hadapan Kenya? “What are we, Kenya?

Lalu, apa yang terjadi selanjutnya dengan kehidupan dan persahabatan mereka setelah Rayya menanyakan hal itu? Bagaimana ketika ada orang lain yang masuk ke kehidupan mereka?

Novel tipis ini dikemas dengan ringan, mudah diresapi dan dihayati. Sudut pandang di novel ini dibagi menjadi sudut pandang Kenya, sudut pandang Rayya dan sudut pandang Bayu. Jangan takut bingung membedakannya ya, kawan! Karena untuk membedakan mereka, di buku ini tiap sudut pandang disajikan dengan font yang berbeda dan ukuran yang berbeda juga. Intinya perbedaannya signifikan deh. Eh, kok tiba-tiba ada sudut pandang Bayu? Siapa tuh Bayu? Nah, untuk menjawabnya silakan baca sendiri cerita lengkapnya di novel ini ya? 😉

Novelnya keren banget Kak Wangi! Hanya saja entah mengapa aku hanya mampu memberikan 3 bintang untuk cerita seru ini. Ada sesuatu yang kurang menurutku. Maaf ya… tapi penjabaran ceritanya asyik kok! :*

Terima kasih juga kepada Sekata Media yang memberikan novel ini kepadaku hadiah Valentine kuis #giftsekata hehe jadi bisa ikutan galau bersama Rayya dan Kenya nih wkwk 😀

Sebagai quotes penutup supaya kamu penasaran:

“What about in the journey of searching soul mate, you lose your good friend?

That’s life. If you lose friend, you grow up eventually. You move on, continuing your life.

This too, will pass. You’ll be fine, eventually.” – hlm. 84

[REVIEW NOVEL] RUNAWAY

foto1375

 Penulis               : Kezia Evi Wiadji

Penerbit              : Gramedia WidiaSarana Indonesia (@grasindo_id)

Desainer             : Chyntia Yanetha

Penata isi            : Abdurrahman

Tahun Terbit       : 2014

Tebal                   : vi+145 hlm

ISBN                    : 978-602-251-776-4

Harga                  : Rp 36.000

Rating                  :  4 dari 5 bintang

Sinopsis :

Amy dan adiknya, hidup bersama orang tua yang tidak lagi saling mencintai. Keberadaan sang ayah telah digantikan oleh materi, sementara sang ibu selalu menyakiti dirinya sendiri. Bertahun-tahun Amy merasa tidak bahagia. Gedung gereja dan kesibukannya sebagai panitia Natal selalu menjadi pelariannya.

Suatu hari, sepulang sekolah, Amy menemukan rumah dalam keadaan kosong. Hanya terdapat jejak darah di lantai dan di kamar ibunya. Sesuatu yang mengerikan telah terjadi dengan ibunya!

Karena tak mampu lagi bertahan, Amy melarikan diri. Lari dari keluarga yang tak lagi memberinya

Asa aman, kebahagiaan, juga kasih sayang.

Tetapi…

Seorang cowok menyebalkan, memergoki pelariannya itu!

***

Membaca cerita ini seolah mendengarkan kisah teman-temanku yang mengalami kisah serupa dengan yang dialami oleh Amy. Kau tahu bagaimana kisah Amy?

Amy adalah seorang cewek yang di masa remajanya justru mengalami broken home karena ulah orang tuanya. Aku takkan pernah berharap kalau kamu yang membaca novel atau review ini juga mengalami hal yang serupa dengan kisah hidup Amy. Semoga. Tapi, jika memang kamu adalah salah satu wujud dari tokoh Amy di dunia nyata, aku sarankan kamu meresapi pesan yang disajikan oleh penulis baik yang secara tersirat mau pun tersurat. 🙂

Awalnya Amy hanya mengetahui kedua orang tuanya bertengkar dan terus bertengkar selama beberapa tahun terakhir. Namun lambat laun akhirnya Amy mengetahui satu demi satu kenyataan dalam hidup yang tak ia ketahui sebelumnya. Rahasia terkuak! Papa-nya memiliki anak dari wanita lain. Hal itulah yang menyebabkan kedua orang tua mereka selalu bertengkar.

Amy, sosok cewek yang digambarkan oleh penulis sebagai cewek rapuh dan penyayang namun bertekad kuat untuk tegar di depan orang lain ternyata dipertemukan oleh cowok menyebalkan namun tampan rupawan 😀 uwoo uwoo cowok tengil tapi memesona itu perlahan tapi pasti mulai memenuhi ruang kehidupan Amy. Mau tahu namanya siapa?? Namanya Reno. Si cowok nyebelin yang selalu tebar cengiran khas dan mampu membuat pemudi-pemudi di sekelilingnya ‘klepek-klepek’ wkwk. Ya bagaimana tidak? Toh cowok yang konon katanya menyebalkan ini jago dalam bidang seni lhoo! Rasanya sebelum Amy (si tokoh utama ‘aku’), malah aku duluan yang jatuh cinta sama si Reno ini. Heheh

Siapa sih yang kuat bertahan di rumah mendengar pertengkaran-pertengkaran kedua orang tua yang terus menerus terjadi? Mama yang selalu menyiksa diri sendiri dan kehadiran Papa yang sekarang tergantikan dengan materi? Mungkin kalau aku jadi Amy, aku pun takkan kuat mengalami hal itu. Aku juga akan mencari sebuah pelarian, sama seperti Amy. Kalau Amy menjadikan Gereja sebagai pelariannya, aku masih bingung mencari pelarian lain. Hehe Yup! Amy sering banget pergi ke Gereja dan akhirnya memutuskan untuk menjadi panitia Natal demi menyibukkan diri.

Tapi ada yang lebih asyik lagi, Reno si cowok yang menyebalkan di mata Amy, ternyata dia juga menjadi panitia Natal lho! Kurang asyik apalagi coba 😀 makin geregetan aja deh si Amy yang niatnya sengaja menjadikan Gereja sebagai tempat pelarian malah bertemu si cowok menyebalkan itu melulu… nah, bagaimana kelanjutan kisah mereka? Lebih gereget lagi kalau kamu baca sendiri ceritanya! Ternyata Reno juga punya rahasia lho! Pokoknya Reno keren banget deh, ternyata dia bisa dewasa dan mendewasakan juga.

Novel edisi Natal yang ditulis Kak Evi ini tuh sebenarnya menyajikan kisah cinta yang manis. Walau pun aku sebenarnya nggak terlalu suka kisah yang manis, tapi ternyata Kak Evi berhasil membuat aku betah untuk menyelesaikan kisah antara Amy – Reno dan Amy – her family.

