Kebahagiaan Dalam Kebersamaan

pass.jpg

Judul buku : Passport to Happiness : 11 Kota 11 Cerita Mencari Cinta

Penulis : Ollie (@salsabeela)

Penerbit : Gagasmedia (@GagasMedia)

Tebal : 176 pages

***

Hai!

Hmm…  Kisah perjalananku yang paling membahagiakan?

Well. Sejauh ini, jalan-jalan selalu jadi hal yang paling membahagiakan. Kenapa? Kalau dulu-dulu selalu terbentur soal izin dari orang tua, kalau sekarang suka terbentur sama keperluan ini-itu. Jadi aku jarang banget jalan-jalan ke suatu tempat, I mean travelling. Tapi ada petualangan yang membekas sampai sekarang, walau mungkin untuk orang lain ini nggak ada apa-apanya.

23 Desember 2013

foto0170.jpg
hanya ini foto kami ber-9 yang lengkap

Rencana main yang sering gagal direalisasikan akhirnya mau nggak mau harus direalisasikan. Saat itu liburan semester 1 kelas XII, yang artinya UN SMK sudah di depan mata. Hampir 3 minggu sebelum tanggal 23 Desember 2013 ini (notabenenya masih suasana UAS semester ganjil), kami sering mengulang kalimat “Main yuuk! Yang agak jauh tapi… nginep ya :D”. Nginep di rumah siapa yang jauh? Haha ada-ada aja memang maunya. Tapi, ternyata selang beberapa hari akhirnya ada laporan kalau dua orang sahabatku yang rumah neneknya ada di Sukabumi dan sekitarnya itu bersedia aja memberikan penginapan barang semalam. Akhirnya setelah dikonfirmasi lagi, kami pilih yang paling mudah akses pulang-perginya.

Saat itu masih H-seminggu dari tanggal ini, kami masih memantapkan jadwal-jadwal yang berantakan (maklum, hampir semuanya anak organisasi jadi libur juga masih aja ke sekolah >_<). Waktu seminggu itu digunakan untuk fixasi ikut atau nggak, minta izin ke orang tua dan lain-lain. Maklum (lagi) masalahnya cewek-cewek yang mau ikut tuh belum tentu dapat izin main jauh apa lagi nginep. Jadilah aku minta izin sama orang tua, pertama-tama izin sama Mama. Kata Mama tanya langsung aja sama Bapak. Duh, dilempar-lempar izinnya. Akhirnya izin ke Bapak dengan hati deg-deg-an, “Pak, Iyas mau main…… tapi nginep. Boleh?”

Hening beberapa detik.

Hati sudah ciut mengkeret, ah pasti nggak akan diizinin deh kalo gini, pikirku.

Tapi tiba-tiba ditanya, “Berapa lama?”

“Tiga hari dua malam, Pak.” jawabku mantap. Percaya diriku muncul.

“Ke mana?”

“Ke rumah neneknya Dea di Cicurug, Sukabumi.”

“Ya sudah, boleh.”

Percakapan yang kurang dari tiga menit itu membuncahkan bahagia luar biasa. Kenapa? Karena beberapa hari sebelumnya, aku juga pernah meminta izin untuk menginap di sebuah villa di puncak tapi langsung ditolak mentah-mentah. Padahal itu acara kelas dan cuma semalam.

Setelah dipikir-pikir, mungkin karena kali ini tujuannya lebih spesifik dan Bapakku percaya. Wah, kepercayaan itu yang luar biasa mahal. Maklum, anaknya baru menginjak usia 17 tahun, untuk tiket izin-izin lebih selektif diberikan. Padahal hanya pergi ke Curug yang menghabiskan waktu kurang dari satu hari aja, ditolak mentah-mentah. Rumah di Bogor, tapi jarang ke Curug. Hufft. Bahaya katanya, itu katanya… Tapi yang terpenting kan izinnya, restunya.

Tiba-tiba setelah percakapan itu Bapak kembali bertanya, “sama siapa aja perginya?”

Wah hatiku ciut lagi, takut nggak diizinin karena yang pergi cowok-cewek. Kujawab seadanya, “ya kira-kira sepuluh oranglah, cowok-cewek. Empat cewek, enam cowok…” lalu kusebutkan satu per satu. Ada Dea, Sandra, Ade, Rizal, Rias, Japar, Dwiki, Agung, dan Mukti.

Kukira izin yang telah diberikan akan gagal, ternyata respon Bapak hanya “ooh..”

Akhirnya, jadilah perjalanan kali ini. Walaupun Ade batal ikut, ternyata kami dapat penggantinya, Indira hehe.. Oh iya, Rias juga ternyata tiba-tiba batal ikut. Tapi syukurnya kali ini semua rencana tetap berjalan seperti yang direncanakan, “kita berangkat tanggal 23 titik!”

