GRAMEDIA DISCOVER MY WORLD

G
source : https://www.facebook.com/gramediabookstore/

Pernah merasakan saat di mana seisi dunia rasanya tak menarik, terlalu menyedihkan, menyesakkan dan membosankan?

Aku sering merasakannya dan aku sering berlari. Lari dari segala kepenatan, kejenuhan dan ketidaksanggupan sebagai manusia normal yang punya batas atas kapasitas ide dan pengetahuan. Berlari menuju suatu tempat yang kurasa mampu untuk menjawab segala kekurangan yang kurasakan. Ya, aku punya tempat pelarian saat dunia terasa seperti yang kusebutkan di atas.

Siapa sih di tanah air tercinta ini yang nggak tau toko buku terlengkap, ternyaman dan ter ter ter lainnya? Yup, Gramedia. Tempat itu jadi pelarian yang paling asik. Aku paling suka dikelilingi buku. Aku paling suka tempat sepi nan tenang. Karena dari sebuah ketenangan dan suasana sepi yang difasilitasi dengan buku-buku itulah seringnya ide itu muncul. Ya emang sih ada perpustakaan, tapi seringnya nggak aptudet~

Aku bukan tipikal orang yang suka memanfaatkan toko buku ini sebagai sarana untuk baca buku gratis hingga habis. Tapi aku paling suka berlama-lama menghabiskan waktu untuk menatap satu per satu susunan buku dan sampulnya, melahap habis judul-judul buku yang ada, lalu membaca sinopsisnya. Eittss, khusus area novel, pendidikan/keilmuan akuntansi dan ekonomi saja sebenarnya hehehe.. kadang setelah mencari di situs gramedia.com lalu aku masih juga mencari buku itu secara fisik bukan memesannya secara online, supaya kelihatan lebih real kalau aku beli buku. 😀

Awalnya, aku diperkenalkan dengan Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang notabenenya adalah sebuah penerbit lewat novel milik mamaku yang berjudul Kubur Berkubah karya Agatha Christie. Saat itu aku belum tahu kalau ternyata ada toko buku yang namanya sama yaitu Gramedia. Tapi pada akhirnya setelah beranjak usia, aku mengerti bahwa sebenarnya mereka itu sebuah kesatuan, yang satunya adalah penerbit, yang satu lagi toko bukunya.

Terlepas dari ketidaktahuan di zaman jahiliah itu, sekarang aku tahu tempat nongkrong yang cocok dengan orang yang bertipe agak kutu buku seperti aku. Ternyata bukan lari ke cafe, bukan lari ke mall untuk shopping dan sebagainya tapi hening dengan dunia sendiri. Dunia buku. Kadang bermimpi kapan karyaku bisa diterbitkan penerbit nomer satu di Indonesia itu sehingga akan awet dipajang di toko bukunya ketika laris. Tapi tenang, lebih seringnya aku memuji, ternyata makin produktifnya penulis Indonesia dan makin bervariatifnya mereka. Tentu hal tersebut tak terlepas dari peranan ilmu pengetahuan dan ide yang mendasarinya. Dari mana mereka bisa mendapatkan itu semua? Pasti lewat karya tulis, tak lupa yang sudah berbentuk buku.

Tak heran kalau semua kembali bermuara pada buku. Kalau begitu, dari mana mereka mendapatkan buku? Hebatnya, toko buku Gramedia inilah yang paling dominan mensupply kehausan akan buku dan atribut lainnya di berbagai daerah di tanah air. Mungkin perbedaan harga dan waktu distribusi yang sering menjadi keluhan para pembaca. Tapi tenang, Gramedia akan berusaha memberikan yang terbaik.

Lokasinya yang selalu strategis, baik di sisi jalan raya utama maupun di dalam pusat perbelanjaan (mall) rasanya asing kalau di suatu kota tak terdapat toko buku ini.

Berbeda lagi dengan temanku yang tidak belum hobi membaca. Kebetulan kampus kami terletak dekat dengan salah satu toko buku Gramedia terbesar di kota itu, di Jalan Margonda. Membawanya ke toko buku ini langsung membuatnya bertanya, “Mau ngapain?” haduh frustasi rasanya. Tapi pelan-pelan aku mulai membuatnya asik sendiri di toko buku. Ya, walau kita berbeda, dia selalu asik di lantai satu yang berisi segala keperluan sekolah mulai dari alat tulis hingga ke perlengkapan sekolah seperti tas. Ada juga aksesoris, boneka dan alat musik hingga beberapa alat elektronik.

Berbeda denganku yang selalu asik memperhatikan satu per satu judul novel di lantai dua. Tiba-tiba dia mengeluh, “Ya ampun, Yas! Kaki gue pegel karena nunggu lo ngeliatin rak ini doang sampe setengah jam.” Hahahah ya kami berbeda. Tapi akhirnya dia kuambilkan salah satu sampel buku psikologi, lalu kusuruh dia mulai membaca judul dan sinopsisnya. Ternyata dia membaca satu bab pertama buku tersebut dan sulit untukku mengajaknya pulang. “Nanti dulu, Yas. Ini buku keren banget. Ternyata di Gramed asik juga baca gini. Buku-bukunya bagus.” dan aku hanya bisa tersenyum penuh arti memandangi tingkahnya. “Beli, bawa pulang ke rumah.” ujarku akhirnya.

So, bagaimana kamu melihat Gramedia? 🙂

Tulisan ini diikutsertakan di :

gramedia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s