Ini beberapa quotes (hanya beberapa aja ya) yang aku suka dari novel ini :

  • Tetapi sekarang semua tinggal kenangan. – hlm. 25

  • “… Tapi kalau kenyataannya tidak bisa, apakah aku akan terus berkubang dalam kegetiran dan kesedihan sepanjang hidupku?” – hlm. 118

  • “Seburuk-buruknya orang tuamu, mereka tetap menyayangi kamu dan adikmu, ‘kan?” – hlm. 118

  • “Kebahagiaan selalu ada, hanya kita mau meraihnya atau tidak.” – hlm. 119

Sebenarnya ditemukan beberapa typo dalam novel ini, kalau tidak salah seperti penulisan ‘risi’ dan ‘risih’ karena keduanya ada di buku ini. Ada juga kata ‘yag’ yang mungkin sewaktu penulisannya nggak sengaja kepeleset padahal maksudnya ‘yang’. Ada juga kata ‘speed deal’ yang mungkin seharusnya ‘speed dial’ yang maksudnya ‘panggilan cepat’. Sejauh ini sih nggak masalah dengan typo yang terjadi. Hanya saja sayang sekali novel manis ini ada typo nya hehe 🙂

Ucapan terima kasihku teruntuk Kak Evi yang sudah memilihku sebagai pemenang Giveaway Kasih Sayang yang akhirnya berhasil mendapatkan buku ini bertanda tangan penulisnya langsung plus album foto Winnie The Pooh! Terima kasih juga telah melahirkan buku ini. Ini keren, Kak! Katakan sama Reno ya Kak, maukah dia selalu di sampingku? Wkwkwk 😀 *ditimpuk bantal*

Terima kasih sudah mau membaca review ini. Tinggalkan jejak ya! 😉

SEBUAH KENYATAAN

[Diikutkan Dalam Lomba Menulis “Love With a Witch” by Hyun Go Wun]

Langkah hidupnya membangunkanku dari mimpi burukku. Dia tak pernah menggangguku. Namun kehidupanku seolah memaksanya melakukan hal-hal di luar batas kemampuanku sebagai manusia.

“Kamu sudah sadar, El?” sapaku.

Dia memiringkan kepalanya yang sedang berbaring di atas bantal putih. Senyum manis itu masih tak lepas dari wajahnya yang indah. Dia mengangguk, “Aku baik-baik aja kok, Jo. Jangan khawatir.”

Bohong! Senyum itu palsu. Sebenarnya ia sedang menahan sakit yang perlahan tapi pasti menggerogoti jantungnya.

“Semua yang menurutmu baik-baik saja belum tentu dalam keadaan baik-baik saja, El. Bisa jadi yang kamu kira ‘baik-baik’ saja itu sebenarnya klise.”

Matanya menatapku tajam. Tatapan yang tak pernah sekali pun kulihat dalam kurun waktu empat tahun sejak awal pertemuan kami. Tapi sekarang tatapan itu berhasil memaku tubuhku yang berdiri di samping tempat tidurnya.

“Aku baik-baik aja dan ingin pulang sekarang. Berlama-lama di tempat yang penghuninya adalah orang-orang yang sakit hanya akan membuat aku sakit. Paru-paruku sesak dengan bau obat-obatan yang diminum manusia.” dia berkelit.

“Kita pulang besok. Setelah tubuh kamu pulih.” aku bersikeras.

Sikap kerasku dibalas dengan wajah masam yang dibuat-buat. Anehnya dia semakin terlihat cantik di mataku. Tapi itu tak akan membuat pertahananku runtuh. Dasar kamu, El… gumamku dalam hati. Pertahananku akan runtuh jika melihat tubuhnya kembali roboh di depan mataku.

“Kalau kamu tetap bersikeras nggak biarin aku pulang sekarang, ya udah aku pakai sihir aja, ya?” ujarnya sembari menyatukan ibu jari dan jari tengahnya dan hendak memetiknya.

“Eiitts… tunggu! Jangan seenaknya menggunakan sihir kamu di tempat umum! Nanti aku yang kena imbasnya. Kamu kira…”

Dia menggeleng pelan, “Berhenti berbohong dan membohongi diri kamu sendiri, Jo. Aku tahu isi hatimu. Bukan itu alasannya.”

SKAK! Lagi-lagi aku lupa kalau El mampu membaca isi hati dan pikiranku. Tentu saja ia mengetahui semuanya bahkan sejak kali pertama kami bertemu. Dia curang… aku hanya mampu membaca isi hati dan pikirannya saat dia mengizinkan sedangkan ia leluasa masuk ke dalam hati dan pikiranku.

“Baiklah… aku akan meminta dokter agar kamu dipulangkan sekarang juga. Sesuai kemauanmu.” aku menyerah.

Dia tak berkata apa-apa lagi setelahnya. Aku membalikkan badan dan berlalu. Tapi aku tahu senyumnya telah kembali terbit di sudut-sudut lekukan pipinya dan mengantarkan kepergian punggungku hingga tak lagi terjangkau matanya. Dia selalu tahu aku akan selalu melakukan apa pun dengan tulus ikhlas demi senyum itu.

***

Hampir satu jam kami dikepung sunyi senyap tanpa sepatah kata pun. Dia mengunci aksesku untuk mengetahui isi pikirannya. Tapi aku yakin dia sedang leluasa memasuki pikiranku.

Aku baru tahu, ternyata diam membisu lebih lelah dibandingkan meluapkan rentetan kata-kata. Nyatanya, diam malah membuat bendungan kata-kata lebih menggunung dibanding terus-menerus dialirkan tanpa henti. Terlebih lagi, ribuan panah pertanyaan terasa lebih menyakitkan ketika tak berhasil disampaikan.

Aku takkan mengganggu dia yang sedang asyik bergulat dengan dunianya. Aku hanya membutuhkan jawaban atas segala pertanyaan yang muncul selama sebulan setelah dia keluar dari rumah sakit. Karena dia mendadak hilang tanpa alasan. Lalu tiba-tiba saja dia kembali dan mengajakku bertemu di tempat kami kali pertama bertemu -di bangku taman rumah sakit.