Pagi itu aku tiba di meeting point pukul 06.45 dan sekitar dua sahabatku sudah ada di sana. Mereka bilang aku terlambat, padahal kami janjian berangkat pukul 7. Sepertinya mereka lelah menanti, soalnya mereka sudah di meeting point sejak 15-30 menit sebelum aku datang. Lalu satu per satu dari kami berkumpul hingga sahabatku, Dea, yang datang bersama angkot sewaan.

“Langsung berangkat yuk!” ajaknya

“Nanti dulu, masih kurang satu nih.” jawab Rizal

“Iya, si Depok belum datang.” timpal Japar.

Dea hanya bisa memanyunkan bibir, paham betul tabiat bocah satu itu. Yang dimaksud ‘si Depok’ itu Mukti, panggilan itu akrab di lidah kami karena memang rumahnya di Depok dan memang dia hobi terlambat.

Setengah jam berlalu dan kami mulai gerah karena harus menunggu. Satu per satu dari kami terus-menerus meneror Mukti via sms atau pun telepon agar dia cepat datang. Dan akhirnya dia datang, tepat sejam setelah jam janjian. Suasana keberangkatan kami jadi agak bete karena ngaret dari jadwal. Tapi suasana betenya nggak berlangsung lama karena percakapan mengalir seperti tiada habisnya.

Kami tiba di rumah nenek Dea yang tepatnya berlokasi di Cicurug, kab. Sukabumi pukul 10. Setelah berkumpul di ruang tamu beserta barang bawaan masing-masing, kami mulai saling bertanya tentang apa aja yang dibawa saat itu -_- Selang beberapa menit kemudian, aku mulai menyuruh mereka mengumpulkan ‘permen denda’.

foto0148.jpg

‘Permen denda’ itu apa sih? Jadi ceritanya demi berlatih menggunakan bahasa Indonesia yang ‘baik dan mendingan’ untuk menghadapi dunia kerja, setiap menggunakan kata ‘gue-elo’ kami didenda satu butir permen. Murah dan mudah, kan? Hanya dalam waktu hampir 2 minggu, sudah terkumpul lebih dari 120 butir permen dari 9 orang! Wow! Tapi manfaatnya, karena kami memang pelit dan medit soal duit, kata ‘gue-elo’ mulai sedikit demi sedikit hilang dari kebiasaan, kata-kata yang baku mulai muncul mengganti kata-kata gaul. Hmm.. sedikit positif mumpung mau menghadapi UN.

Permen ini akhirnya dikumpulkan dan diletakkan saja, siapa saja yang mau makan tinggal ambil. Tapi berhubung yang makan permen itu-itu aja, akhirnya dibagi rata.

Saat itu kami menyantap makan siang buatan Neneknya Dea, maklum sebagai tamu baru datang jadi belum bisa masak sendiri. Tapi urusan mencuci piring, kami punya jadwal piketnya.

Hari pertama kami dihabiskan dengan ngobrol, main kartu dan memandangi kabut jam 3 sore. Sempat jalan-jalan sedikit di sekitar rumah ditemani rintik-rintik hujan.

Yang mengharukan saat itu adalah ketika adzan maghrib berkumandang, walau dingin telah mendekap tubuh kami, tapi kami tetap melaksanakan shalat berjamaah diimami oleh Japar. Kakeknya Dea punya mushala kecil persis di samping rumah. Ketika kami keluar rumah untuk menuju mushala, kabut telah memenuhi pandangan kami. Subhanallah, benar-benar suasana yang berbeda dengan Kota Bogor dan ini lebih dari yang kami harapkan. Kami bersujud dalam syukur dan setelahnya kami membaca Yaasin bersama. Sungguh terasa adem luar-dalem.

Lagi-lagi kami makan malam buatan Neneknya Dea. Bukan tidak mau, hanya saja targetnya kami harus bisa masak sendiri untuk kebutuhan perut dan tidak ingin merepotkan.

Dan kami menghabiskan waktu hingga tengah malam dengan bermain kartu (lagi) dan yang kalah masih dicoret pakai bedak seperti tadi siang. Sebetulnya agak menyesal sih nggak bawa amunisi untuk liburan. Kebetulan aja Mukti yang lagi hobi main kartu tuh bawa kartu remi, jadi ada mainan hehe

Tidurnya nyenyak sekali, alhamdulillah.. tidur di mana aja jadi, yang penting cowok-cewek pisah. Aku yang terakhir pergi tidur, jadi aku bisa mengabadikan momen-momen ini wkwk walaupun ternyata Japar belum tidur.

24 Desember 2013

Pagi-pagi perebutan kamar mandi, sekalinya dapet malah pada ngalah -_- Lanjuuut main kartu lagi, tapi nggak dicoret pakai bedak soalnya mau jalan-jalan.

Kabar bagusnya pagi ini kami dikasih jatah dapur! hhe 😀 Sandra, Agung, dan dua orang lagi ikut bantu-bantu di dapur. Perjanjiannya, apapun hasilnya, apapun rasanya, wajib tetep harus dimakan!

