MALAIKATKU

[Cerita ini diikutsertakan dalam giveaway Rewind Back]

Di mana semua ini berawal, di sanalah semua ini harus berakhir…

Langkahku tergesa, setengah berlari. Semua ini karena satu jam yang lalu seseorang dari masa lalu menghubungiku. Aku tak tahu kalau setia untuk menggunakan nomor ponsel yang sama ternyata berguna. Tetapi nyatanya begitu, Tio berhasil menghubungiku. Sial!

Tak banyak yang disampaikan Tio dalam telepon, atau mungkin hanya aku yang terlalu kaget karena bagian dari masa depanku akan diisi oleh orang-orang dari masa laluku. Namun satu hal yang pasti, telepon itu berhasil membawaku ke tempat ini demi seseorang. Lagi.

Langkahku terhenti. Indera penciumanku telah sesak bau obat. Kapan kali terakhir aku ke sini? Sungguh, aku tak mau mengingatnya. Dinding, lantai hingga seragam petugas di sini yang serba putih membuatku mual. Aku benci tempat ini! Aku benci kalau sebenarnya dulu aku hapal betul semua lorong di gedung ini, termasuk ruang jenazah. Sebuah ruang yang begitu kelam untuk ingatan.

Kenapa harus ke sini? pikirku. Cukup! Mungkin yang harus kulakukan adalah berbalik badan dan keluar dari rumah sakit ini?

Tiba-tiba ponselku berdering membuyarkan lamunanku.

“Fei, aku tahu kamu di depan pintu, cepat masuk!” Klik. Itu Tio.

Kuhirup napas dalam. Kubiarkan bau rumah sakit memenuhi rongga paru-paruku agar aku yakin bisa menaklukkan kenangan buruk itu.

Dengan tiga langkah lurus, tanganku menggapai pegangan pintu. Aku terpaku. Kurasakan dingin mulai menjalari sekujur tubuhku saat aku menyentuhnya.

Krekk. Hanya dengan satu gerakan, pintu itu sedikit terbuka. Sontak aku melangkah mundur. Bukan aku yang membuka pintu! Ada seseorang yang membukakannya untukku.

Perlahan, pintu itu terbuka semakin lebar dan menampakkan sosok yang tak ingin lagi kulihat. Sosok yang pernah memenuhi seluruh sel di hatiku sekarang terbaring tak berdaya.

“Ran?” lirihku.

Kurasakan otot-otot tubuhku menegang. Bulu kudukku meremang. Sekujur tubuhku mulai bergetar. Gigiku gemeletuk. Ran terbaring dengan mata tertutup. Kantung darah, cairan infus serta berbagai alat medis malang-melintang di sekujur tubuhnya yang kurus kering sekarang.

“Masuk, Fei!” ucap sosok yang ternyata masih kukenal, Tio. Dia berdiri di balik pintu.

Aku berusaha tetap berdiri tegak. Perlahan masuk dan mendapatkan kejutan lain di sana. Mas Reno –kakakku- dan Tami sedang duduk di sofa tak jauh dari sisi Ran. Tami? Oh, ya Tuhan! Sudah pasti Tami ada di sini untuk menemani suaminya yang sedang terbaring lemah.

“Duduk, Fei.” titah Mas Reno.

Aku menurut. Duduk bersisian dengan Mas Reno, menghadap ke tempat tidur Ran.

“Aku harap kamu mau memaafkan semua kesalahan Ran, Fei,” suara Tami memecah keheningan, “aku udah bilang sama Mas kamu tentang kesalahan Ran di masa lalu. Dia sudah mengikhlaskannya, aku harap kamu juga.”

Kalimat yang meluncur dari mulut Tami membuatku bingung. Yang aku ingat hanyalah segumpal kekecewaan saat tujuh tahun yang lalu Ran meninggalkanku ke luar negeri  dan membawa Tami sebagai calon istrinya. Bibirku membeku, hatiku kembali pilu, “Kesalahan yang mana?”

Tak ada satu pun yang menjawab suaraku. Semua menunduk.

“Ran yang nggak sengaja menabrak Mama saat akan menghadiri wisudamu, Fei.” Mas Reno menjawab.

Seketika hatiku terasa dihantam godam. Sesak tak tertahankan. Aku tercekat, “Kenapa?”

“Dia nggak sengaja melakukannya, itu kecelakaan. Maafkan Ran, Fei.” Mas Reno berusaha menenangkanku.

Hatiku kebas, “Pembunuh tetap pembunuh, bukan? Perenggut kebahagiaan tetap seorang perampas.”

Aku berdiri dan mendekati tempat tidur Ran. Memandanginya dengan tatapan benci. Ternyata benar, cinta begitu dekat dengan benci. Bahkan, dinding pemisahnya transparan, hingga aku keliru kapan aku berada di labirin cinta dan benci.

“Tapi dia penyelamat hidup Mas, Fei.”

Spontan aku menoleh ke arah Mas Reno. Mungkin aku salah mendengar kata-kata Mas Reno barusan?

“Ginjal Ran, ada di tubuh Mas. Membuat Mas bertahan hidup hingga sekarang.”

Aku tak percaya, “Mana mungkin!” bantahku.

“Ran sudah tak sanggup hidup dengan satu ginjal, Fei. Sekarang, dia setiap hari cuci darah. Tugasmu hanya memaafkannya. Membiarkan dia tenang di saat-saat terakhirnya.” suara Tio terdengar dingin dan menusuk. Aku hanya sanggup menelan ludah. Separah itukah?

Hening kembali merajai, hingga…

“Maafkan aku, Fei.”

Suara itu…

Dengan gemetar kupalingkan wajah. Iya, itu Ran! Dia sadar! Menatapnya membuat hatiku tak keruan. Tio bilang Ran sudah tiga hari tak sadarkan diri.

Sepuluh tahun yang lalu, tanpa sengaja Tuhan mempertemukan aku dan Ran di tempat ini saat Mas Reno harus cuci darah.

Tujuh tahun yang lalu, Tuhan mengambil nyawa Mama di sini dan mendatangkan malaikat untuk Mas Reno dan aku. Tapi sekarang, malaikat itu yang tak lama lagi akan dijemput sendiri oleh Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s