Jika dilukiskan dengan satu kata, hubungan kami terlalu lekat dengan kata ‘tiba-tiba’. Berawal dari kehadirannya yang secara tiba-tiba dan seketika mengubah warna hidupku yang serba hitam. Iya, serba hitam. Mulai dari hitam muda, hitam tua, agak hitam hingga hitam pekat. Aku jatuh hati padanya begitu saja. Lalu dia memberitahuku tentang dirinya, yang sebenarnya bukan seorang manusia. Yang mengherankan adalah aku tetap mencintainya hingga detik ini. Detik di mana aku masih sempat melukiskan semua ini.

“Ada lagi yang harus kamu ketahui tentangku, Jo.” suaranya terdengar bergetar.

“Apa?” tanyaku dingin.

“Jika dua tahun yang lalu aku sempat memberitahumu tentang aku bukanlah manusia sepertimu, sekarang kamu harus tahu kalau aku yang memilihmu.”

“Maksudmu?” aku merasa tersesat dalam pembicaraan ini.

“Kamu ingat kali pertama pertemuan kita?” dia menghela napas, “Sejak darahku menjadi bagian dari darah yang mengalir di tubuhmu, itu tandanya aku telah memilihmu.”

“Sejak kamu jadi pendonorku?” tanyaku memastikan. Darahnya memang menyelamatkanku dari ambang kematian. Iya, dulu aku adalah seorang pencopet dan nahasnya aku nyaris mati saat itu.

Dia mengangguk dan melanjutkan, “Bangsaku, Bangsa Penyihir Kehidupan, berhak memilih pendamping hidup. Entah dengan sesama penyihir atau bukan… maksudku, manusia.”

“Tapi ketika penyihir memutuskan untuk menggunakan wujud manusia selamanya, itu berarti menentang hukum dari bangsaku. Aku melakukannya, berarti aku harus siap menanggung risikonya.”

“Risiko apa?” sergahku.

“Seorang penyihir takkan bisa mati kecuali kekuatannya dikalahkan penyihir lain. Namun ketika penyihir memutuskan untuk menjadi manusia, tubuhnya akan memberontak” dia terdiam, “yang kalian sebut ajal, kami sebut dengan hukuman mati. Itulah yang akan menjemputku, tak lama lagi.”

Seketika itu dingin menjalari sekujur tubuhku. Lidahku kelu.

“Tak ada yang bisa kamu lakukan selain membiarkan semua yang harus terjadi tetap terjadi.”

Kalimat itu menjadi penutup dari pertemuan ini. Senyum itu masih melekat erat di wajahnya sambil berlalu meninggalkanku yang masih terkejut mendengar penjelasannya.

Cintaku tak butuh alasan tapi kenyataan menamparku….

Teknis Lomba Nulis #LoveWithAWitch

MALAIKATKU

[Cerita ini diikutsertakan dalam giveaway Rewind Back]

Di mana semua ini berawal, di sanalah semua ini harus berakhir…

Langkahku tergesa, setengah berlari. Semua ini karena satu jam yang lalu seseorang dari masa lalu menghubungiku. Aku tak tahu kalau setia untuk menggunakan nomor ponsel yang sama ternyata berguna. Tetapi nyatanya begitu, Tio berhasil menghubungiku. Sial!

Tak banyak yang disampaikan Tio dalam telepon, atau mungkin hanya aku yang terlalu kaget karena bagian dari masa depanku akan diisi oleh orang-orang dari masa laluku. Namun satu hal yang pasti, telepon itu berhasil membawaku ke tempat ini demi seseorang. Lagi.

Langkahku terhenti. Indera penciumanku telah sesak bau obat. Kapan kali terakhir aku ke sini? Sungguh, aku tak mau mengingatnya. Dinding, lantai hingga seragam petugas di sini yang serba putih membuatku mual. Aku benci tempat ini! Aku benci kalau sebenarnya dulu aku hapal betul semua lorong di gedung ini, termasuk ruang jenazah. Sebuah ruang yang begitu kelam untuk ingatan.

Kenapa harus ke sini? pikirku. Cukup! Mungkin yang harus kulakukan adalah berbalik badan dan keluar dari rumah sakit ini?

Tiba-tiba ponselku berdering membuyarkan lamunanku.

“Fei, aku tahu kamu di depan pintu, cepat masuk!” Klik. Itu Tio.

Kuhirup napas dalam. Kubiarkan bau rumah sakit memenuhi rongga paru-paruku agar aku yakin bisa menaklukkan kenangan buruk itu.

Dengan tiga langkah lurus, tanganku menggapai pegangan pintu. Aku terpaku. Kurasakan dingin mulai menjalari sekujur tubuhku saat aku menyentuhnya.

Krekk. Hanya dengan satu gerakan, pintu itu sedikit terbuka. Sontak aku melangkah mundur. Bukan aku yang membuka pintu! Ada seseorang yang membukakannya untukku.

Perlahan, pintu itu terbuka semakin lebar dan menampakkan sosok yang tak ingin lagi kulihat. Sosok yang pernah memenuhi seluruh sel di hatiku sekarang terbaring tak berdaya.

“Ran?” lirihku.

Kurasakan otot-otot tubuhku menegang. Bulu kudukku meremang. Sekujur tubuhku mulai bergetar. Gigiku gemeletuk. Ran terbaring dengan mata tertutup. Kantung darah, cairan infus serta berbagai alat medis malang-melintang di sekujur tubuhnya yang kurus kering sekarang.

“Masuk, Fei!” ucap sosok yang ternyata masih kukenal, Tio. Dia berdiri di balik pintu.

Aku berusaha tetap berdiri tegak. Perlahan masuk dan mendapatkan kejutan lain di sana. Mas Reno –kakakku- dan Tami sedang duduk di sofa tak jauh dari sisi Ran. Tami? Oh, ya Tuhan! Sudah pasti Tami ada di sini untuk menemani suaminya yang sedang terbaring lemah.

“Duduk, Fei.” titah Mas Reno.

Aku menurut. Duduk bersisian dengan Mas Reno, menghadap ke tempat tidur Ran.

“Aku harap kamu mau memaafkan semua kesalahan Ran, Fei,” suara Tami memecah keheningan, “aku udah bilang sama Mas kamu tentang kesalahan Ran di masa lalu. Dia sudah mengikhlaskannya, aku harap kamu juga.”

Kalimat yang meluncur dari mulut Tami membuatku bingung. Yang aku ingat hanyalah segumpal kekecewaan saat tujuh tahun yang lalu Ran meninggalkanku ke luar negeri  dan membawa Tami sebagai calon istrinya. Bibirku membeku, hatiku kembali pilu, “Kesalahan yang mana?”

