Mari #MembacaLuka

20170530_155259.jpg

Identitas buku

Judul                                  : Luka Dalam Bara

Penulis                                : Bernard Batubara

Ilustrasi sampul dan isi : @alvinxki

Penyunting                       : Teguh Afandi

Penerbit                            : Noura Publishing

Terbit                                 : Maret, 2017

ISBN                                   : 978-602-385-232-1

Blurb

Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia menjadi rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.

Review

Apakah kamu pernah terluka?

Apakah luka itu cukup dalam dan membekas hingga tak lekas jua kenangan itu lepas?

Mungkin kau pernah terluka, aku juga.

Mungkin kau pernah berusaha rela, tapi tangis itu tak kunjung reda. Aku juga.

Pernahkah kau mencoba menerka, jika semua itu terjadi karena kita pernah berjumpa dengannya?

VP3

Luka dalam Bara.

Kali pertama Bang Bara memposting kover buku ini di twitter, aku tersenyum sendiri. Manis, pikirku. Setelah kusadari, ternyata aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan buku ini. Namun ada perasaan ganjil yang membuatku semakin tertarik dengan buku ini. Makna yang kutangkap dari ilustrasi itu mampu membuatku patah hati seketika itu juga. Berbagi cinta. Seorang kekasih yang berbagi cinta. Lantas bagaimana bisa terluka?

Aku memang belum pernah ikut pre-order sebuah buku. Tapi berkat kover tersebut dan blurbnya entah mengapa rasanya ada magnet yang memaksaku untuk ‘gue harus punya!’ dan akhirnya ikutlah PO buku ini.

Alasannya tak lain karena kover yang manis, mampu membuat jatuh hati dan sekaligus patah hati, dan ternyata kover bukunya itu hardcover! Wah! Makin menggemaskan! Judul tulisan yang dicetak timbul seolah menyampaikan guratan luka. Blurb yang ternyata penggalan salah satu fragmen membuatku berpikir “cinta hanya butuh alasan sederhana”.

Aku nggak pernah bosan membaca kembali fragmen demi fragmen meskipun sudah membaca buku fisiknya, karena sensasinya tetap sama: aku terluka. Hal yang sederhana tapi terkadang terlalu berat untuk diakui.

Luka Dalam Bara berisi kumpulan fragmen di dalam buku setebal 108 halaman. Tiap fragmennya punya rasa tersendiri. Padat. Manis. Mampu membuat hatiku meleleh. Diksinya juga cukup, tidak berlebihan. Tulisannya juga jujur dari hati, sehingga sampai juga di hati pembacanya. Yang paling penting, fragmen-fragmen ini memang layak dibukukan.
Ditambah ilustrasi Kak Alvin lucu banget! Aku suka! 😍

Buku ini diawali dengan pembuka:

Mereka bilang aku penulis, aku bisa menulis tentang apa saja.

Mereka tidak tahu, aku menyimpan lebih banyak kata dari yang bisa aku tuliskan.

Aku hanyut pada kata-kata yang ada. Bang Bara mampu menuliskan kenangan dan menyampaikannya dengan hati lalu membiarkan para pembacanya tenggelam.
Ah, ketika tiba di sebuah fragmen berjudul “Mencintai Topeng Seseorang” dan “Rindu” , pertahananku runtuh.

“Bagiku, mencintai seseorang berarti mencintai seluruh topeng yang ia kenakan, memahami alasan-alasan di balik setiap topeng yang ia miliki, dan bersabar dalam waktu yang cukup hingga ia memperlihatkan wajah aslinya.”-hlm.61 (fragmen “Mencintai Topeng Seseorang”)

Setelah kehilangan, aku baru menyadari bahwa aku pernah mencintai topeng seseorang. Menikmati detik demi detik mengikuti alur takdir apakah seseorang itu akan mempercayaiku untuk memperlihatkan wajah aslinya. Yes, he did! Setelah beberapa waktu, dia percaya. Dia memperlihatkannya. Samar. Begitu terus hingga aku terbiasa. Fragmen ini cukup menghancurkan pertahananku yang berhenti mengingat seseorang, aku mengingatnya lagi. Tepat di akhir fragmen itu, dihitungan ketiga, yang aku tahu aku sedang menahan napas. Aku tersadar dia telah lama pergi. Hingga kini aku tak tahu topeng apa yang dia kenakan saat bersamaku. Entah topeng apa yang dia kenakan saat Pertemuan pertama kami.

Jika ditanya, “apakah aku rindu?”. Aku lelah menjawabnya. Sebab dulu berulang kali kuucapkan hingga kebas rasanya. Itu dulu. Namun kali ini aku mengalah, Bang Bara benar:

“Maka, tidak selamanya pula rindu harus memiliki tujuan. Sebab, sekali waktu kita akan merasa bahwa rindu yang paling hakiki adalah rindu terhadap rindu itu sendiri”-hlm.74 (fragmen “Rindu”)

Postingan ini berani hadir berkat ada Reading Challenge iJakarta x Noura Publishing dalam rangka #MembacaLuka. Karena sedikitnya ada curahan hati yang tak mampu kuungkapkan kecuali lewat tulisan. Dan berkat iJakarta pula aku bisa #MembacaLuka tanpa harus menenteng buku kesayanganku ini keluar rumah. Tapi memang dasar pembaca iJakarta dan Penerbit Noura itu ajaib banget, baru mau pinjem buku, tiba-tiba udah waiting list aja. Hey, Bang Bara! Bukumu manis banget ini dikerumunin, sampai kemarin itu aku nunggu kayak nunggu jodoh. 😄 But, overall aplikasi iJakarta ini membantu banget karena aku nggak perlu repot bawa buku.

2017-05-29-19-28-06
Tampilan buku Luka Dalam Bara di aplikasi iJakarta. (waiting listnya numpuk 😨)

Untuk Bang Bara, terima kasih telah berusaha memeluk luka bersama, mengkristalkan kenangan dan menyemangati untuk mari bersama-sama jatuh cinta kembali. ❤
Untuk Noura, terima kasih telah mewujudkan fragmen ini dalam bentuk buku yang indah. 😘
Untuk iJakarta, terima kasih atas segala kemudahan yang diberikan 😘

Tulisan ini diikutsertakan dalam Reading Challenge Luka Dalam Bara #MembacaLuka kerja sama iJakarta dan Noura Publishing.
Oiya, dipersembahkan juga untuk kamu (yang mungkin sulit meluangkan waktu untuk sekadar membaca tulisan ini ☺)

With love,

DSD

Iklan

[one of] My Wishlist

Hai!

Semoga postingan kali ini (yang bener-bener mepet deadline) masih bisa diterima oleh si empunya competition ya 🙂

Kalau dipostingan sebelumnya sempet membahas tentang Perencanaan Keuangan itu sebenernya NGGAK ribet, kali ini masih mau menyinggung topik tersebut tapi dalam bentuk curhatan.

Here we go!

Singkat cerita, sebenernya aku telat banget tahu kalau ternyata Kak Farah Dini Novita itu (udah) lauching buku FinChickUp 2 di acara JANUS X JENIUS Money Brunch: Book Launching Party. Acaranya didukung oleh @janus.id @jeniusconnect @talktophillip @goodiesid @investorsahampemula @bliblidotcom @womanobsession @jakpostlife dan yang pastinya didukung sama penerbit kesayangan yang kece badai: @bentangpustaka 😀

Haduuh.. serius deh. Kalau tahu Kak Dini mau ngelauching bukunya tanggal 10 Desember kemarin, aku bakal usahain banget gimana caranya supaya bisa diundang dateng. :’) Tapi sayangnya, yang lalu biarlah berlalu~ Pasti masih ada kesempatan untuk bisa dapat ilmu dari Kak Dini.

Kenapa sih kok aku pengin banget dateng ke acara itu?

Duh, siapa sih yang gak pengin dateng ke acara yang WOW banget kayak gitu!!

Pertama, bisa ketemu author-nya FinChickUp (yang pasti bisa book signing!!).

Kedua, acaranya pasti keren dan bermanfaat banget untuk bekal pengelolaan keuangan kita!

Bisa berbincang langsung dengan Financial Adviser itu seperti ketemu artis buat aku. Aku punya impian juga untuk bisa kayak mereka yang bisa berbagi dengan yang lain. 🙂 Kalau punya kesempatan belajar real life dari mereka itu anugerah banget! Contohnya aja bisa belajar dari bukunya kak Dini yang berjudul FinChickUp dan FinChickUp 2. Case yang diangkat lewat buku tersebut tuh real life banget!

