*A SECRET LETTER*

bapakku

Dear my biggest love,

Assalamu’alaikum… Apa kabar? Ah, betapa konyolnya aku yang bertanya apa kabarmu sedangkan kenyataannya kita tinggal satu atap. Yang jelas-jelas tahu bagaimana kondisimu sekarang. Ah, aku memang tak pintar basa-basi. Tapi aku selalu berdoa semoga Allah selalu melindungimu dari penyakit-penyakit yang berusaha merusak pertahanan tubuhmu yang mulai renta.

Entah apa yang mendorongku untuk menulis surat ini untukmu, bukan untuk mama. Tapi yang pasti di satu sudut hatiku berteriak ingin didengar. Didengar bahwa anakmu ini juga mencintaimu… walau satu hal yang pasti, rasa cintaku padamu mungkin tak sebesar rasa cintamu padaku. Hal itu terbukti karena saat aku belum menyadari arti cinta, kau telah mengguyurku dengan kasih sayangmu sejak aku belum terlahir ke dunia yang sama sepertimu.

Bodohnya aku yang bahkan terlalu gugup dan seketika gagap ketika harus bertemu wajah Idul Fitri hanya untuk sekadar memohon pengampunanmu atas segala kenakalan dan luka yang telah kugoreskan di hatimu. Namun tetap saja pada akhirnya aku meminta maaf dengan gagu. Bukan karena aku tak ingin, tapi terlalu banyak luka yang kugoreskan seiring keriput yang muncul di permukaan wajahmu. Aku malu.

Walau aku tau, setelah itu kau akan memelukku, mengusap puncak kepalaku dan mengecup keningku seraya berkata, “yang pinter yah!”. Tahukah kau mengapa aku selalu memendam wajahku lalu pamit permisi ke kamar mandi? Ah, ternyata aku masih saja cengeng. Butiran bening dari sudut mataku belum juga bisa berhasil kutahan seperti inginmu waktu itu, “Jangan jadi cewek lembek! Cewek juga hatinya harus sekeras baja!”. Ya, aku menangis saat itu, tapi semua itu karena aku tak kuasa melihat kedamaian di kedalaman hatimu yang tulus dan luas memaafkan kesalahanku.

Lantas kenapa aku berani menulis surat ini? Karena aku yakin kau takkan pernah membacanya, dan biarkan Allah yang membisikkan angin cintaku padamu.

Andai kau ingin bercermin, Pak. Bercerminlah padaku. Bisakah kau hitung seberapa besar sifatmu itu ada padaku? Ah, tapi kau sering kali enggan secara lisan mengakuinya, bukan? Bukan masalah enggan, kau hanya tak ingin memperdebatkan ‘kemiripan anak’ terhadap orang tuanya, selalu begitu. Selalu keras kepala, sama sepertiku.

Aku tak tau harus berkata apa lagi. Mungkin terlalu banyak kemiripan di antara kita namun terlalu sering kita bersebrangan. Mari kita sudahi saja surat ini, karena aku yakin, cintamu takkan pernah berhenti mengalir bahkan ketika darahku berhenti mengalir.

Aku tak perlu kata cinta untuk melihat cinta yang nyata darimu karena segala tindak-tandukmu telah melukiskan cinta yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata. Dan dibalik segala ke-keras-kepala-an-ku itu juga terselip cinta yang ingin membuatmu bangga terhadap putrimu ini… Kau, takkan pernah terganti 🙂

Terima kasih atas boneka kembar pemberianmu yang belasan tahun dan hingga kini masih menemaniku :*

 foto1263

With Love,

-Anak sulungmu yang belum mampu balas budi-

NP : Tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Challenge Twins Universe

Banner-Lomba

Iklan

4 thoughts on “*A SECRET LETTER*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s