Tak ada satu pun yang menjawab suaraku. Semua menunduk.

“Ran yang nggak sengaja menabrak Mama saat akan menghadiri wisudamu, Fei.” Mas Reno menjawab.

Seketika hatiku terasa dihantam godam. Sesak tak tertahankan. Aku tercekat, “Kenapa?”

“Dia nggak sengaja melakukannya, itu kecelakaan. Maafkan Ran, Fei.” Mas Reno berusaha menenangkanku.

Hatiku kebas, “Pembunuh tetap pembunuh, bukan? Perenggut kebahagiaan tetap seorang perampas.”

Aku berdiri dan mendekati tempat tidur Ran. Memandanginya dengan tatapan benci. Ternyata benar, cinta begitu dekat dengan benci. Bahkan, dinding pemisahnya transparan, hingga aku keliru kapan aku berada di labirin cinta dan benci.

“Tapi dia penyelamat hidup Mas, Fei.”

Spontan aku menoleh ke arah Mas Reno. Mungkin aku salah mendengar kata-kata Mas Reno barusan?

“Ginjal Ran, ada di tubuh Mas. Membuat Mas bertahan hidup hingga sekarang.”

Aku tak percaya, “Mana mungkin!” bantahku.

“Ran sudah tak sanggup hidup dengan satu ginjal, Fei. Sekarang, dia setiap hari cuci darah. Tugasmu hanya memaafkannya. Membiarkan dia tenang di saat-saat terakhirnya.” suara Tio terdengar dingin dan menusuk. Aku hanya sanggup menelan ludah. Separah itukah?

Hening kembali merajai, hingga…

“Maafkan aku, Fei.”

Suara itu…

Dengan gemetar kupalingkan wajah. Iya, itu Ran! Dia sadar! Menatapnya membuat hatiku tak keruan. Tio bilang Ran sudah tiga hari tak sadarkan diri.

Sepuluh tahun yang lalu, tanpa sengaja Tuhan mempertemukan aku dan Ran di tempat ini saat Mas Reno harus cuci darah.

Tujuh tahun yang lalu, Tuhan mengambil nyawa Mama di sini dan mendatangkan malaikat untuk Mas Reno dan aku. Tapi sekarang, malaikat itu yang tak lama lagi akan dijemput sendiri oleh Tuhan.

KALUNG EMAS UNTUK IBU

Lagi, lagi dan lagi. Aku terhanyut dalam ingatan masa laluku. Aku memang bukan anak dari keturunan orang berada. Tapi aku merindukan saat–saat di mana aku masih merasakan kehangatan keluarga yang utuh, tinggal bersama kedua orang tuaku serta seorang adik perempuan yang kusayangi. Ingatan itu terus terngiang dibenakku. Andai saja kehidupan keluargaku masih seharmonis dulu. Andai.

Berbeda dengan sekarang, Ina, adikku dititipkan di rumah nenek sejak terjadi pertengkaran hebat yang terjadi antara ayah dan ibu.

Aku sedang dalam masa remaja yang seharusnya mendapat dukungan dan binaan dari keluarga ke arah yang benar. Tapi kenyatanya miris, aku malah kekurangan kasih sayang. Akibatnya, aku memilih jalan hidupku sendiri, hidup bersama anak jalanan dan menjadi pecandu rokok. Tapi sesekali aku datang ke rumah nenek sekadar untuk mengetahui kabar Ina.

Seperti sore ini, aku menemui Ina di rumah nenek sambil membawa kue kesukaan Ina.

“De, kamu baik – baik aja kan di sini?”

“…” Ina hanya tersenyum sambil mengangguk.

“Ini Mbak bawakan makanan kesukaanmu. Ambillah!” aku menyodorkan sebungkus plastik kue ke hadapan Ina.

“Kapan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu, Mbak?” tanya Ina sambil mengambil plastik kue dari tanganku.

Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Ina membuatku seketika tak percaya. Adikku baru berusia 11 tahun, sedangkan aku 16! Tapi tiba-tiba saja dia bertanya seolah dia mengerti segalanya!

”Nanti. Kalau suasananya sudah ‘sedikit’ lebih baik.”  jawabku kaku.

Aku tak dapat memberikan jawaban lebih kepadanya. Lidahku terlalu kelu. Aku takut hanya akan membuatnya menanti saat–saat seperti dulu.

Kuputuskan untuk segera pamit.

***

Sepanjang perjalanan, terbesit keinginan dalam hatiku untuk pulang ke rumah orang tuaku. Dan tanpa kusadari, kakiku melangkah ke rumah orang tuaku. Jarak yang ditempuh antara rumah nenek dan kedua orang tuaku hanya berkisar 800 meter.

Namun seketika langkahku terhenti di ujung gang rumah orang tuaku ketika terdengar suara bentakan dan teriakan dari dalam rumah itu. Berat hatiku untuk melanjutkan langkah.

Seketika ingatanku menyeruak, berteriak dan mengoyak hati. Segala ingatan tentang ayah yang memperlakukanku kasar layaknya binatang membuat luka, bibit dendam dan kebencian yang pada akhirnya tumbuh subur di dalam hatiku itu mencuat lagi. Tak akan pernah ada yang mampu mengukur kedalaman semua luka, dendam dan kebencian itu. Hanya mataku yang mampu menyiratkan bahwa semua itu terukir jelas dan jelas-jelas semua itu bukan atas keinginanku.

Tiba-tiba, aku mendengar dengan jelas suara Ibu menjerit kesakitan membuatku tersentak dan tersadar dari kubangan kebencian. Segera aku berlari menuju rumah itu dan berusaha mendobrak pintunya yang terkunci.

Tak pernah kubayangkan akan mendapati ibu tergolek tak berdaya dan berlumuran darah di kepalanya. Tanpa berfikir panjang, aku berusaha mencari pertolongan dan membawa Ibu ke puskesmas terdekat. Ternyata ekor mataku menangkap peristiwa lain yang tak pernah kuinginkan, Ayahku sedang melarikan diri bersama seorang wanita dari pintu belakang rumah. Sial! Berani-beraninya wanita itu lagi!

Saat ini, aku tak tahu pasti apa yang menjadi pemicu atas kejadian kali ini. Tapi yang aku tahu pasti, wanita itu yang menyebabkan aku seperti ini. Kami seperti ini.

