KALUNG EMAS UNTUK IBU

Lagi, lagi dan lagi. Aku terhanyut dalam ingatan masa laluku. Aku memang bukan anak dari keturunan orang berada. Tapi aku merindukan saat–saat di mana aku masih merasakan kehangatan keluarga yang utuh, tinggal bersama kedua orang tuaku serta seorang adik perempuan yang kusayangi. Ingatan itu terus terngiang dibenakku. Andai saja kehidupan keluargaku masih seharmonis dulu. Andai.

Berbeda dengan sekarang, Ina, adikku dititipkan di rumah nenek sejak terjadi pertengkaran hebat yang terjadi antara ayah dan ibu.

Aku sedang dalam masa remaja yang seharusnya mendapat dukungan dan binaan dari keluarga ke arah yang benar. Tapi kenyatanya miris, aku malah kekurangan kasih sayang. Akibatnya, aku memilih jalan hidupku sendiri, hidup bersama anak jalanan dan menjadi pecandu rokok. Tapi sesekali aku datang ke rumah nenek sekadar untuk mengetahui kabar Ina.

Seperti sore ini, aku menemui Ina di rumah nenek sambil membawa kue kesukaan Ina.

“De, kamu baik – baik aja kan di sini?”

“…” Ina hanya tersenyum sambil mengangguk.

“Ini Mbak bawakan makanan kesukaanmu. Ambillah!” aku menyodorkan sebungkus plastik kue ke hadapan Ina.

“Kapan kita bisa berkumpul lagi seperti dulu, Mbak?” tanya Ina sambil mengambil plastik kue dari tanganku.

Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Ina membuatku seketika tak percaya. Adikku baru berusia 11 tahun, sedangkan aku 16! Tapi tiba-tiba saja dia bertanya seolah dia mengerti segalanya!

”Nanti. Kalau suasananya sudah ‘sedikit’ lebih baik.”  jawabku kaku.

Aku tak dapat memberikan jawaban lebih kepadanya. Lidahku terlalu kelu. Aku takut hanya akan membuatnya menanti saat–saat seperti dulu.

Kuputuskan untuk segera pamit.

***

Sepanjang perjalanan, terbesit keinginan dalam hatiku untuk pulang ke rumah orang tuaku. Dan tanpa kusadari, kakiku melangkah ke rumah orang tuaku. Jarak yang ditempuh antara rumah nenek dan kedua orang tuaku hanya berkisar 800 meter.

Namun seketika langkahku terhenti di ujung gang rumah orang tuaku ketika terdengar suara bentakan dan teriakan dari dalam rumah itu. Berat hatiku untuk melanjutkan langkah.

Seketika ingatanku menyeruak, berteriak dan mengoyak hati. Segala ingatan tentang ayah yang memperlakukanku kasar layaknya binatang membuat luka, bibit dendam dan kebencian yang pada akhirnya tumbuh subur di dalam hatiku itu mencuat lagi. Tak akan pernah ada yang mampu mengukur kedalaman semua luka, dendam dan kebencian itu. Hanya mataku yang mampu menyiratkan bahwa semua itu terukir jelas dan jelas-jelas semua itu bukan atas keinginanku.

Tiba-tiba, aku mendengar dengan jelas suara Ibu menjerit kesakitan membuatku tersentak dan tersadar dari kubangan kebencian. Segera aku berlari menuju rumah itu dan berusaha mendobrak pintunya yang terkunci.

Tak pernah kubayangkan akan mendapati ibu tergolek tak berdaya dan berlumuran darah di kepalanya. Tanpa berfikir panjang, aku berusaha mencari pertolongan dan membawa Ibu ke puskesmas terdekat. Ternyata ekor mataku menangkap peristiwa lain yang tak pernah kuinginkan, Ayahku sedang melarikan diri bersama seorang wanita dari pintu belakang rumah. Sial! Berani-beraninya wanita itu lagi!

Saat ini, aku tak tahu pasti apa yang menjadi pemicu atas kejadian kali ini. Tapi yang aku tahu pasti, wanita itu yang menyebabkan aku seperti ini. Kami seperti ini.

***

Sejak kejadian itu, aku bersikeras membawa Ibu keluar dari rumah itu. Namun jawaban yang terlontar dari mulut Ibu tidak sesuai dengan harapanku. Ibu tetap ingin tinggal di rumah itu untuk membuat suaminya –ayahku- sadar dan kembali seperti dulu. Walau pun matanya menyiratkan dengan jelas bahwa di dalam hati kecilnya, Ibu sadar kalau untuk mengembalikan segalanya seperti dulu itu mustahil.

