SEBUAH KENYATAAN

[Diikutkan Dalam Lomba Menulis “Love With a Witch” by Hyun Go Wun]

Langkah hidupnya membangunkanku dari mimpi burukku. Dia tak pernah menggangguku. Namun kehidupanku seolah memaksanya melakukan hal-hal di luar batas kemampuanku sebagai manusia.

“Kamu sudah sadar, El?” sapaku.

Dia memiringkan kepalanya yang sedang berbaring di atas bantal putih. Senyum manis itu masih tak lepas dari wajahnya yang indah. Dia mengangguk, “Aku baik-baik aja kok, Jo. Jangan khawatir.”

Bohong! Senyum itu palsu. Sebenarnya ia sedang menahan sakit yang perlahan tapi pasti menggerogoti jantungnya.

“Semua yang menurutmu baik-baik saja belum tentu dalam keadaan baik-baik saja, El. Bisa jadi yang kamu kira ‘baik-baik’ saja itu sebenarnya klise.”

Matanya menatapku tajam. Tatapan yang tak pernah sekali pun kulihat dalam kurun waktu empat tahun sejak awal pertemuan kami. Tapi sekarang tatapan itu berhasil memaku tubuhku yang berdiri di samping tempat tidurnya.

“Aku baik-baik aja dan ingin pulang sekarang. Berlama-lama di tempat yang penghuninya adalah orang-orang yang sakit hanya akan membuat aku sakit. Paru-paruku sesak dengan bau obat-obatan yang diminum manusia.” dia berkelit.

“Kita pulang besok. Setelah tubuh kamu pulih.” aku bersikeras.

Sikap kerasku dibalas dengan wajah masam yang dibuat-buat. Anehnya dia semakin terlihat cantik di mataku. Tapi itu tak akan membuat pertahananku runtuh. Dasar kamu, El… gumamku dalam hati. Pertahananku akan runtuh jika melihat tubuhnya kembali roboh di depan mataku.

“Kalau kamu tetap bersikeras nggak biarin aku pulang sekarang, ya udah aku pakai sihir aja, ya?” ujarnya sembari menyatukan ibu jari dan jari tengahnya dan hendak memetiknya.

“Eiitts… tunggu! Jangan seenaknya menggunakan sihir kamu di tempat umum! Nanti aku yang kena imbasnya. Kamu kira…”

Dia menggeleng pelan, “Berhenti berbohong dan membohongi diri kamu sendiri, Jo. Aku tahu isi hatimu. Bukan itu alasannya.”

SKAK! Lagi-lagi aku lupa kalau El mampu membaca isi hati dan pikiranku. Tentu saja ia mengetahui semuanya bahkan sejak kali pertama kami bertemu. Dia curang… aku hanya mampu membaca isi hati dan pikirannya saat dia mengizinkan sedangkan ia leluasa masuk ke dalam hati dan pikiranku.

“Baiklah… aku akan meminta dokter agar kamu dipulangkan sekarang juga. Sesuai kemauanmu.” aku menyerah.

Dia tak berkata apa-apa lagi setelahnya. Aku membalikkan badan dan berlalu. Tapi aku tahu senyumnya telah kembali terbit di sudut-sudut lekukan pipinya dan mengantarkan kepergian punggungku hingga tak lagi terjangkau matanya. Dia selalu tahu aku akan selalu melakukan apa pun dengan tulus ikhlas demi senyum itu.

***

Hampir satu jam kami dikepung sunyi senyap tanpa sepatah kata pun. Dia mengunci aksesku untuk mengetahui isi pikirannya. Tapi aku yakin dia sedang leluasa memasuki pikiranku.

Aku baru tahu, ternyata diam membisu lebih lelah dibandingkan meluapkan rentetan kata-kata. Nyatanya, diam malah membuat bendungan kata-kata lebih menggunung dibanding terus-menerus dialirkan tanpa henti. Terlebih lagi, ribuan panah pertanyaan terasa lebih menyakitkan ketika tak berhasil disampaikan.

Aku takkan mengganggu dia yang sedang asyik bergulat dengan dunianya. Aku hanya membutuhkan jawaban atas segala pertanyaan yang muncul selama sebulan setelah dia keluar dari rumah sakit. Karena dia mendadak hilang tanpa alasan. Lalu tiba-tiba saja dia kembali dan mengajakku bertemu di tempat kami kali pertama bertemu -di bangku taman rumah sakit.

Jika dilukiskan dengan satu kata, hubungan kami terlalu lekat dengan kata ‘tiba-tiba’. Berawal dari kehadirannya yang secara tiba-tiba dan seketika mengubah warna hidupku yang serba hitam. Iya, serba hitam. Mulai dari hitam muda, hitam tua, agak hitam hingga hitam pekat. Aku jatuh hati padanya begitu saja. Lalu dia memberitahuku tentang dirinya, yang sebenarnya bukan seorang manusia. Yang mengherankan adalah aku tetap mencintainya hingga detik ini. Detik di mana aku masih sempat melukiskan semua ini.