***

Sejak kejadian itu, aku bersikeras membawa Ibu keluar dari rumah itu. Namun jawaban yang terlontar dari mulut Ibu tidak sesuai dengan harapanku. Ibu tetap ingin tinggal di rumah itu untuk membuat suaminya –ayahku- sadar dan kembali seperti dulu. Walau pun matanya menyiratkan dengan jelas bahwa di dalam hati kecilnya, Ibu sadar kalau untuk mengembalikan segalanya seperti dulu itu mustahil.

Entah dengan cara apa lagi aku harus membujuk Ibu untuk lepas dari segala siksaan lahir batin itu. Bukan hanya Ibu, tapi mentalku juga. Namun setiap senyum itu berusaha meyakiniku bahwa semuanya akan baik-baik saja, hatiku yang miris teriris. Padahal sering aku melihat Ibu termenung sendiri dan menangis. Tapi sesering itu pula ibu bungkam seribu bahasa ketika kutanya ‘kenapa’. Dan akhirnya aku membulatkan tekad untuk terus menjaga dan membahagiakan Ibu. Aku berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan rumah lagi dan akan berhenti merokok.

Hari demi hari aku jalani dengan bekerja untuk membantu Ibu membiayai kehidupan kami. Adikku tetap tinggal bersama nenek dan sekarang Ibu menjadi tukang cuci baju bagi tetangga–tetangga kami. Sedangkan aku bekerja menjadi loper koran dan tukang semir sepatu di pagi hari, kemudian menjadi kuli panggul beras di siang hari. Sebagian penghasilanku untuk simpanan karena uang simpananku yang sebelumnya habis digunakan untuk biaya berobat Ibu.

***

Tak hanya sampai di situ, ternyata cobaan kembali menghampiri. Ketika aku sedang menyemir sepatu milik langgananku di pasar, salah seorang temanku, Andi, membawa kabar tentang ayahku yang tewas setelah dipukuli karena tidak mampu mambayar ketika kalah berjudi. Seketika itu hatiku luluh lantak. Luka dan kebencian terhadap ayah saat itu juga luntur seiring air mata yang jatuh membasahi pipiku. Aku berlari sekuat tenaga. Pulang.

Ternyata benar. Bendera kuning telah berkibar di depan rumahku. Isak tangis pun mengiringi lantunan surah Yaasin yang menggema di ruang tengah. Baru saja aku menginjakkan langkah pertama di rumah, aku langsung dapat melihat dengan jelas jenazah ayah yang terbujur kaku. Sedangkan tak jauh dari sana, ibu dalam pangkuan nenek tak kunjung sadarkan diri.

Perlahan kurasakan badanku limbung. Di ruangan inilah sekarang keluarga kami utuh berkumpul kembali, ada Ayah, Ibu, aku dan Ina. Namun, di keadaan yang tak pernah kami duga sebelumnya. Di keadaan yang tak pernah kuharapkan, barang sedikit pun.

***

Kehidupanku berubah seketika itu juga. Tak akan ada yang memarahiku lagi, tak akan ada yang memukuliku lagi, serta tak akan ada lagi keluarga harmonis dan utuh seperti impianku saat melihat kebahagiaan orang-orang di luar sana. Sekarang, sebagai tulang punggung keluarga, aku berusaha memberikan yang terbaik untuk membahagiakan keluargaku. Aku ingin membahagiakan Ibuku. Orang tua satu–satunya yang kumiliki sekarang.

Telah lama kupendam perasaan bahwa aku ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk Ibu. Semenjak kepergian ayah, aku bekerja keras untuk mewujudkan keinginanku itu. Hingga akhirnya….

“Bu, ini untukmu, untuk wanita berhati baja yang selalu sanggup bertahan. Aku selalu dan akan selalu sayang Ibu.” kataku sembari melingkarkan sebuah kalung emas di leher Ibuku.

Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Ibu. Ia hanya menatap mataku dalam dengan segala keteduhan yang ada padanya. Perlahan sebuah senyum indah menghiasi wajahnya yang telah dibanjiri tetesan air mata. Ia memelukku.

Kalung emas itu dulunya adalah pemberian ayah dan sempat digadaikan dua tahun yang lalu karena kami tak memiliki uang untuk makan. Dalam hati, aku bangga karena akhirnya bisa menebus itu dengan uang hasil keringatku sendiri.

Maka malam itu, genap 100 hari kepergian ayah, aku berhasil memberikan sebuah kalung emas yang sempat terlupakan oleh ibu karena ia berpikir benda itu tak mungkin dapat ditebus. Namun sekarang, kalung itulah satu-satunya yang menjadi kenangan ayah untuk Ibu.

“Apa pun akan kulakukan demi Ibu…” bisikku.

Tulisan ini diikutsertakan pada #HariCintaUntukIbu #ILoveMom dari Bukune

i-love-mom

*A SECRET LETTER*

bapakku

Dear my biggest love,

Assalamu’alaikum… Apa kabar? Ah, betapa konyolnya aku yang bertanya apa kabarmu sedangkan kenyataannya kita tinggal satu atap. Yang jelas-jelas tahu bagaimana kondisimu sekarang. Ah, aku memang tak pintar basa-basi. Tapi aku selalu berdoa semoga Allah selalu melindungimu dari penyakit-penyakit yang berusaha merusak pertahanan tubuhmu yang mulai renta.

Entah apa yang mendorongku untuk menulis surat ini untukmu, bukan untuk mama. Tapi yang pasti di satu sudut hatiku berteriak ingin didengar. Didengar bahwa anakmu ini juga mencintaimu… walau satu hal yang pasti, rasa cintaku padamu mungkin tak sebesar rasa cintamu padaku. Hal itu terbukti karena saat aku belum menyadari arti cinta, kau telah mengguyurku dengan kasih sayangmu sejak aku belum terlahir ke dunia yang sama sepertimu.

Bodohnya aku yang bahkan terlalu gugup dan seketika gagap ketika harus bertemu wajah Idul Fitri hanya untuk sekadar memohon pengampunanmu atas segala kenakalan dan luka yang telah kugoreskan di hatimu. Namun tetap saja pada akhirnya aku meminta maaf dengan gagu. Bukan karena aku tak ingin, tapi terlalu banyak luka yang kugoreskan seiring keriput yang muncul di permukaan wajahmu. Aku malu.