Jujur aja, blogpost-ku sebelumnya memang ‘apa banget’ sih… Ilmunya masih dangkal banget.. Dan sebenarnya itu bener-bener ilmu yang teks book banget. Nggak salah sebenarnya karena buku acuanku saat posting itu tuh the one and only buku perencanaan keuangan yang aku punya. Tapi sekarang aku jadi mikir ulang, “Iya perencanaannya sih gampang kalau cuma baca, tapi ngejalaninnya gimana ya?”

Wah puyeng kalau sudah mikir begitu…

Setuju banget sama tagline Janus ID “A Walk The Talk”. Mereka hadir sebagai Financial Adviser yang istilahnya mungkin bisa dibilang membantu ‘mengawal’ rencana keuangan.

Kalau dalam kasus pribadiku yang masih single dengan pendapatan uang jajan dan usaha sambilan yang nominalnya tidak tetap, mikirnya jadi “Gimana cara mulai merencanakan keuangannya kalau gini nih? Hmm.”

Prinsipnya masih tetep sama sebenernya, Perencanaan Keuangan itu nggak ribet. Tapi masih banyak yang belum tahu bagaimana memulai dan bagaimana mencapai financial freedom.

Demi mengatasi masalah keuangan pribadiku itu, aku merasa butuh buku FinChickUp 2 supaya ada gambaran yang lebih mudah dalam pola pikir orang yang masih newbie sepertiku. Juga seperti, apa yang harus diprioritaskan kalau misalnya dengan pendapatan terbatas tapi ingin menabung dan punya investasi? Intinya ingin mulai @sikapiuangmu dengan bijak sih 🙂

Good luck selalu ya Kak Dini dan Janus ID juga Bentang Pustaka 😉

 #janusxjeniustalk #JanusinAja #jeniustalk #saatnyainvestasi 

banner

Perencanaan Keuangan? Ah, (nggak) ribet!

invest-financial-planning-icon
sumber : google.com

Kabarnya, hanya segelintir orang di Indonesia yang #MelekFinansial, padahal jumlah keseluruhan penduduk Indonesia mencapai 250 juta orang. Sisanya? Masih #MeremFinansial *eh maksudnya buta soal hal-hal yang berbau keuangan.

Pasti di antara kita banyak yang berpikiran bahwa perencanaan keuangan itu ribet. Sama, awalnya saya juga begitu. Dulu nggak kepikiran kalau keuangan harus direncanakan sedemikian rupa supaya kalau sudah tua tinggal duduk nyaman menikmati hidup. Masing-masing dari kita pasti sebenarnya tahu bahwa perencanaan keuangan itu penting, bok ya mindsetnya masih kepikiran tentang ribetlah, nggak bisa bebas menikmati hidup, terlalu kaku atau bahkan merasa terkekang dengan adanya perencanaan keuangan. Intinya merasa nggak bisa ini-itu, padahal sudah merasa lelah bekerja mencari uang (bagi yang sudah bekerja).

Namun tiba-tiba saya (baru saja) sadar, ketika kuliah di semester 5 ini ada mata kuliah yang membahas tentang Personal Finance[1]. Pada buku tersebut hal pertama dan utama (pada Chapter 1) ternyata berjudul “Planning Your Personal Finances”. Wah, ternyata selama ini, kita (terutama saya) luput tentang hal yang penting bahwa keuangan harus direncanakan dan dikelola dengan baik agar tujuan keuangan bisa tercapai.

Beberapa hal mungkin kita sepelekan, misalnya saja membuat daftar belanja dan tak bisa (atau tak peduli) membedakan manakah yang kebutuhan dan mana yang hanya keinginan saja.

(Pengen) terlihat kaya, tapi nyatanya banyak utang? Waduh, gawat! Lebih baik Yuk, Atur Uangmu!

Beberapa waktu lalu salah seorang dosen saya mengatakan bahwa seringnya kita mengukur kekayaan seseorang hanya dengan apa yang terlihat. Bener nggak sih? Bener (banget) juga sih! 😀 Biasanya kita iri lihat si A ‘kaya raya’ karena berpenghasilan sekian puluh juta atau ratusan juta plus punya rumah di perumahan mewah dan punya mobil banyak.

Terus masalahnya apa? Masalahnya adalah: sebenernya si A kaya raya seperti yang kita pikirkan nggak sih? Mungkin ada yang bertanya-tanya, “ngapain sih repot-repot mikirin si A?” Eitts, tunggu dulu! Manusia itu punya kecenderungan untuk membandingkan sesuatu lho! Ingat nggak “rumput di halaman rumah tetangga selalu lebih subur dan hijau dari rumput di halaman rumah sendiri”? Yaps! Here we go!

Sebenarnya, kekayaan bersih (Net Worth) atau juga sering disebut kesejahteraan itu diukur sebagai berikut[2] :

Net.jpg

Net worth (kekayaan bersih) = Items of value (apa yang kamu miliki/harta) – Amounts owed (apa yang menjadi kewajiban/utang)

Mungkin saja si A memiliki banyak harta (rumah dan kendaraan mewah), tapi kita tak pernah tahu kan seberapa besar utang yang dimilikinya? Kalau ternyata rumah dan kendaraan mewah tadi masih berstatus ngutang? Hmm… >_<

Tapi ‘kan penghasilannya besar? Iya, penghasilannya besar tapi kemana saja larinya penghasilan yang besar itu? Jangan-jangan lebih besar pasak daripada tiang? Kalau penghasilannya ternyata hanya untuk konsumtif dan bayar utang saja gimana? Terus proteksi dan pengembangan aset agar produktif gimana? Nah, untuk itulah diperlukan perencanaan keuangan. Yuk, Atur Uangmu! 🙂

Kan sekarang saya belum berpenghasilan, ngapain mikirin kayak gini? Justru selagi masih muda dan belum berpenghasilan, kita bisa mulai membuat sketsa bagaimana nantinya keuangan kita supaya mimpi kita tercapai dan nggak terjerumus ke dalam gaya hidup hedonis. Untuk yang sudah berpenghasilan, perencanaan keuangan itu penting banget lho sebab pastinya masing-masing dari kita punya mimpi dan tujuan yang diharapkan dapat terwujud. Masa rasanya sudah capek-capek kerja kok nggak kesampean juga ya? 🙂

Nah, gimana langkah-langkah menyusun Rencana Keuangan?

Menurut buku Personal Finance, langkah menyusun Rencana Keuangan seperti ini:

financial_planning-process.jpg

  • Langkah pertama : Determine current financial situation

Kita harus tahu di mana posisi kita sekarang. Maksudnya, kita menetapkan apa saja yang menjadi aset (harta) kita dan apa saja kewajiban (utang) kita, sehingga bisa diketahui Net Worth (kekayaan bersih) yang kita miliki. Perhitungan sederhananya bisa seperti rumus mencari Net Worth di atas, namun alangkah lebih baiknya membuat Neraca atau daftar kekayaan dan utang yang dimiliki.

Nah, ada satu hal lagi yang harus diperhatikan nih! Memperhatikan laju arus kas (cash flow). Apa sih itu? Itu lho, seperti si A tadi, kita harus mengetahui kemana saja larinya penghasilan kita. Kalau bisa, jangan sampai arus kas kita lebih besar pengeluaran dibanding pendapatan 🙂

  • Langkah kedua : Develop your financial goals

Setiap orang memiliki impian dan tujuan hidup yang membutuhkan dukungan keuangan. Di sini kita harus menganalisa prioritas tujuan tersebut. Mulai bedakan yang mana kebutuhan dan keinginan. Jangan lupakan tentang adanya resiko ketidakpastian yang akan mengganggu tercapainya tujuan!

  • Langkah ketiga : Identify alternative courses of action

Pilih langkah alternatif untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Misalnya dengan menabung setiap bulan dengan jumlah yang sama, atau karena demi tercapainya tujuan maka diputuskan untuk berinvestasi di instrumen keuangan lain selain tabungan.

  • Langkah keempat : Evaluate alternative

Tahap ini adalah tahap evaluasi atas alternatif yang ditetapkan akan digunakan dalam mencapai tujuan. Di sini kita menilai konsekuensi atas pilihan instrumen yang akan digunakan dan mempertimbangkan resiko yang ada. Misalnya resiko inflasi, tingkat suku bunga, resiko yang mungkin terjadi pada penghasilan (PHK), resiko yang mungkin terjadi pada diri sendiri (kesehatan), maupun resiko likuiditas.