“Ada lagi yang harus kamu ketahui tentangku, Jo.” suaranya terdengar bergetar.

“Apa?” tanyaku dingin.

“Jika dua tahun yang lalu aku sempat memberitahumu tentang aku bukanlah manusia sepertimu, sekarang kamu harus tahu kalau aku yang memilihmu.”

“Maksudmu?” aku merasa tersesat dalam pembicaraan ini.

“Kamu ingat kali pertama pertemuan kita?” dia menghela napas, “Sejak darahku menjadi bagian dari darah yang mengalir di tubuhmu, itu tandanya aku telah memilihmu.”

“Sejak kamu jadi pendonorku?” tanyaku memastikan. Darahnya memang menyelamatkanku dari ambang kematian. Iya, dulu aku adalah seorang pencopet dan nahasnya aku nyaris mati saat itu.

Dia mengangguk dan melanjutkan, “Bangsaku, Bangsa Penyihir Kehidupan, berhak memilih pendamping hidup. Entah dengan sesama penyihir atau bukan… maksudku, manusia.”

“Tapi ketika penyihir memutuskan untuk menggunakan wujud manusia selamanya, itu berarti menentang hukum dari bangsaku. Aku melakukannya, berarti aku harus siap menanggung risikonya.”

“Risiko apa?” sergahku.

“Seorang penyihir takkan bisa mati kecuali kekuatannya dikalahkan penyihir lain. Namun ketika penyihir memutuskan untuk menjadi manusia, tubuhnya akan memberontak” dia terdiam, “yang kalian sebut ajal, kami sebut dengan hukuman mati. Itulah yang akan menjemputku, tak lama lagi.”

Seketika itu dingin menjalari sekujur tubuhku. Lidahku kelu.

“Tak ada yang bisa kamu lakukan selain membiarkan semua yang harus terjadi tetap terjadi.”

Kalimat itu menjadi penutup dari pertemuan ini. Senyum itu masih melekat erat di wajahnya sambil berlalu meninggalkanku yang masih terkejut mendengar penjelasannya.

Cintaku tak butuh alasan tapi kenyataan menamparku….

Teknis Lomba Nulis #LoveWithAWitch

Iklan

24 thoughts on “SEBUAH KENYATAAN

  1. Keren, kak!^^ Eh, tapi, si Jo juga bisa baca pikiran si El? Itu artinya dia manusia yang bisa dibilang ‘berbeda’, bukan? Tapi aku gak nemu penyataan seperti itu. Eh, bener gak kesimpulanku? Hehehe 😀

    • hehe sebenarnya sih niatnya jawaban itu bisa diambil dari pernyataannya si El yang bilang “aku memilihmu” 😀 mungkin aku nulisnya gak nyampe maksud itu yaa ternyata? huhuhu :”) maafkan…
      makasih udah mau baca ya de :)))

      • hahah salah aku yang ngga mengarahkan pembaca ke arah yang aku maksud.. makasih ya de atas koreksinya. hopefuly nanti bisa lebih baik lagi :)) thanks a lot :*

  2. Halo Dias! 😀

    Aku suka tulisan kamu. Renyah dan banyak kiasan lucu yang aku suka. Kalau ada deskripsi fisik tentang tokoh cerita pasti bisa semakin membantu membayangkan tokoh-tokoh di cerita ini. Semoga lolos lombanya ya! 😀

    Oh ya, aku owner dari CariPenulis.com (@CariPenulis_Com on Twitter)

    Semangat menulis! 😀

  3. As always, magnificent!
    Aku selalu suka tulisan2 Dias, hehe. Makasih sudah memberi kesempatan aku buat baca ya. Sayang sekali ini cerpen, padahal aku penasaran ingin tahu peristiwa sebelum dan sesudahnya dari cerita ini hehe.
    Komentarnya… hmmm… aku sendiri sebenarnya agak tidak paham maksud paragraf pertama.
    “Langkah hidupnya membangunkanku dari mimpi burukku. Dia tak pernah menggangguku. Namun kehidupanku seolah memaksanya melakukan hal-hal di luar batas kemampuanku sebagai manusia.”
    Apa tepatnya yang dimaksud dengan ‘langkah hidup’ dan ‘kehidupanku seolah memaksanya melakukan hal-hal di luar batas kemampuanku’? Aku kurang begitu mengerti maksudnya…
    Tapi selain paragraf itu, semua tulisan Dias hampir ga ada cela. Penyusunan kalimatnya apik, aku suka.
    Oh, dan prasa ‘pengin’ mungkin bisa diubah jadi ‘ingin’.
    Good luck ya! ^^

  4. eh kok seru ya kalau baca review haha. ih bikin greget haha suka deh suka!! kapan2 mau beli novel ini.
    kadang meag apa yang diinginkan ga sesuai sama kenyataan. dia mau baca fikiran nya eh ga dikasih, tapi malah sebaliknya, yang melarang bisa dengan sesuka hati melanglang buana haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s