Walau aku tau, setelah itu kau akan memelukku, mengusap puncak kepalaku dan mengecup keningku seraya berkata, “yang pinter yah!”. Tahukah kau mengapa aku selalu memendam wajahku lalu pamit permisi ke kamar mandi? Ah, ternyata aku masih saja cengeng. Butiran bening dari sudut mataku belum juga bisa berhasil kutahan seperti inginmu waktu itu, “Jangan jadi cewek lembek! Cewek juga hatinya harus sekeras baja!”. Ya, aku menangis saat itu, tapi semua itu karena aku tak kuasa melihat kedamaian di kedalaman hatimu yang tulus dan luas memaafkan kesalahanku.

Lantas kenapa aku berani menulis surat ini? Karena aku yakin kau takkan pernah membacanya, dan biarkan Allah yang membisikkan angin cintaku padamu.

Andai kau ingin bercermin, Pak. Bercerminlah padaku. Bisakah kau hitung seberapa besar sifatmu itu ada padaku? Ah, tapi kau sering kali enggan secara lisan mengakuinya, bukan? Bukan masalah enggan, kau hanya tak ingin memperdebatkan ‘kemiripan anak’ terhadap orang tuanya, selalu begitu. Selalu keras kepala, sama sepertiku.

Aku tak tau harus berkata apa lagi. Mungkin terlalu banyak kemiripan di antara kita namun terlalu sering kita bersebrangan. Mari kita sudahi saja surat ini, karena aku yakin, cintamu takkan pernah berhenti mengalir bahkan ketika darahku berhenti mengalir.

Aku tak perlu kata cinta untuk melihat cinta yang nyata darimu karena segala tindak-tandukmu telah melukiskan cinta yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Dan dibalik segala ke-keras-kepala-an-ku itu juga terselip cinta yang ingin membuatmu bangga terhadap putrimu ini… Kau, takkan pernah terganti 🙂

Terima kasih atas boneka kembar pemberianmu yang belasan tahun dan hingga kini masih menemaniku :*

 foto1263

With Love,

-Anak sulungmu yang belum mampu balas budi-

NP : Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Challenge Twins Universe

Banner-Lomba

AKU….

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Menarikku lepas dari mimpi buruk itu ke kesadaran yang belum benar-benar sempurna, tepat tengah malam. Ini sudah malam ketiga mimpi itu menghiasi alam bawah sadarku. Aku tak tahu apa arti mimpi itu. Anehnya, kata-kata si penelepon itu sama persis dengan ucapan seseorang dalam mimpiku, “Andrea, waktunya pulang!”

Bodoh! Kenapa semalam telepon itu diangkat? makiku dalam hati. Andai semalam telepon itu tidak kuangkat, pasti aku bisa kembali memejamkan mataku. Semua ini karena suara dari penelepon misterius itu!

Masalahnya, aku ditinggal sendirian di sebuah rumah seluas 300 meter persegi. Dan betapa beruntungnya aku karena diberikan kamar bak rumah tipe 21. Setelah mengangkat telepon itu semalam, aku menyadari bahwa ketakutan mulai menjalari setiap senti tubuhku. Sempurnalah ketakutanku itu ketika hujan deras yang mengguyur kota tak kunjung berhenti. Kilatan-kilatan cahaya di kaki langit itu terlihat jelas dari jendela kamar lantai dua ini. Dasar kota hujan!

Berjam-jam aku hanya mondar-mandir di kamar. Mulai dari berpindah satu sisi kasur ke sisi yang lainnya. Mencoba berbaring dan menutup wajah dengan bantal. Namun kegelisahan yang menang dan akhirnya aku hanya duduk bersandar di sofa. Padahal aku sudah coba membaca novel dengan berharapan bahwa aku dapat segera kembali tertidur. Nihil. Aku tetap terjaga hingga jam berbentuk kodok berwarna hijau di meja samping kasurku sekarang menunjukkan tanggal 9 Februari 2014 pukul 10 lewat 15 menit. Usahaku sia-sia.

***

SREEEETTT….

Suara pintu gerbang depan rumahku terbuka. Kupikir Mama sudah pulang. Namun setelah beberapa menit menunggu, tak kunjung ada suara pintu gerbang kembali tertutup. Mungkin karena di luar hujan deras jadi pintunya belum sempat ditutup lagi, pikirku. Karena penasaran tak ada suara mobil, aku melangkah menuju jendela kamar dan menyibakkan gorden.

Ternyata benar, gerbangnya masih dibiarkan terbuka dan … ada sosok yang berdiri tepat di ambang pintu gerbang. Menatapku penuh penyesalan dari sana.

“Gilang?”

Aku terpaku menatap tubuhnya yang diguyur hujan itu tanpa berniat sedikit pun untuk berlari turun lalu menghambur ke pelukannya. Hidupku bukan sinetron atau cerita-cerita manis di FTV. Tentu saja tak mudah bagiku memaafkannya karena kejadian tiga hari yang lalu. Bukan, dia bukan pacarku atau calon pacarku. Bahkan mungkin sampai ajal menjemput pun Tuhan takkan menuliskan takdir bahwa kami akan dipersatukan.

Kulihat dia menundukkan wajahnya lalu berjalan ke arah beranda. Saat itulah aku yakin bahwa aku harus turun dan menghampirinya. Iya, turun dan meminta penjelasan tentang tiga hari yang lalu

***

Aku berdiri di ambang pintu, menggenggam erat gagang pintu yang tiba-tiba terasa dingin. Tersisa jarak dua meter dan tiga buah anak tangga antara aku dan Gilang —yang sekarang berdiri di hadapanku.

“Kamu… masih di sini?” tanyanya.

Aku terdiam kemudian menjawab pelan, “Iya.”

Memang seharusnya di hari Minggu hujan seperti ini aku di mana? gerutuku dalam hati.

Keheningan mulai menjalari waktu. Kami mematung dan saling bertatapan. Sumpah aku takkan pernah jemu memandangi tubuh kekarnya seharian kalau saja hatiku tidak sedang meminta penjelasan!

“Andrea,” suara baritonnya kini terdengar pilu. “Waktunya pulang.”

Aku menelan ludah. Bibirku mengatup. Kurasakan rahangku mengeras. Kalimat itu…

”Pulang?”

Dia mengangguk kaku. Terlihat guratan kesedihan di wajahnya yang biasanya ceria. Dia mengulangnya, “sudah waktunya pulang, Andrea.”

“Tunggu! Apa maksudmu? Ini rumahku. Pulang? Ke mana? Jangan tiba-tiba menyerangku dengan kata-kata itu!”

Sekarang berbalik, dia yang bungkam. Berusaha terlihat setegar mungkin. Ia menunduk dengan tatapannya kosong. Ada apa ini?

“Sekarang jelaskan padaku kenapa kamu nggak datang tiga hari yang lalu!”