  • Langkah kelima : Create and implement your financial action plan

Buat dan terapkan rencana keuangan yang telah ditetapkan. Misalnya, kita memiliki tujuan untuk memiliki rumah senilai 250 juta dalam jangka waktu 10 tahun. Hal ini berarti setiap tahunnya kita harus menyimpan 25 juta. Bagaimana caranya? Bisa saja dengan menekan pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu sehingga setidaknya kita harus bisa menabung minimal 2,1 juta sebulan. ACTION!

  • Langkah keenam : Review and revise the financial plan

Perencanaan keuangan adalah proses yang dinamis dan dapat berubah. Kita harus terus meninjau perkembangan dari langkah yang kita lakukan demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Banyak faktor yang tidak kita inginkan ternyata menghambat tercapainya tujuan.

Wah, sekarang udah tahu dong ya tentang Perencanaan Keuangan! 🙂 Tapi tunggu dulu.. untuk menjalankan rencana keuangan membutuhkan kedisiplinan dan di samping itu juga dibutuhkan proteksi. Lho, proteksi? Buat apa? Di langkah keempat tentang evaluasi atas alternatif yang  ditetapkan, ternyata banyak sekali resiko yang mungkin terjadi, untuk itu diperlukan proteksi agar dampak dari resiko dapat diminimalisir.

Salah satu dosen saya pernah menjelaskan cara mudah mengenali resiko, yaitu sesuatu yang tidak diharapkan dan berpotensi menimbulkan kerugian sehingga tidak tercapainya tujuan yang diharapkan.

Nah, gimana cara proteksinya? Caranya adalah dengan berasuransi! 😉

Kenapa sih harus asuransi? Karena dengan adanya asuransi, setidaknya kita sudah berusaha menjaga rencana keuangan yang kita buat agar tetap bisa mencapai tujuan yang diharapkan meskipun terjadi resiko-resiko yang tidak diinginkan.

664xauto-asuransi-murah-berpremi-rp-50-ribu-meluncur-bulan-depan-140516f
sumber : google.com

Secara sederhana, asuransi adalah upaya mengalihkan kerugian ekonomi dari resiko yang mungkin terjadi ke perusahaan asuransi [3]. Dalam asuransi dikenal istilah tertanggung dan penanggung. Apa bedanya? Tertanggung adalah pihak yang berpotensi memiliki resiko dan menyalurkan resiko. Sedangkan Penanggung adalah pihak yang menerima resiko. Pengalihan kerugian ekonomi dari resiko ini legal dengan adanya perjanjian antara tertanggung dengan penanggung yang akrab dikenal dengan Polis Asuransi. Nah, dengan pemindahan atau pengalihan kerugian ekonomi dari resiko inilah yang menyebabkan adanya biaya yang disebut Premi. Premi ini yang dibayar secara berkala dari pihak tertanggung kepada penanggung.

Menurut Prita Ghozie dalam kultweetnya di @PritaGhozie : Apabila terjadi risiko kematian pada nama tertanggung, maka klaim tunai akan cair dan diberikan kepada ahli waris. Jadi, nama tertanggung bukan penikmat klaim tunai asuransi.

Dalam buku Make Your Own Plan! dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis asuransi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut:

  1. Asuransi Jiwa

Asuransi jiwa dimaksudkan untuk mengkaver keberlangsungan hidup apabila si tertanggung yang merupakan pencari nafkah meninggal.

  1. Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan dimaksudkan untuk melindungi kesehatan pribadi maupun keluarga.

  1. Asuransi Kendaraan Bermotor

Asuransi kendaraan bermotor dimaksudkan untuk melindungi resiko kerusakan yang mungkin terjadi atas kendaraan bermotor yang kita miliki.

  1. Asuransi Kerugian Terhadap Rumah Tinggal

Asuransi ini bertujuan untuk melindungi nilai ekonomi aset properti yang dimiliki dari kebakaran, kecurian, banjir dan gempa bumi.

Pada dasarnya asuransi terbagi dua jenis, yaitu :

  1. Asuransi Jiwa Tradisional
  2. Asuransi Jiwa Modern : Unit Link

Asuransi Jiwa Tradisional terbagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Asuransi Jiwa Berjangka (Term Life Berjangka)
  2. Asuransi Jiwa Whole Life (Seumur Hidup)
  3. Asuransi Dwiguna

Sedangkan Asuransi Jiwa Modern : Unit Link merupakan produk gabungan antara asuransi dan investasi.

Setelah mengetahui jenis-jenis asuransi, mari kita kenali salah satu Penanggung yang merupakan Perusahaan Asuransi terkemuka di Indonesia 🙂 siapa tuh? Pasti pernah dengar Sinarmas MSIG Life dong!

Sinarmas MSIG Life adalah anak perusahaan PT Sinar Mas Multiartha Tbk satu dari enam pilar bisnis Sinar Mas yang menyediakan layanan finansial yang terpadu dan menyeluruh. Akhir tahun 2015, Sinarmas MSIG Life tercatat sebagai 10 besar perusahaan dengan aset terbesar di industri asuransi jiwa, yaitu senilai Rp 15,65 triliun. Total pendapatan premi tercatat senilai Rp 6,59 triliun dengan Angka Risk Based Capital (RBC) yang tetap tinggi, yaitu 466,46% untuk konvensional dan 53,87% untuk syariah. Untuk memperkuat 108 kantor pemasaran yang tersebar di seluruh Indonesia dalam melayani lebih dari 1,2 juta nasabah individu dan kelompok, Sinarmas MSIG Life hadir di kantor manajemen baru di Sinarmas MSIG Tower di area perkantoran Jl. Jendral Sudirman Jakarta.

Oh ya, yang paling penting Sinarmas MSIG Life ini sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lho!

Untuk kenal lebih dekat, langsung aja pergi ke corporate websitenya di www.sinarmasmsiglife.co.id 🙂

Websitenya informatif banget lho! Untuk orang awam seperti saya, di menu Home terdapat sidebar menu Solusi Produk Tahapan Kehidupan. 🙂 berhubung saya masih Lajang *ehem* maka saya pilih Tahapan Kehidupan Lajang seperti gambar berikut :

1
Tampilan pada sidebar menu Solusi Produk Tahapan Kehidupan

Maka akan muncul tampilan seperti ini :

3.jpg
Tampilan pada Tahapan Kehidupan Lajang

Kita dapat memilih berbagai produk asuransi sesuai jenis asuransi pada tahapan kehidupan Lajang. Jenis yang tersedia yakni Saving & Investment, Life & Protection, Health, dan Riders. Oh iya, ada Riders di sana. Riders itu apa sih? Riders adalah perluasan jaminan atau asuransi tambahan atas asuransi yang diambil.

Selain itu ada menu lain selain Solusi Produk Tahapan Kehidupan, yakni Kalkulator Finansial. Terdapat tiga kalkulator finansial seperti berikut :

4.jpg

Kalkulator Finansial Pensiun ini digunakan dalam menghitung dana yang dibutuhkan untuk menghadapi masa pensiun.

Yang kedua adalah Kalkulator Finansial Edukasi :

7

Ada pula Kalkulator Proteksi Penghasilan untuk mencari tahu berapa jumlah proteksi penghasilan yang butuhkan untuk keluarga tercinta, apabila terjadi resiko pada Anda, sebagai sumber penghasilan keluarga.

5

Jika pada menu kita memilih menu Produk, kita bisa memilih Produk Individu, Produk Bank atau Produk Kumpulan. Misalnya kita memilih Produk individu maka akan muncul tampilan seperti ini:

6

Tersaji pilihan Asuransi Dasar Tradisional, Asuransi Unit Link dan Asuransi Syariah 🙂

Di samping asuransi, yang harus kita lakukan adalah Membentuk Dana Darurat dan Investasi. Dana Darurat digunakan untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga. Sedangkan investasi digunakan untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan dengan menjadikan dana yang kita kumpulkan lebih produktif.

Jadi, tunggu apalagi? Yuk, Atur Uangmu dari sekarang dan jangan lupa proteksi dengan Asuransi Sinarmas MSIG Life ya! #YukAturUangmu #SmiLeWithME

[1] Kapoor, Dlabay, Hughes. 2015. Personal Finance Eleventh Edition. New York: Mc-Graw Hill Education

[2] Kapoor, Dlabay, Hughes. 2015. Personal Finance Eleventh Edition. New York: Mc-Graw Hill Education. Hal 92.

[3] Pandji Harsanto, SE, CFP®, CHt dan Diana Sandjaja, SE, CFP®. 2014. Make Your Own Plan. Jakarta: Elex Media Komputindo

[4] Website Sinarmas MSIG Life : www.sinarmasmsiglife.co.id

webannerr-blogger

Reksadana Online Solusi Wujudkan Impian

The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams
~Eleanor Roosevelt

Setiap insan pasti memiliki impian dan menginginkan impian tersebut terwujud menjadi kenyataan. Bahkan, apapun akan dilakukan demi mewujudkan sebuah impian.

