Mari #MembacaLuka

20170530_155259.jpg

Identitas buku

Judul                                  : Luka Dalam Bara

Penulis                                : Bernard Batubara

Ilustrasi sampul dan isi : @alvinxki

Penyunting                       : Teguh Afandi

Penerbit                            : Noura Publishing

Terbit                                 : Maret, 2017

ISBN                                   : 978-602-385-232-1

Blurb

Aku mencintainya karena ia mencintai kata-kata. Aku mencintainya lebih lagi karena ia mencintai buku-buku. Aku mencintainya karena ia adalah buku bagi kata-kata yang tidak bisa aku tuliskan. Aku mencintainya karena ia menjadi rumah bagi setiap kecemasan yang tidak perlu aku tunjukkan.

Review

Apakah kamu pernah terluka?

Apakah luka itu cukup dalam dan membekas hingga tak lekas jua kenangan itu lepas?

Mungkin kau pernah terluka, aku juga.

Mungkin kau pernah berusaha rela, tapi tangis itu tak kunjung reda. Aku juga.

Pernahkah kau mencoba menerka, jika semua itu terjadi karena kita pernah berjumpa dengannya?

VP3

Luka dalam Bara.

Kali pertama Bang Bara memposting kover buku ini di twitter, aku tersenyum sendiri. Manis, pikirku. Setelah kusadari, ternyata aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan buku ini. Namun ada perasaan ganjil yang membuatku semakin tertarik dengan buku ini. Makna yang kutangkap dari ilustrasi itu mampu membuatku patah hati seketika itu juga. Berbagi cinta. Seorang kekasih yang berbagi cinta. Lantas bagaimana bisa terluka?

Aku memang belum pernah ikut pre-order sebuah buku. Tapi berkat kover tersebut dan blurbnya entah mengapa rasanya ada magnet yang memaksaku untuk ‘gue harus punya!’ dan akhirnya ikutlah PO buku ini.

Alasannya tak lain karena kover yang manis, mampu membuat jatuh hati dan sekaligus patah hati, dan ternyata kover bukunya itu hardcover! Wah! Makin menggemaskan! Judul tulisan yang dicetak timbul seolah menyampaikan guratan luka. Blurb yang ternyata penggalan salah satu fragmen membuatku berpikir “cinta hanya butuh alasan sederhana”.

Aku nggak pernah bosan membaca kembali fragmen demi fragmen meskipun sudah membaca buku fisiknya, karena sensasinya tetap sama: aku terluka. Hal yang sederhana tapi terkadang terlalu berat untuk diakui.

Luka Dalam Bara berisi kumpulan fragmen di dalam buku setebal 108 halaman. Tiap fragmennya punya rasa tersendiri. Padat. Manis. Mampu membuat hatiku meleleh. Diksinya juga cukup, tidak berlebihan. Tulisannya juga jujur dari hati, sehingga sampai juga di hati pembacanya. Yang paling penting, fragmen-fragmen ini memang layak dibukukan.
Ditambah ilustrasi Kak Alvin lucu banget! Aku suka! 😍

Buku ini diawali dengan pembuka:

Mereka bilang aku penulis, aku bisa menulis tentang apa saja.

Mereka tidak tahu, aku menyimpan lebih banyak kata dari yang bisa aku tuliskan.

Aku hanyut pada kata-kata yang ada. Bang Bara mampu menuliskan kenangan dan menyampaikannya dengan hati lalu membiarkan para pembacanya tenggelam.
Ah, ketika tiba di sebuah fragmen berjudul “Mencintai Topeng Seseorang” dan “Rindu” , pertahananku runtuh.

“Bagiku, mencintai seseorang berarti mencintai seluruh topeng yang ia kenakan, memahami alasan-alasan di balik setiap topeng yang ia miliki, dan bersabar dalam waktu yang cukup hingga ia memperlihatkan wajah aslinya.”-hlm.61 (fragmen “Mencintai Topeng Seseorang”)

Setelah kehilangan, aku baru menyadari bahwa aku pernah mencintai topeng seseorang. Menikmati detik demi detik mengikuti alur takdir apakah seseorang itu akan mempercayaiku untuk memperlihatkan wajah aslinya. Yes, he did! Setelah beberapa waktu, dia percaya. Dia memperlihatkannya. Samar. Begitu terus hingga aku terbiasa. Fragmen ini cukup menghancurkan pertahananku yang berhenti mengingat seseorang, aku mengingatnya lagi. Tepat di akhir fragmen itu, dihitungan ketiga, yang aku tahu aku sedang menahan napas. Aku tersadar dia telah lama pergi. Hingga kini aku tak tahu topeng apa yang dia kenakan saat bersamaku. Entah topeng apa yang dia kenakan saat Pertemuan pertama kami.

Jika ditanya, “apakah aku rindu?”. Aku lelah menjawabnya. Sebab dulu berulang kali kuucapkan hingga kebas rasanya. Itu dulu. Namun kali ini aku mengalah, Bang Bara benar:

“Maka, tidak selamanya pula rindu harus memiliki tujuan. Sebab, sekali waktu kita akan merasa bahwa rindu yang paling hakiki adalah rindu terhadap rindu itu sendiri”-hlm.74 (fragmen “Rindu”)

Postingan ini berani hadir berkat ada Reading Challenge iJakarta x Noura Publishing dalam rangka #MembacaLuka. Karena sedikitnya ada curahan hati yang tak mampu kuungkapkan kecuali lewat tulisan. Dan berkat iJakarta pula aku bisa #MembacaLuka tanpa harus menenteng buku kesayanganku ini keluar rumah. Tapi memang dasar pembaca iJakarta dan Penerbit Noura itu ajaib banget, baru mau pinjem buku, tiba-tiba udah waiting list aja. Hey, Bang Bara! Bukumu manis banget ini dikerumunin, sampai kemarin itu aku nunggu kayak nunggu jodoh. 😄 But, overall aplikasi iJakarta ini membantu banget karena aku nggak perlu repot bawa buku.

2017-05-29-19-28-06
Tampilan buku Luka Dalam Bara di aplikasi iJakarta. (waiting listnya numpuk 😨)

Untuk Bang Bara, terima kasih telah berusaha memeluk luka bersama, mengkristalkan kenangan dan menyemangati untuk mari bersama-sama jatuh cinta kembali. ❤
Untuk Noura, terima kasih telah mewujudkan fragmen ini dalam bentuk buku yang indah. 😘
Untuk iJakarta, terima kasih atas segala kemudahan yang diberikan 😘

Tulisan ini diikutsertakan dalam Reading Challenge Luka Dalam Bara #MembacaLuka kerja sama iJakarta dan Noura Publishing.
Oiya, dipersembahkan juga untuk kamu (yang mungkin sulit meluangkan waktu untuk sekadar membaca tulisan ini ☺)

With love,

DSD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s