“Ikut aku!” katanya setelah lama bertahan dalam diam.

***

Tiga hari yang lalu…

Cermin rias di hadapanku memantulkan senyumku yang mengembang. Sore ini, aku mengenakan dress berwarna putih dengan motif garis dan hiasan bunga berwarna cokelat. Selama beberapa menit mematut diri di depan cermin sembari memegang kue tart berdiameter 16 senti.

“Manis! Kamis selalu manis. Kamis manis!” seruku. “Sekarang, waktunya berangkat.”

Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk tiba di taman tak jauh dari kompleks perumahanku. Seperti biasanya, taman tampak ramai hanya dengan beberapa komunitas yang akan bubar sekitar pukul empat sore. Kulirik arlojiku.

“Hmm… sekarang hampir jam setengah empat. Gilang di mana ya? Nggak biasanya… ”

Kuputuskan untuk menunggu di bangku taman yang biasa kami duduki —bangku tengah yang menghadap ke persimpangan jalan. Berharap Gilang datang secepatnya.

Tiba-tiba ponselku berdering. Sejenak kutatap layarnya. Awalnya kukira Gilang, namun nama yang terpampang di sana ternyata… Mama

“Halo?”

“Halo. Ada apa, Ma?”

“Mama mau pergi dulu ya, hari Minggu baru pulang ke rumah.”

“…”

Biasanya Mama tak pernah memberi kabar kalau ingin pergi kapan pun dan ke mana pun.

“Ke mana, Ma?” akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibirku.

“…”

     Kini berbalik, Mama diam. Untuk beberapa detik yang lama, akhirnya Mama menjawab. “Kakakmu akan menikah lusa. Mama harus mendampinginya.”

“Kakak?” seketika lidahku kelu. Aku anak tunggal! sergahku dalam hati.

“Namanya Rama. Dia anak dari suami pertama Mama.”

Klik! sambungan telepon diputus.

Hatiku semakin tak keruan. Bisa-bisanya selama ini mama menyembunyikan rahasia dariku! Padahal sudah sepuluh tahun ini kami hanya hidup berdua.

Harusnya Gilang ada di sini mendengarkan semuanya. Pandanganku menjamah ke sekeliling. Nihil.

Cukup. Ini sudah lewat dari jam setengah lima. Harusnya, aku dan Gilang bertemu setiap hari Kamis sore jam tiga hingga jam lima di sela kesibukannya. Namun hingga kerumunan orang-orang di sekitaran taman mulai sepi, tetap sosok Gilang tak muncul.

Baiklah, aku menyerah kalau seperti ini. Egois memang, karena nyatanya tak pernah selama ini seorang Gilang membiarkanku menunggu semenit pun.

Aku berdiri sembari tetap memegang kue tart yang kubawa dari rumah. Tak ada keinginan untuk membawanya pulang. Dengan senyum miris dan tatapan nanar aku malah berbicara pada benda mati itu seakan itu Gilang.

“Di mana pun kamu sekarang, aku harap kamu ingat kalau hari ini, tanggal 6 Februari yang ke-15 untuk persahabatan kita. Ini aku bikin kue tart untuk kamu. Seluruh lapisan luarnya dari cokelat warna biru, warna kesukaan kamu dan rasa favoritku.”

“Hmm… wanita yang sedang menempati ruang tersembunyi di dasar hatimu itu —yang aku harap dia adalah aku— nyatanya bukan aku, ‘kan? Miris.”

Aku menghela napas, “Awalnya aku ingin mengungkapkan semua ini di sini, sekarang, di hadapanmu. Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain. Mungkin kamu nggak akan pernah tahu kalau harapanku mulai melambung sejak tiga tahun yang lalu kamu memberiku asap harapan yang membubung tinggi, ternyata cuma asap, ‘kan? Aku memilih mundur dari ketidakjelasan ini, Lang. Di matamu aku seperti bayangan.”

“Sebenarnya tak pernah ada kata usai untuk menunggu cinta, Lang. Tapi ada kalanya ia jemu dan menyerah….”

***

Lidahku terlalu kelu untuk mengungkapkan semuanya di sini. Bukan aku tak mau menjawab pertanyaannya. Tapi aku hanya mampu membiarkan dia mengikutiku dan menyadari yang semestinya dia sadari, “Ikut aku!”

Awalnya kulihat dia bergeming. Tetap berdiri di ambang pintu menatapku ragu. Beberapa menit kemudian dia berbalik.

Sejujurnya aku takut dia akan berlari masuk kembali ke kamar. Namun nyatanya, dia masuk hanya untuk mengambil kunci rumahnya. Sejenak kembali meragu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tak ada yang mungkin bisa kulakukan selain meyakinkannya, “Ayo! Kujelaskan semuanya….”

Kemudian dia menyejajarkan langkahnya denganku. Mempercayakanku bahwa semua tanda tanya dalam benaknya akan terbayar lunas. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku atau pun Andrea, hingga kami tiba di tempat yang seharusnya menjadi pertemuan terakhir kami. Taman.

“Kamu ingat sesuatu yang terjadi di sini?” tanyaku.

“Aku hapal mati setiap pertemuan kita, termasuk taman ini.” jawab Andrea mantap.

“Kalau begitu, kamu pasti tahu apa yang terjadi di sana tiga hari yang lalu.” aku menunjuk ke persimpangan jalan bergaris polisi yang berjarak beberapa meter dari tempat kami berada.

“Tiga hari yang lalu tak ada garis polisi di sana.”

“Kalau begitu, tak ada pilihan lain selain membawamu kepada kenyataan, Drea. Tunggu, akan kutunjukkan sesuatu.”

Kali ini aku mengambil mobilku yang terparkir di sebelah kanan taman. Tanpa harus membuat Andrea menunggu lama, aku langsung menyuruhnya masuk ke dalam mobil.

Kemudian suasana kembali hening. Hanya deru mobil yang menghiasi perjalanan kami yang tak lama jika ditempuh dengan mobil, cukup sepuluh menit.

Namun tiba-tiba saja aku kaget saat tangan dingin itu menyentuhku…

“Untuk apa kamu membawaku ke rumah nenek, Lang?” tanya Andrea memecah keheningan saat kami tiba di sebuah rumah dengan halaman yang luas.

“Kita turun sekarang!” perintaku.

Agaknya dia ragu menurutiku. Namun tidak setelah dia melihat bendera kuning berkibar di salah satu tiang penyangga rumah itu. Dia tergesa turun dan setengah berlari menuju tiang itu.