Namun bagaimana jika impian kita mentok karena sebuah keterbatasan? Hmm.. Stay calm, kata pepatah “banyak jalan menuju Roma”. 🙂

Saya juga memiliki impian sama seperti insan lainnya. Impian saya sebenarnya sederhana. Saya hanya ingin terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3. Namun, tak semudah itu. Dibutuhkan perencanaan yang matang dan kedisiplinan untuk mempersiapkan dana pendidikan agar impian itu dapat tercapai. Keterbatasan finansial tak boleh jadi tembok penghalang yang menghentikan langkah saya untuk mewujudkan impian.

Mari merencanakan masa depan! 🙂

Saat ini saya berusia 20 tahun dan sedang menempuh pendidikan Diploma IV. Jika sesuai target, saya akan lulus di usia 22 tahun (Aamiin..!). Saya ingin melanjutkan pendidikan S2 di usia 26 tahun. Itu berarti saya memiliki waktu sekitar 6 tahun untuk mengumpulkan biaya pendidikan sekitar Rp 50 juta.

Lalu bagaimana caranya agar di usia 26 tahun saya bisa menempuh pendidikan S2 dengan biaya sebanyak itu?

Sebagian besar masyarakat terbiasa mengenal alternatif ‘kendaraan’ untuk persiapan dana pendidikan seperti Tabungan Pendidikan dan Asuransi Pendidikan. Dikutip dari Rudiyanto Zh dalam artikelnya di Kompas.com, Tabungan Pendidikan ternyata memiliki hasil pengembangan yang relatif bisa diperkirakan dengan hasil yang tidak begitu besar. Sementara Asuransi Pendidikan memberikan perlindungan asuransi yang komprehensif dengan potongan preminya cukup besar sehingga hasil investasinya kurang maksimal.[1]

Jangan lupa dengan adanya inflasi yang membuat hasil pengembangan dana menjadi kurang maksimal. Oleh karena itu, dibutuhkan instrumen yang mampu memberikan hasil pengembangan yang lebih baik daripada tingkat inflasi.

Investasi hadir sebagai pilihan untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan maupun rencana di masa depan. Tingkat hasil pengembangan yang lebih baik daripada inflasi membuat investasi di Pasar Modal lebih menarik. Salah satu alternatif instrumen investasi di Pasar Modal yang cocok untuk pengembangan dana pendidikan adalah Investasi Reksadana. Investasi Reksadana bukan merupakan objek pajak sehingga diharapkan bisa memberikan hasil pengembangan yang lebih optimal.

Investasi Reksadana disajikan bagi siapa saja yang ingin berinvestasi tanpa terbatas usia dan profesi. Investasi ini diperuntukkan bagi masyarakat yang memiliki pengetahuan mengenai investasi atau tidak sekalipun karena dana akan dikelola oleh profesional.

Reksadana dikelola oleh Manajer Investasi yang memiliki izin usaha dengan Wakil Manajer Investasi yang tersertifikasi dan diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dana yang dikelola oleh Manajer Investasi dialokasikan ke berbagai instrumen keuangan (terdiversifikasi) sehingga lebih rendah risiko. Salah satu Manajer Investasi terbesar di Indonesia adalah Manulife Asset Manajemen Indonesia (MAMI) yang telah berdiri sejak 16 Juli 1996 dengan izin usaha sesuai Surat Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Nomor Kep-07/PM/MI/1997 pada tanggal 21 Agustus 1997.[2] Salah satu reksadana saham yang dikelola oleh MAMI adalah Manulife Dana Saham dan Manulife Syariah Sektoral Amanah.

dana saham
Tampilan Informasi Manulife Dana Saham pada www.poems.co.id/profunds
syariah
Tampilan Informasi Manulife Syariah Sektoral Amanah pada www.poems.co.id/profunds

Investasi reksadana tidak semahal yang dibayangkan sehingga diharapkan dapat menjangkau semua kalangan. Hanya dengan Rp 100.000,00 saya sudah bisa memiliki investasi reksadana dan menjadi investor di Indonesia. Reksadana sendiri terbagi menjadi 4 jenis berdasarkan jangka waktu investasi:

  1. Reksadana Pasar Uang (<1 tahun)
  2. Reksadana Pendapatan tetap (1-3 tahun)
  3. Reksadana Campuran (3-5 tahun)
  4. Reksadana Saham (>5 tahun)

Bagaimana caranya memiliki reksadana?

Di zaman yang sudah serba online ini, investasi disajikan semudah dan sedekat mungkin dalam genggaman tangan calon investor melalui investasi online. Begitu juga dengan investasi reksadana, kini telah hadir reksadana online sehingga berinvestasi reksadana tidak perlu repot-repot datang ke kantor Manajer Investasi.

Phillip Securities Indonesia menghadirkan fasilitas POEMS ProFunds (Phillip’s Online Electronic Mart System ProFunds) sebagai aplikasi online yang memudahkan investor untuk bertransaksi reksadana dan saham sekaligus dalam satu platform (www.poems.co.id/web.id).

poems
Tampilan website www.poems.co.id/Profunds

POEMS ProFunds merupakan supermarket reksadana online, di mana investor bisa memilih produk reksadana dari berbagai Manajer Investasi dengan disertai berbagai informasi pendukung di antaranya prospektus, kinerja, fund fact sheet, dan lainnya. Hingga kini terdapat 97 reksadana pada daftar (list) reksadana POEMS ProFunds.

Keuntungan lainnya menggunakan POEMS ProFunds yaitu rekening pembayaran yang digunakan adalah Rekening Dana Investor (RDI). Investor tidak perlu repot-repot menyetorkan sejumlah dana ke rekening pembayaran reksadana yang dipilih ketika ingin melakukan pembayaran. Satu lagi, transaksinya bebas biaya pembelian dan penjualan kembali lho!*

Kalau mau Top Up (isi ulang) maupun Redemption (penjualan kembali) investor tak perlu repot, semua dilakukan secara online 🙂 Dana hanya perlu disetor ke RDI jika ingin Top Up. Sedangkan jika ingin Redemption hanya tinggal ‘klik’ dan dana akan langsung masuk ke RDI masing-masing investor.

POEMS ProFunds ini dapat diakses melalui perangkat: Komputer, Tablet, Phablet, Blackberry, Android, iPhone, iPad, dan perangkat lain yang terkoneksi dengan internet. Sehingga investor dapat melakukan transaksi kapan saja dan dimana saja tanpa kehilangan momen terbaik.

Nah, apa langkah selanjutnya? Action!

Setelah mengenal reksadana yang ternyata mampu menjadi solusi mewujudkan impian saya, maka diperlukan perencanaan finansial. Dalam berinvestasi reksadana untuk merencanakan pendidikan perlu menerapkan prinsip SMART (Spesific, Measurable, Attainable, Relevant dan Time Bound)[3]:

gambar-8-copy
sumber: https://reksadanauntukpemula.com

[S] Tujuan : Persiapan Dana Pendidikan S2

[M] Besarnya kebutuhan : Rp50.000.000,00

[A] Besarnya investasi tiap periode : Rp500.000 (tiap bulan)

[R] Pilihan Reksadana : Reksadana Saham (Kinerja yang diharapkan akan memberikan hasil pengembangan 15-20% per tahun dalam jangka waktu >5 tahun)

[T] Waktu : 6 tahun

Maka bisa disimpulkan bahwa untuk mendapatkan hasil pengembangan sebesar Rp50.000.000,00 pada 6 tahun yang akan datang dengan berinvestasi pada reksadana saham yang memiliki kinerja 15-20% per tahun, saya cukup berinvestasi Rp500.000,00 setiap bulannya.

Demi tercapainya impian tersebut dibutuhkan kedisiplinan dan konsistensi dalam memenuhi perencanaan yang telah dibuat.

Tak perlu takut lupa!

POEMS ProFunds menghadirkan fitur SmartPlan. Pada fitur ini sistem akan melakukan pendebetan otomatis pada Rekening Dana Investor (RDI) setiap bulan sesuai tanggal dan jumlah yang telah ditentukan untuk pembelian reksadana. Program SmartPlan dari Phillip Securities Indonesia membantu mewujudkan impian setiap orang melalui berinvestasi reksadana secara teratur dan mudah.