Entah dengan cara apa lagi aku harus membujuk Ibu untuk lepas dari segala siksaan lahir batin itu. Bukan hanya Ibu, tapi mentalku juga. Namun setiap senyum itu berusaha meyakiniku bahwa semuanya akan baik-baik saja, hatiku yang miris teriris. Padahal sering aku melihat Ibu termenung sendiri dan menangis. Tapi sesering itu pula ibu bungkam seribu bahasa ketika kutanya ‘kenapa’. Dan akhirnya aku membulatkan tekad untuk terus menjaga dan membahagiakan Ibu. Aku berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkan rumah lagi dan akan berhenti merokok.

Hari demi hari aku jalani dengan bekerja untuk membantu Ibu membiayai kehidupan kami. Adikku tetap tinggal bersama nenek dan sekarang Ibu menjadi tukang cuci baju bagi tetangga–tetangga kami. Sedangkan aku bekerja menjadi loper koran dan tukang semir sepatu di pagi hari, kemudian menjadi kuli panggul beras di siang hari. Sebagian penghasilanku untuk simpanan karena uang simpananku yang sebelumnya habis digunakan untuk biaya berobat Ibu.

***

Tak hanya sampai di situ, ternyata cobaan kembali menghampiri. Ketika aku sedang menyemir sepatu milik langgananku di pasar, salah seorang temanku, Andi, membawa kabar tentang ayahku yang tewas setelah dipukuli karena tidak mampu mambayar ketika kalah berjudi. Seketika itu hatiku luluh lantak. Luka dan kebencian terhadap ayah saat itu juga luntur seiring air mata yang jatuh membasahi pipiku. Aku berlari sekuat tenaga. Pulang.

Ternyata benar. Bendera kuning telah berkibar di depan rumahku. Isak tangis pun mengiringi lantunan surah Yaasin yang menggema di ruang tengah. Baru saja aku menginjakkan langkah pertama di rumah, aku langsung dapat melihat dengan jelas jenazah ayah yang terbujur kaku. Sedangkan tak jauh dari sana, ibu dalam pangkuan nenek tak kunjung sadarkan diri.

Perlahan kurasakan badanku limbung. Di ruangan inilah sekarang keluarga kami utuh berkumpul kembali, ada Ayah, Ibu, aku dan Ina. Namun, di keadaan yang tak pernah kami duga sebelumnya. Di keadaan yang tak pernah kuharapkan, barang sedikit pun.

***

Kehidupanku berubah seketika itu juga. Tak akan ada yang memarahiku lagi, tak akan ada yang memukuliku lagi, serta tak akan ada lagi keluarga harmonis dan utuh seperti impianku saat melihat kebahagiaan orang-orang di luar sana. Sekarang, sebagai tulang punggung keluarga, aku berusaha memberikan yang terbaik untuk membahagiakan keluargaku. Aku ingin membahagiakan Ibuku. Orang tua satu–satunya yang kumiliki sekarang.

Telah lama kupendam perasaan bahwa aku ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk Ibu. Semenjak kepergian ayah, aku bekerja keras untuk mewujudkan keinginanku itu. Hingga akhirnya….

“Bu, ini untukmu, untuk wanita berhati baja yang selalu sanggup bertahan. Aku selalu dan akan selalu sayang Ibu.” kataku sembari melingkarkan sebuah kalung emas di leher Ibuku.

Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulut Ibu. Ia hanya menatap mataku dalam dengan segala keteduhan yang ada padanya. Perlahan sebuah senyum indah menghiasi wajahnya yang telah dibanjiri tetesan air mata. Ia memelukku.

Kalung emas itu dulunya adalah pemberian ayah dan sempat digadaikan dua tahun yang lalu karena kami tak memiliki uang untuk makan. Dalam hati, aku bangga karena akhirnya bisa menebus itu dengan uang hasil keringatku sendiri.

Maka malam itu, genap 100 hari kepergian ayah, aku berhasil memberikan sebuah kalung emas yang sempat terlupakan oleh ibu karena ia berpikir benda itu tak mungkin dapat ditebus. Namun sekarang, kalung itulah satu-satunya yang menjadi kenangan ayah untuk Ibu.

“Apa pun akan kulakukan demi Ibu…” bisikku.

Tulisan ini diikutsertakan pada #HariCintaUntukIbu #ILoveMom dari Bukune

i-love-mom

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s