“Lang! Siapa yang ….” kubekap mulutnya.

“Ssstt! Ikuti langkahku.”

Dia menurut dan melangkah di belakangku. Aku tergesa melangkah ke halaman samping. Sekarang saatnya, batinku.

“Andrea, lihat dan baca baik-baik!”

***

Andrea Febriyati

binti

Doni Mulyana

Lahir  : 2 April 1989

Wafat : 6 Februari 2014

Rasanya mustahil! Namaku tertulis di batu nisan sebuah  pusara yang gundukan tanah merah dan berbagai bunga di atasnya masih segar!

“TIDAAAKKK!!!” Aku mulai histeris. Kurasakan tubuhku limbung. Terlebih ketika melihat sosok wanita yang teramat aku cintai di dunia ini berjalan ke arah kami.

“Rama, kenapa kamu masih di sini? Biarkan adikmu tenang, Nak. Mama juga takkan pernah rela dia pergi mendahului kita.”

“Rama? Adik? Mama?” aku tertegun memandang Gilang di hadapanku. Aku mencoba berteriak, “MAMA!”

“Kau takkan membantah Mama, ‘kan, Gilang Nur Ramadhan? Ayo, masuk!”

***

[RESENSI BUKU] 70 SELECTED POEMS “MANTRA ASMARA”

foto1251

Penulis             : Usman Arrumy (@usmanarrumy)

Penerbit           : Hasfa Publishing (@HasfaPublishing)

Penyunting       : Dian Nafi (@ummihasfa)

Desain sampul : Muhammad Hidayatullah

Produser          : Adi Sutanto

Tata letak         : Ahmed Ghoseen A.

Tahun Terbit    : April 2014

Tebal                : viii + 138 hlm; 13 x 19 cm

ISBN                 : 978-602-7693-10-4

Rating               : 4 dari 5 bintang

Kali ini, mari kita ulas mengenai buku yang berjudul Mantra Asmara.

Buku ini adalah kumpulan dari 70 puisi terpilih (70 selected poems) dari seorang penyair puisi yang bernama Usman Arrumy. Sejujurnya ini kali pertama aku membaca buku kumpulan puisi. Karena sebelumnya aku hanya membaca novel (buku fiksi), aku memerlukan tenaga ekstra untuk tenggelam dalam kata-kata di buku ini.

Covernya yang bergambar wayang *aku nggak tau wayang apa namanya -_-* memiliki keunikan tersendiri. Mungkin bagi pecinta seni akan ada daya tarik tersendiri ketika melihat covernya. Tapi kalau buat aku sih satu kata buat desain covernya… “unik”.

Walau pun di kalimat sebelumnya aku bilang kalau ‘memerlukan tenaga ekstra untuk tenggelam dalam kata-katanya’ itu sebenernya sih ngga seratus persen bener. Sebagian besar puisi yang ditulis dengan kata-kata atau bahasa yang ringan itu mudah dipahami dan mudah meresap hingga ke hati (menurut versi orang awam kayak aku). Mantranya (*eh puisinya) benar-benar membuat pembaca bisa menjadi ‘perasa’ dalam berbagai ‘bentuk’ yang dijadikan subjek ‘aku’ di tiap puisi. Intinya hanya beberapa puisi yang aku rasa bener-bener buta alias nggak ngerti seperti puisi yang berjudul Dendam Kamasutra, Kidung Dewa Kama. Karena sejujurnya aku kudet alias kurang apdet soal pewayangan. 😦

70 puisi di buku ini disajikan berurutan berdasarkan abjad. Dan kamu akan menemukan judul yang diawali abjad dari A hingga Z kecuali J, Q, U, V, W, X. Oh iya, judul-judulnya unik. 😀

Aku paling suka puisi ke-9 yang berjudul Dari Ujung Jalan. Ada beberapa penggalan baris atau bait puisi yang aku suka di buku ini:

  • Sebagaimana cinta, kau muara dari semua pengembara

Mengada di seluruh tempat yang tak terindra oleh mata – Ayat Cinta hlm.11

  • mungkin masih ragu menetapkan aku sebagai rindu

tapi siapa yang sebenarnya menunggu, kau atau aku

berangsul soal muncul; kita seteru atau sekutu?

….

Dan di pangkal jalan ini, akhirnya kita bertemu

sudah itu pisah lalu lekas jadi masa lalu – Dari Ujung Jalan hlm. 17-19

  • Yang disebut jarak

adalah segala yang bikin retak

Alangkah musykil jantung berdetak

Jika sehela saja tanpa gejolak kehendak – Lambang Cinta hlm.52

  • Rindu ini begitu jelita

Bahkan ketika mengubah diri jadi airmata – Rindu Purba hlm. 97

  • Atas nama airmata yang leleh demi cinta

atau jiwa yang melata karena menanggung mala

izinkan aku berlutut di haribaanmu dan bertanya:

di hadapanmu, Siapa aku ini sebenarnya? – Sinkope Kenangan hlm. 117

selebihnya buku ini jadi pelajaran tentang puisi buat aku. Dengan mengusung tema “Cinta”, penyair benar-benar bisa menggambarkan berbagai bentuk ‘cinta’ kepada pembaca. Hingga ‘kedalaman’ cinta yang disajikan membuat pembaca menelisik lagi ke dalam hati masing-masing tentang makna ‘cinta’. 🙂

Menurutku buku ini memiliki kekurangan dalam penyajian isi bukunya. Tata letaknya atau desainnya membuat pembaca cepat bosan dengan halaman yang polos begitu. Oh iya, di tiap judul juga nggak ada nomer puisinya. Ada baiknya di samping tulisan nomor halaman, dicantumkan nomer dan nama puisi. Soalnya puisinya kan sampe 70 judul gitu. :Dv *peace hehe

Hmm… Buku puisi aku ini cetakan halaman 45-46nya ada dua kali loh.. *eh isi di luar tanggung jawab percetakan yah? Maap..*

Akhir kata,  aku mau berterima kasih buat Mbak Dian Nafi yang udah ngasih aku kesempatan menangin #kuisDN dan ngasih buku ini, sehingga aku bener-bener bisa kenal sama dunia puisi. Sukses terus! Aku pengen produktif kayak mbak.. 🙂 :*

Terima kasih juga kepada penyair puisi ini, Mas Usman Arrumy yang udah nulis buku keren ini. Maapin aku yang kudet sama dunia puisi yaaaa… sukses terus! 😀