Mudah, kan? Jadi, tunggu apa lagi? Mari #WujudkanImpianmu bersama POEMS Pro Funds! 🙂

[1] Rudiyanto Zh, Artikel “Menyiapkan Rencana Pendidikan: Tabungan Pendidikan, Asuransi Pendidikan, atau Reksa Dana?” diakses dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/06/14/093351626/menyiapkan.rencana.pendidikan.tabungan.pendidikan.asuransi.pendidikan.atau.reksa.dana pada tanggal 9 Juli 2016 pukul 15:13

[2] Prospektus Reksadana Manulife Dana Saham, diakses dari https://www.poems.co.id/Profunds pada tanggal 29 Juni 2016 pukul 12.19

[3] Prinsip SMART Dalam Investasi Reksa Dana diakses dari https://reksadanauntukpemula.com/2016/01/09/prinsip-smart-dalam-investasi-reksa-dana/ pada tanggal 9 Juli 2016 pukul 10:30

*syarat dan ketentuan berlaku

Disclaimer: Tulisan ini diikutsertakan pada Phillip Blog Competition. Pihak Phillip Securities Indonesia tidak bertanggung jawab atas tulisan ini.

Widget_PhillipBlog1

Widget_PhillipBlog2

Kisah antara Aku dan Kamera Ponselku

Asus Zenfone Laser giveaway
Giveaway Aku dan Kamera Ponsel

“Ayooo… Foto dong fotooo… Ikutan doongg!!”

Kalimat itu jadi sering terlontar dari mulutku ketika menemukan spot foto yang bagus atau sedang geregetan menemukan momen yang keren. Maklum, ponselku (panggilan kesayangannya ‘Abuy’) hanya difasilitasi dengan kamera tunggal (kamera belakang) dan itupun hanya 2 Megapixel. Whattt?? Yes! Hanya 2 Megapixel dengan resolusi yang ala kadarnya (kalian harus percaya ini). Ponsel ini bergaya di zamannya dan sekarang zamannya sudah usai. Tapi mau bagaimanapun juga dia tetap kesayangan sampai sekarang 😀 (iyalah kalau nggak disayang, mau pakai apa lagi hehe)

Dengan kekurangan itulah yang sering membuat aku geregetan ketika sedang menemukan momen-momen yang dirasa memorable untuk diabadikan. Jadi mau nggak mau mumpung punya temen-temen yang baik hati-ramah-tidak sombong-plus-mau berbagi, numpang foto bareng deh 🙂

Dulu, (duluuuuuu banget) aku anti banget kalau difoto. Musuhan sama kamera. Gak suka kalau difoto. Tapi lama-kelamaan aku sadar kalau kita takkan pernah menemukan kenangan yang sama di suatu tempat untuk kedua kalinya sekalipun bersama orang yang sama. Oke fix berarti harus punya kenang-kenangan! So, mulai detik itu nggak ada momen yang boleh terlewatkan!

Syukurnya, waktu itu Bapakku pengertian dengan memberikan ponsel berkamera pertama buatku di tahun 2010. Yeah, akhirnya bisa mengabadikan momen sendiri! 😀 Sayangnya, kamera ponsel waktu itu kalau hasilnya dipindahkan ke PC atau komputer jadi pecah-pecah atau blur (boro-boro ngarepin bisa di zoom wkwkwk). Ponsel pertama ini berakhir miris karena tiba-tiba seluruh isi galeri di kartu memori menghilang! Aaaaaaaaaaaaa….. 😥

Waktu terus bergulir, aku pun harus memiliki ponsel baru karena semua benda ada masa pensiunnya (alias ponsel lama pensiun karena rusak). Setelah tabungan dirasa cukup, akhirnya aku mulai cari ponsel baru. Berbekal keyakinan, aku memilih ponsel yang sesuai dengan budget saat itu tapi tetap dengan brand yang dominan menguasai pasaran ponsel.

Kala itu tahun 2013, ponsel berkamera 2 Megapixel yang hingga saat ini kugunakan masih tergolong bagus dengan harga yang sesuai dengan kantong anak SMK (sangat jauh jika dibandingkan sekarang). Saat itu rasanya belum terlihat kekurangan kamera si Abuy ini . Meskipun hanya kamera belakang yang kalau mau foto selfie harus dibalik dulu ponselnya terus ambil ancang-ancang buat foto (kayaknya nggak cuma aku doang yang kayak gini -_-) dan harus berkali-kali ulang foto kalau ternyata fotonya gerak atau goyang sedikit (Oh my God!). Ditambah lagi fotonya gak langsung jadi saat diklik, butuh beberapa detik dulu hehe :’)

Oh ya, waktu itu sih belum ngeluh walau hasil kameranya bening hanya saat di luar ruangan, masih biasa-biasa aja. Tapi kalau sudah di dalam ruangan agak kecewa juga jadinya:

foto0669.jpg
dok.pribadi

Huhuhuh 😦 mana mama paling susah diajak foto, sekalinya diajak foto pas kelulusan SMK malah begini hasilnya… kecewa deh.

Walau hasil foto ala kadarnya begitu kalau di dalam ruangan, masih belum ada masalah apapun sama kameranya, jadi masih selow aja… Hingga akhirnya menginjak usia 1 (satu) tahun (sekitar tahun 2014), kameraku ini mulai menunjukkan protes karena terlalu sering digunakan. Tiap 10 (sepuluh) kali jepret foto, kameranya langsung nge-hang (loadingnya muter-muter terus layar jadi gelap gitu) dan kadang-kadang ponselnya langsung mati. ckckck 😥 Tolooonnggg….

Momen yang paling menyedihkan dan agak membuat malu itu ketika sedang ikut Seminar Pasar Modal di Bursa Efek. Waktu itu ada mbak-mbak (sesama peserta seminar) yang menghampiriku dan Ratna (temanku) dengan malu-malu, ternyata minta tolong difotokan karena ponselnya low baterai. Dengan senang hati akhirnya kami membantu dia, maklum gedung Bursa Efek itu keren abiiieeezzzz jadi sayang kalau nggak foto-foto dulu. 😀

Awalnya Ratna yang membantu mbak-mbak itu, tapi akhirnya dia pulang duluan bersama kakaknya. Tinggallah aku dan si mbak yang masih ingin foto-foto. Ternyata setelah melebihi 10 kali jepretan (sebenarnya sudah belasan kali), kameraku langsung nge-hang >_< haduuhh malu banget ih waktu itu mbaknya nanya ponselku kenapa (dalam hati aku juga bertanya, “Kenapa kameranya nge-hang di saat-saat genting kayak ini?”) Aku jawab sih nggak kenapa-kenapa dan akhirnya dia bilang foto-fotonya cukup segitu aja. Bukannya lega, aku malah makin panik mendengarnya. Kalimat yang meluncur dari mulut si mbak berikutnya adalah “tolong dikirimin aja ya mbak fotonya.. ke BBM saya aja.” Haduh, mana ponselku nggak ada BBMnya, sekarang lagi nge-hang pula. Huffttt 😮 Akhirnya aku jawab, “maaf mbak ponsel saya belum ada BBM-nya”. Eh, karena memang masih ada jalan lain, mbak itu kembali menjawab, “yaudah bluetooth aja ya kalau gitu?”. Huaaaaaaaa ini kameranya masih nge-hang plus ponselnya juga ikut-ikutan mati dan belum bisa nyala……

Setelah ditunggu beberapa lama, sembari menunggu hujan mereda di kawasan Sudirman itu, alhamdullillah ponselku bisa dinyalakan kembali. Si mbak pun yang ikut menunggu langsung riang melihat Abuy kembali hidup. Langsung kubuka galeri foto dan menandai foto-foto si mbak tadi. Ternyata yang berhasil dikirim hanya sekitar 5 foto dari belasan foto tadi. Aku dan mbak-mbak itu bingung dengan kejadian ini. Dia langsung bertanya, “kok cuma 5 mbak?”. Aku yang saat itu bingung dengan keadaan seperti ini kembali panik. Akhirnya aku hanya bisa minta maaf karena berkali-kali dikirim tetap nggak bisa, “Maaf ya mbak. Kalau ternyata nanti bisa dikirim, saya kirim lewat sosmed teman saya tadi”. Berhubung tadi Ratna sempat berkenalan dan bertukar info sosmed dengan si mbak ini, akhirnya kata-kata itu terlontar. Alhamdulillah si mbaknya mau.

Sesampainya aku di rumah dan mengecek foto tadi, ternyata foto-foto yang nggak bisa dikirim itu berformat .nrw dan nggak bisa di-convert ke .jpg. Ada juga foto yang corrupt gitu. Saat dipindahkan ke laptop pun nggak terdeteksi kalau file foto tersebut ada. Selidik punya selidik, ternyata tiap kali kameraku nge-hang dan ponselnya mati, foto hasil bidikan itu nggak berhasil jadi ‘foto normal’ seperti yang lain. 😦 Akhirnya sampai saat ini ya foto-foto tersebut hilang begitu saja karena gak berhasil terdeteksi.