Sayangnya, hasil masakannya kurang seperti yang diharapkan. Nasi gorengnya ternyata tercampur lalat karena dapurnya gelap. Akhirnya makan paginya masak lagi…

Jam 9 kami putuskan untuk berpetualang ke perkebunan murbei, mumpung kabut belum turun.

foto0221

Jalannya nggak lurus, turun dulu ke sungai kecil berbatu-batu lalu nanjak lagi.

Setelah sampai… sayang kebun murbeinya baru pembibitan dan mulai tumbuh, jadi belum nampak dedaunannya.

Ada pemandangan terasering juga di dekat villa milik seseorang. Kami berhenti dan berteduh dekat pohon bunganya sejenak membuat kami dihampiri satpam dan diusir secara halus. Anehnya, kami malah tertawa-tawa setelah diusir. Memang ya kalau ‘apa aja jadi seru kalau bareng lo’ dan ‘nggak ada lo nggak rame’. Semua jadi terasa seru dan membahagiakan.

Setelah diusir kami melanjutkan perjalanan dan mentok. Buntu. Dihadapan kami hutan kayu, entah mahoni atau jati aku lupa. Setelah duduk-duduk sebentar di mulut hutan sambil minum dan nyemil perbekalan, kami putar balik. Jalanan pulang melewati peternakan sapi dan kebun kecil yang ditanami daun bawang. Menurun melewati sungai yang tadi lalu menanjak kembali ke rumah.

Kami tiba di rumah nenek Dea sekitar pukul 11.00. Lalu kami bergegas patungan untuk bahan masak makan malam. Kini aku ikut giliran masak untuk makan malam. Belanja dulu ke warung terdekat yang jaraknya juga ‘lumayan’. Setibanya di warung pun bingung apa yang ingin dimasak dan harus sebanyak apa untuk memuaskan perut-perut lapar kami. Akhirnya belanja, ‘seadanya’, yang sekiranya akan banyak dimakan seperti tahu-tempe dibeli lebih banyak. Kami makan siang hanya dengan mie instan dan baso. Maklum, dikasih jatah dapur tapi kami lelah.

Mengisi waktu menuju sore, ada yang tidur siang, ada yang melek terus. Ada yang lucu sore itu. Japar tiba-tiba bangun setelah mendengar adzan. Dia langsung bergegas mandi dan berwudhu. Lantas? Dia mengajak untuk shalat Subuh. Lho? Hahaha 😀 Dia mengira adzan itu waktu shalat Subuh, mungkin karena lampu-lampu ruangan sudah menyala dan dia tidak biasa tidur siang. Jadi shalat yang seharusnya Ashar malah jadi shalat Subuh.

Sorenya aku dan yang lain masak makan malam. Saat masak juga sebenarnya lebih sering pada nimbrung bareng di dapur. Request ini-itu, seperti ‘cabenya banyakin’, ‘garamnya jangan banyak-banyak’, dan lain-lain. Masak-masak selesai, berarti saatnyaaa makaaaan! Apapun hasilnya, apapun rasanya.. Tapi sambelnya laris looh 😀

25 Desember 2013

Menghabiskan waktu bersama selama dua malam ternyata benar-benar membeberkan kebiasaan kami. Ada yang hobi nggak mandi, yang hobi mandi, yang nggak biasa mandi sore, yang nggak biasa mandi pagi, yang tidurnya mendengkur, yang susah dibangunin, yang makannya banyak, yang makannya cepet, yang hobi ngigau, yang hobi kentut, dan semuanya yang biasa ditutup-tutupin.

Yang terpenting buatku saat itu kebersamaan. Dan yang lebih berharga dari itu adalah… aku diizinin nginep lho! Hahah 😀

Sebenarnya, berat untuk pulang. Di sana suasananya lebih tenang dan dingin dibanding Kota Bogor. Oh iya, ada kabutnya juga ❤ tapi tetep harus pulanglah, kan itu rumah orang wkwk

Dua malam yang harus cukup untuk refreshing sebelum menghadapi segala persiapan UN.

Perjalanan pulang menghabiskan waktu 2-3 kali lebih lama dari perjalanan berangkat waktu itu, maklum macet. Aku sampai di rumah selepas Isya.

See you on the next trip, guys! Jangan lupa sama perjanjian-perjanjian kita walau udah pada lulus hehe ❤

Salam cerewet,

-ndut (yg sekarang udah kurus)-

PS : Maaf jika fotonya gelap, maklum saat itu masih menggunakan kamera hp 2 MP yang belum secanggih sekarang (meskipun sekarang belum punya yg canggih wkwk :D).

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi Passport to Happiness Giveaway yang diselenggarakan oleh Gagasmedia dan Acer.

passport to happiness

Iklan

2 thoughts on “Kebahagiaan Dalam Kebersamaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s