Sejak saat itu karena tahu ternyata kameraku sering ngambek, kadang malu-malu pinjem ponsel teman sampai sekarang kadang nggak tahu malu lagi ikut nebeng foto. wkwkwk

Kalau lagi malu-malu mau foto gitu kadang cuma bisa nangis meratap di pojokan (agak lebay -_- tapi kadang emang mengeluhkan sih :/ ). Tapi kalau udah nggak tahu malu gini ya suka langsung bilang ke teman-teman yang baik hati gitu.. hehehe

P_20160511_132339_1_BF_p.jpg
dok.pribadi (diambil dengan kamera ponsel Asus milik Fita)

Kalau di kampus, temanku yang namanya Fita ini selalu jadi teman yang bersedia minjemin ponselnya bergilir buat foto. Maklum, hasil bidikan kameranya sesuai yang diinginkan kaum hawa banget (bening, mulus, cerah, cantik! <3). Sampai-sampai kayaknya nggak perlu lagi pakai bedak supaya wajah terlihat putih. Nggak salah lagi, kamera brand Asus nggak mengecewakan. Jadi mupeng, pengin punya Asus Zenfone 2 Laser ZE550KL. Biar besok-besok nggak malu-maluin lagi kalau ada yang nebeng foto kayak mbak-mbak waktu itu. Hehehe 😀

Kalau tadi bidikan foto saat lokasi di dalam ruangan dengan pencahayaan yang terang, sekarang dengan ruangan yang berbeda. Hasilnya masih jelas!

P_20151113_161127.jpg
dok.pribadi (diambil dengan kamera ponsel Asus milik Fita)

Uwoo uwoo… aku suka aku suka! 😀 Kalau di dalam ruangan aja udah jagoan nih Asus, gimana yang di luar ruangan? Ya, nggak? 😛

IMG-20150820-WA0007.jpg
dok.pribadi (diambil dengan kamera ponsel Asus milik Fita)

Makanya saat tahu Bunda Uniek bikin giveaway ini, aku antusias banget! Siapa tahu Asus Zenfone 2 Laser ZE550KL jadi rejekiku, kan excited gitu punya ponsel yang bisa selfie sendiri gak perlu minjem lagi 😀 hahaha.. Maklum, masih banyak kebutuhan lain yang harus didahulukan dibanding hanya mengganti ponsel *eaaa padahal ponsel juga kebutuhan* wkwkwk

Yap, segitu aja ya curahan hati yang panjang lebar gini… Terima kasih untuk yang udah bersedia baca sampai pegel.. 😀

Tulisan ini diikutsertakan pada ‘Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com‘.

Investasi Cerdas untuk Masa Depan Cerah bersama Danareksa

“Sudahkah Anda mempersiapkan diri untuk masa depan?”

Mari jawab pertanyaan di atas dengan jujur. Sudah atau belum? Belum? Mari lanjut ke pertanyaan berikutnya!

“Pernahkah Anda berpikir berapa uang yang harus Anda keluarkan misalnya untuk biaya pendidikan 3-5 tahun lagi?” atau “Pernahkah Anda berpikir berapa uang yang harus Anda keluarkan untuk biaya pernikahan Anda 5 (lima) tahun lagi?”

Hal penting yang harus diingat adalah inflasi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, inflasi adalah kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang.

Nah, berarti yang tadinya dengan uang Rp 1.000,00 kita bisa membeli 10 buah permen, di tahun 2016 dengan uang Rp 1.000,00 kita hanya bisa membeli 3-4 buah permen.

 

Untitled
sumber: http://www.mayoraindah.co.id/mayora-products/ dan http://www.tokopedia.com

Nah lho, kita memang tidak bisa terlepas dari jeratan inflasi. Lantas apa yang harus kita lakukan?

INVESTASI.

Apa itu Investasi?

Ilustrasi+Investasi
Ilustrasi Investasi | Sumber: http://www.liputan6.com

Investasi adalah “Penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan.”  -Kamus Besar Bahasa Indonesia

Kenapa sih harus investasi? Investasi dilakukan karena ada inflasi (kenaikan harga), keinginan dan kebutuhan, peningkatan nilai kekayaan dan ketidakpastian di masa yang akan datang.

Ingat, satu hal pasti di dunia ini adalah ketidakpastian itu sendiri.

Kalau mau investasi ke mana?

Investasi bisa dilakukan dalam bentuk properti, emas, saham, reksadana dan obligasi. Tapi ingat, investasi yang kita lakukan harus mampu mempertahankan kekayaan yang kita miliki agar tidak tergerus inflasi dan memiliki tingkat imbal hasil di atas persentase inflasi.

Saat ini, investasi terbaik adalah investasi reksadana.

Apa sih Reksadana itu?

pahaminikmati
Logo Reksadana | sumber: http://reksadana.danareksaonline.com/edukasi/tentang-reksa-dana.aspx

“Reksadana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat Pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi” (Undang-Undang Pasar Modal nomor 8 Tahun 1995 pasal 1, ayat (27)

Berdasarkan definisi di atas sudah jelas bahwa:

  1. Reksadana diatur dalam Undang-Undang (khususnya Undang-Undang Pasar Modal).
  2. Uang yang dihimpun kemudian dikelola oleh orang/badan yang profesional (Manajer Investasi).

Haduh, takut nanti investasi bodong atau penipuan? Tenang, produk reksadana dan Manajer Investasi sebagai pengelolanya diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berikut kelebihan berinvestasi di Reksa Dana[1] :

  1. Dikelola oleh manajemen yang profesional.

Pengelola Reksa Dana diwajibkan untuk memiliki sertifikasi sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh regulasi.

  1. Kemudahan akses berinvestasi.

Calon investor dapat melakukan pembelian Reksa Dana melalui Manajer Investasi atau melalui Agen Penjual. Bahkan saat ini untuk pembelian Reksa Dana dapat dilakukan secara online, sehingga lebih memudahkan investor dalam bertransaksi Reksa Dana.

  1. Diversifikasi investasi.

Dengan berinvestasi di Reksa Dana investor dapat dengan mudah melakukan diversifikasi portofolio di efek-efek investasi seperti saham, obligasi, dan instrumen pasar uang seperti deposito.

  1. Likuiditas tinggi.

Reksa Dana adalah salah satu efek yang memiliki likuiditas yang baik. Investor dapat melakukan pembelian dan penjualan Reksa Dana kapan saja.

  1. Dana investasi terjangkau.

Investasi melalui produk Reksa Dana dari Danareksa dapat dimulai dari Rp.100.000,-. Sangat terjangkau bagi masyarakat.

  1. Transparansi.

Investor dapat dengan mudah mengetahui kebijakan investasi sebuah Reksa Dana melalui prospektus, dan mendapatkan informasi tentang kinerja dari sebuah Reksa Dana dari laporan bulanan yang secara rutin wajib diterbitkan oleh Manajer Investasi. Informasi NAB/Unit dari Reksa Dana juga secara umum dipublikasikan dan dapat ditemukan di media cetak maupun online. Secara berkala Reksa Dana juga diaudit oleh Auditor Independen.

Pada Reksa Dana, seluruh dana yang ada tidak disimpan oleh manajer investasi, tetapi disimpan di pihak yang bernama Bank Kustodian. Selain itu, Bank Kustodian juga berfungsi sebagai administrator yang mencatat dan memberikan konfirmasi atas seluruh transaksi pembelian dan penjualan Reksa Dana, serta menghitung Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana setiap harinya.

Nilai Aktiva Bersih adalah nilai yang menggambarkan total kekayaan Reksa Dana setiap harinya. Nilai ini dipengaruhi oleh pembelian dan penjualan Reksa Dana oleh para investor, selain dari harga pasar dari aset Reksa Dana itu sendiri.

Satuan yang digunakan dalam Reksa Dana adalah Unit Penyertaan. Unit Penyertaan adalah satuan yang menunjukkan kepemilikan Anda di dalam Reksa Dana tersebut. Jumlah Unit Penyertaan akan tetap selama Anda tidak melakukan transaksi. Banyaknya Unit Penyertaan yang Anda dapatkan tergantung dari harga NAB/Unit pada hari dimana Anda membeli Reksa Dana tersebut.

Saya yakin, setiap orang menginginkan kebebasan secara finansial, termasuk saya. Lalu bagaimana caranya?

Danareksa Investment Management (DIM) menghadirkan solusi cerdas mencapai kebebasan finansial lewat Program “Investasiku Masa Depanku”. Program ini membantu Anda mewujudkan kebutuhan-kebutuhan masa depan Anda. Dana Pensiun, Dana Pendidikan, Dana Ibadah, dll.

Sudahkah Anda mengenal Danareksa Investment Management (DIM)?

logo danrek
Logo Danareksa Investment Management | Sumber: http://reksadana.danareksaonline.com/

Danareksa Investment Management (atau yang dikenal dengan DIM) adalah anak perusahaan dari PT Danareksa (Persero). Didirikan pada tahun 1992, tugas utama DIM saat itu adalah mengelola Sertifikat Danareksa yang menjadi “cikal bakal” Reksa Dana.

Selengkapnya tentang Danareksa Investment Management (DIM) bisa dilihat di sini ya.

Dikutip dari website Danareksa Investment Management (DIM), Program Investasiku Masa Depanku adalah program investasi bulanan mulai dari Rp.200.000/bulan di Reksa Dana saham dan campuran yang dikelola oleh Danareksa Investment Management (DIM). Bentuk investasi berkala ini berupa Transfer Berkala melalui Rekening Bank Anda langsung ke Reksa Dana yang Anda pilih.

Jenis Reksa Dana yang Anda pilih disesuaikan dengan jangka waktu investasi Anda. Setiap investor dapat memilih lebih dari 1 Reksa Dana sesuai kebutuhannya masing-masing. Jika jangka waktu program investasi Anda berakhir, maka Anda dapat memilih untuk mencairkan reksa dana Anda atau tetap meneruskan investasi Anda.

Murah dan mudahkan? Untuk selengkapnya bisa dibaca di sini.

Oh ya, Anda juga dapat menggunakan fasilitas kalkulator Simulasi Investasi di website Danareksa Investment Management. Misalnya perkiraan imbal hasil investasi secara berkala setiap bulan (Investasi reguler) dalam periode tertentu seperti berikut :

return
Simulasi Investasi | Sumber: http://reksadana.danareksaonline.com/edukasi/mulai-investasi/investasi-masa-depan.aspx

Anda dapat mencobanya sendiri ya 🙂

Sudah tertarik untuk berinvestasi? Program Investasiku Masa Depanku solusi investasi cerdas yang cocok untuk tujuan investasi Anda!

”Artikel ini diikutsertakan dalam kompetisi blog Blogger Writing Competition –  Investasiku Masa Depanku bersama ReksaDana Danareksa. Isi dan tulisan dari artikel/blog post ini diluar tanggung jawab Danareksa Investment Management”

[1] Danareksa, Tentang Reksadana, diakses dari http://reksadana.danareksaonline.com/edukasi/tentang-reksa-dana.aspx pada tanggal 3 Juni 2016 pukul 19.18.

Kebahagiaan Dalam Kebersamaan

pass.jpg

Judul buku : Passport to Happiness : 11 Kota 11 Cerita Mencari Cinta

Penulis : Ollie (@salsabeela)

Penerbit : Gagasmedia (@GagasMedia)

Tebal : 176 pages

***

Hai!

Hmm…  Kisah perjalananku yang paling membahagiakan?

Well. Sejauh ini, jalan-jalan selalu jadi hal yang paling membahagiakan. Kenapa? Kalau dulu-dulu selalu terbentur soal izin dari orang tua, kalau sekarang suka terbentur sama keperluan ini-itu. Jadi aku jarang banget jalan-jalan ke suatu tempat, I mean travelling. Tapi ada petualangan yang membekas sampai sekarang, walau mungkin untuk orang lain ini nggak ada apa-apanya.

23 Desember 2013

foto0170.jpg
hanya ini foto kami ber-9 yang lengkap

Rencana main yang sering gagal direalisasikan akhirnya mau nggak mau harus direalisasikan. Saat itu liburan semester 1 kelas XII, yang artinya UN SMK sudah di depan mata. Hampir 3 minggu sebelum tanggal 23 Desember 2013 ini (notabenenya masih suasana UAS semester ganjil), kami sering mengulang kalimat “Main yuuk! Yang agak jauh tapi… nginep ya :D”. Nginep di rumah siapa yang jauh? Haha ada-ada aja memang maunya. Tapi, ternyata selang beberapa hari akhirnya ada laporan kalau dua orang sahabatku yang rumah neneknya ada di Sukabumi dan sekitarnya itu bersedia aja memberikan penginapan barang semalam. Akhirnya setelah dikonfirmasi lagi, kami pilih yang paling mudah akses pulang-perginya.

Saat itu masih H-seminggu dari tanggal ini, kami masih memantapkan jadwal-jadwal yang berantakan (maklum, hampir semuanya anak organisasi jadi libur juga masih aja ke sekolah >_<). Waktu seminggu itu digunakan untuk fixasi ikut atau nggak, minta izin ke orang tua dan lain-lain. Maklum (lagi) masalahnya cewek-cewek yang mau ikut tuh belum tentu dapat izin main jauh apa lagi nginep. Jadilah aku minta izin sama orang tua, pertama-tama izin sama Mama. Kata Mama tanya langsung aja sama Bapak. Duh, dilempar-lempar izinnya. Akhirnya izin ke Bapak dengan hati deg-deg-an, “Pak, Iyas mau main…… tapi nginep. Boleh?”

Hening beberapa detik.

Hati sudah ciut mengkeret, ah pasti nggak akan diizinin deh kalo gini, pikirku.

Tapi tiba-tiba ditanya, “Berapa lama?”

“Tiga hari dua malam, Pak.” jawabku mantap. Percaya diriku muncul.

“Ke mana?”

“Ke rumah neneknya Dea di Cicurug, Sukabumi.”

“Ya sudah, boleh.”

Percakapan yang kurang dari tiga menit itu membuncahkan bahagia luar biasa. Kenapa? Karena beberapa hari sebelumnya, aku juga pernah meminta izin untuk menginap di sebuah villa di puncak tapi langsung ditolak mentah-mentah. Padahal itu acara kelas dan cuma semalam.

Setelah dipikir-pikir, mungkin karena kali ini tujuannya lebih spesifik dan Bapakku percaya. Wah, kepercayaan itu yang luar biasa mahal. Maklum, anaknya baru menginjak usia 17 tahun, untuk tiket izin-izin lebih selektif diberikan. Padahal hanya pergi ke Curug yang menghabiskan waktu kurang dari satu hari aja, ditolak mentah-mentah. Rumah di Bogor, tapi jarang ke Curug. Hufft. Bahaya katanya, itu katanya… Tapi yang terpenting kan izinnya, restunya.

Tiba-tiba setelah percakapan itu Bapak kembali bertanya, “sama siapa aja perginya?”

Wah hatiku ciut lagi, takut nggak diizinin karena yang pergi cowok-cewek. Kujawab seadanya, “ya kira-kira sepuluh oranglah, cowok-cewek. Empat cewek, enam cowok…” lalu kusebutkan satu per satu. Ada Dea, Sandra, Ade, Rizal, Rias, Japar, Dwiki, Agung, dan Mukti.

Kukira izin yang telah diberikan akan gagal, ternyata respon Bapak hanya “ooh..”

Akhirnya, jadilah perjalanan kali ini. Walaupun Ade batal ikut, ternyata kami dapat penggantinya, Indira hehe.. Oh iya, Rias juga ternyata tiba-tiba batal ikut. Tapi syukurnya kali ini semua rencana tetap berjalan seperti yang direncanakan, “kita berangkat tanggal 23 titik!”

Pagi itu aku tiba di meeting point pukul 06.45 dan sekitar dua sahabatku sudah ada di sana. Mereka bilang aku terlambat, padahal kami janjian berangkat pukul 7. Sepertinya mereka lelah menanti, soalnya mereka sudah di meeting point sejak 15-30 menit sebelum aku datang. Lalu satu per satu dari kami berkumpul hingga sahabatku, Dea, yang datang bersama angkot sewaan.

“Langsung berangkat yuk!” ajaknya

“Nanti dulu, masih kurang satu nih.” jawab Rizal

“Iya, si Depok belum datang.” timpal Japar.

Dea hanya bisa memanyunkan bibir, paham betul tabiat bocah satu itu. Yang dimaksud ‘si Depok’ itu Mukti, panggilan itu akrab di lidah kami karena memang rumahnya di Depok dan memang dia hobi terlambat.

Setengah jam berlalu dan kami mulai gerah karena harus menunggu. Satu per satu dari kami terus-menerus meneror Mukti via sms atau pun telepon agar dia cepat datang. Dan akhirnya dia datang, tepat sejam setelah jam janjian. Suasana keberangkatan kami jadi agak bete karena ngaret dari jadwal. Tapi suasana betenya nggak berlangsung lama karena percakapan mengalir seperti tiada habisnya.

Kami tiba di rumah nenek Dea yang tepatnya berlokasi di Cicurug, kab. Sukabumi pukul 10. Setelah berkumpul di ruang tamu beserta barang bawaan masing-masing, kami mulai saling bertanya tentang apa aja yang dibawa saat itu -_- Selang beberapa menit kemudian, aku mulai menyuruh mereka mengumpulkan ‘permen denda’.

foto0148.jpg

‘Permen denda’ itu apa sih? Jadi ceritanya demi berlatih menggunakan bahasa Indonesia yang ‘baik dan mendingan’ untuk menghadapi dunia kerja, setiap menggunakan kata ‘gue-elo’ kami didenda satu butir permen. Murah dan mudah, kan? Hanya dalam waktu hampir 2 minggu, sudah terkumpul lebih dari 120 butir permen dari 9 orang! Wow! Tapi manfaatnya, karena kami memang pelit dan medit soal duit, kata ‘gue-elo’ mulai sedikit demi sedikit hilang dari kebiasaan, kata-kata yang baku mulai muncul mengganti kata-kata gaul. Hmm.. sedikit positif mumpung mau menghadapi UN.

Permen ini akhirnya dikumpulkan dan diletakkan saja, siapa saja yang mau makan tinggal ambil. Tapi berhubung yang makan permen itu-itu aja, akhirnya dibagi rata.

Saat itu kami menyantap makan siang buatan Neneknya Dea, maklum sebagai tamu baru datang jadi belum bisa masak sendiri. Tapi urusan mencuci piring, kami punya jadwal piketnya.

Hari pertama kami dihabiskan dengan ngobrol, main kartu dan memandangi kabut jam 3 sore. Sempat jalan-jalan sedikit di sekitar rumah ditemani rintik-rintik hujan.

Yang mengharukan saat itu adalah ketika adzan maghrib berkumandang, walau dingin telah mendekap tubuh kami, tapi kami tetap melaksanakan shalat berjamaah diimami oleh Japar. Kakeknya Dea punya mushala kecil persis di samping rumah. Ketika kami keluar rumah untuk menuju mushala, kabut telah memenuhi pandangan kami. Subhanallah, benar-benar suasana yang berbeda dengan Kota Bogor dan ini lebih dari yang kami harapkan. Kami bersujud dalam syukur dan setelahnya kami membaca Yaasin bersama. Sungguh terasa adem luar-dalem.

Lagi-lagi kami makan malam buatan Neneknya Dea. Bukan tidak mau, hanya saja targetnya kami harus bisa masak sendiri untuk kebutuhan perut dan tidak ingin merepotkan.

Dan kami menghabiskan waktu hingga tengah malam dengan bermain kartu (lagi) dan yang kalah masih dicoret pakai bedak seperti tadi siang. Sebetulnya agak menyesal sih nggak bawa amunisi untuk liburan. Kebetulan aja Mukti yang lagi hobi main kartu tuh bawa kartu remi, jadi ada mainan hehe

Tidurnya nyenyak sekali, alhamdulillah.. tidur di mana aja jadi, yang penting cowok-cewek pisah. Aku yang terakhir pergi tidur, jadi aku bisa mengabadikan momen-momen ini wkwk walaupun ternyata Japar belum tidur.

24 Desember 2013

Pagi-pagi perebutan kamar mandi, sekalinya dapet malah pada ngalah -_- Lanjuuut main kartu lagi, tapi nggak dicoret pakai bedak soalnya mau jalan-jalan.

Kabar bagusnya pagi ini kami dikasih jatah dapur! hhe 😀 Sandra, Agung, dan dua orang lagi ikut bantu-bantu di dapur. Perjanjiannya, apapun hasilnya, apapun rasanya, wajib tetep harus dimakan!

Sayangnya, hasil masakannya kurang seperti yang diharapkan. Nasi gorengnya ternyata tercampur lalat karena dapurnya gelap. Akhirnya makan paginya masak lagi…

Jam 9 kami putuskan untuk berpetualang ke perkebunan murbei, mumpung kabut belum turun.

foto0221

Jalannya nggak lurus, turun dulu ke sungai kecil berbatu-batu lalu nanjak lagi.

Setelah sampai… sayang kebun murbeinya baru pembibitan dan mulai tumbuh, jadi belum nampak dedaunannya.

Ada pemandangan terasering juga di dekat villa milik seseorang. Kami berhenti dan berteduh dekat pohon bunganya sejenak membuat kami dihampiri satpam dan diusir secara halus. Anehnya, kami malah tertawa-tawa setelah diusir. Memang ya kalau ‘apa aja jadi seru kalau bareng lo’ dan ‘nggak ada lo nggak rame’. Semua jadi terasa seru dan membahagiakan.

Setelah diusir kami melanjutkan perjalanan dan mentok. Buntu. Dihadapan kami hutan kayu, entah mahoni atau jati aku lupa. Setelah duduk-duduk sebentar di mulut hutan sambil minum dan nyemil perbekalan, kami putar balik. Jalanan pulang melewati peternakan sapi dan kebun kecil yang ditanami daun bawang. Menurun melewati sungai yang tadi lalu menanjak kembali ke rumah.

Kami tiba di rumah nenek Dea sekitar pukul 11.00. Lalu kami bergegas patungan untuk bahan masak makan malam. Kini aku ikut giliran masak untuk makan malam. Belanja dulu ke warung terdekat yang jaraknya juga ‘lumayan’. Setibanya di warung pun bingung apa yang ingin dimasak dan harus sebanyak apa untuk memuaskan perut-perut lapar kami. Akhirnya belanja, ‘seadanya’, yang sekiranya akan banyak dimakan seperti tahu-tempe dibeli lebih banyak. Kami makan siang hanya dengan mie instan dan baso. Maklum, dikasih jatah dapur tapi kami lelah.

Mengisi waktu menuju sore, ada yang tidur siang, ada yang melek terus. Ada yang lucu sore itu. Japar tiba-tiba bangun setelah mendengar adzan. Dia langsung bergegas mandi dan berwudhu. Lantas? Dia mengajak untuk shalat Subuh. Lho? Hahaha 😀 Dia mengira adzan itu waktu shalat Subuh, mungkin karena lampu-lampu ruangan sudah menyala dan dia tidak biasa tidur siang. Jadi shalat yang seharusnya Ashar malah jadi shalat Subuh.

Sorenya aku dan yang lain masak makan malam. Saat masak juga sebenarnya lebih sering pada nimbrung bareng di dapur. Request ini-itu, seperti ‘cabenya banyakin’, ‘garamnya jangan banyak-banyak’, dan lain-lain. Masak-masak selesai, berarti saatnyaaa makaaaan! Apapun hasilnya, apapun rasanya.. Tapi sambelnya laris looh 😀

25 Desember 2013

Menghabiskan waktu bersama selama dua malam ternyata benar-benar membeberkan kebiasaan kami. Ada yang hobi nggak mandi, yang hobi mandi, yang nggak biasa mandi sore, yang nggak biasa mandi pagi, yang tidurnya mendengkur, yang susah dibangunin, yang makannya banyak, yang makannya cepet, yang hobi ngigau, yang hobi kentut, dan semuanya yang biasa ditutup-tutupin.

Yang terpenting buatku saat itu kebersamaan. Dan yang lebih berharga dari itu adalah… aku diizinin nginep lho! Hahah 😀

Sebenarnya, berat untuk pulang. Di sana suasananya lebih tenang dan dingin dibanding Kota Bogor. Oh iya, ada kabutnya juga ❤ tapi tetep harus pulanglah, kan itu rumah orang wkwk

Dua malam yang harus cukup untuk refreshing sebelum menghadapi segala persiapan UN.

Perjalanan pulang menghabiskan waktu 2-3 kali lebih lama dari perjalanan berangkat waktu itu, maklum macet. Aku sampai di rumah selepas Isya.

See you on the next trip, guys! Jangan lupa sama perjanjian-perjanjian kita walau udah pada lulus hehe ❤

Salam cerewet,

-ndut (yg sekarang udah kurus)-

PS : Maaf jika fotonya gelap, maklum saat itu masih menggunakan kamera hp 2 MP yang belum secanggih sekarang (meskipun sekarang belum punya yg canggih wkwk :D).

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Passport to Happiness Giveaway yang diselenggarakan oleh Gagasmedia dan Acer.

passport to happiness