AKU….

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Menarikku lepas dari mimpi buruk itu ke kesadaran yang belum benar-benar sempurna, tepat tengah malam. Ini sudah malam ketiga mimpi itu menghiasi alam bawah sadarku. Aku tak tahu apa arti mimpi itu. Anehnya, kata-kata si penelepon itu sama persis dengan ucapan seseorang dalam mimpiku, “Andrea, waktunya pulang!”

Bodoh! Kenapa semalam telepon itu diangkat? makiku dalam hati. Andai semalam telepon itu tidak kuangkat, pasti aku bisa kembali memejamkan mataku. Semua ini karena suara dari penelepon misterius itu!

Masalahnya, aku ditinggal sendirian di sebuah rumah seluas 300 meter persegi. Dan betapa beruntungnya aku karena diberikan kamar bak rumah tipe 21. Setelah mengangkat telepon itu semalam, aku menyadari bahwa ketakutan mulai menjalari setiap senti tubuhku. Sempurnalah ketakutanku itu ketika hujan deras yang mengguyur kota tak kunjung berhenti. Kilatan-kilatan cahaya di kaki langit itu terlihat jelas dari jendela kamar lantai dua ini. Dasar kota hujan!

Berjam-jam aku hanya mondar-mandir di kamar. Mulai dari berpindah satu sisi kasur ke sisi yang lainnya. Mencoba berbaring dan menutup wajah dengan bantal. Namun kegelisahan yang menang dan akhirnya aku hanya duduk bersandar di sofa. Padahal aku sudah coba membaca novel dengan berharapan bahwa aku dapat segera kembali tertidur. Nihil. Aku tetap terjaga hingga jam berbentuk kodok berwarna hijau di meja samping kasurku sekarang menunjukkan tanggal 9 Februari 2014 pukul 10 lewat 15 menit. Usahaku sia-sia.

***

SREEEETTT….

Suara pintu gerbang depan rumahku terbuka. Kupikir Mama sudah pulang. Namun setelah beberapa menit menunggu, tak kunjung ada suara pintu gerbang kembali tertutup. Mungkin karena di luar hujan deras jadi pintunya belum sempat ditutup lagi, pikirku. Karena penasaran tak ada suara mobil, aku melangkah menuju jendela kamar dan menyibakkan gorden.

Ternyata benar, gerbangnya masih dibiarkan terbuka dan … ada sosok yang berdiri tepat di ambang pintu gerbang. Menatapku penuh penyesalan dari sana.

“Gilang?”

Aku terpaku menatap tubuhnya yang diguyur hujan itu tanpa berniat sedikit pun untuk berlari turun lalu menghambur ke pelukannya. Hidupku bukan sinetron atau cerita-cerita manis di FTV. Tentu saja tak mudah bagiku memaafkannya karena kejadian tiga hari yang lalu. Bukan, dia bukan pacarku atau calon pacarku. Bahkan mungkin sampai ajal menjemput pun Tuhan takkan menuliskan takdir bahwa kami akan dipersatukan.

Kulihat dia menundukkan wajahnya lalu berjalan ke arah beranda. Saat itulah aku yakin bahwa aku harus turun dan menghampirinya. Iya, turun dan meminta penjelasan tentang tiga hari yang lalu

***

Aku berdiri di ambang pintu, menggenggam erat gagang pintu yang tiba-tiba terasa dingin. Tersisa jarak dua meter dan tiga buah anak tangga antara aku dan Gilang —yang sekarang berdiri di hadapanku.

“Kamu… masih di sini?” tanyanya.

Aku terdiam kemudian menjawab pelan, “Iya.”

Memang seharusnya di hari Minggu hujan seperti ini aku di mana? gerutuku dalam hati.

Keheningan mulai menjalari waktu. Kami mematung dan saling bertatapan. Sumpah aku takkan pernah jemu memandangi tubuh kekarnya seharian kalau saja hatiku tidak sedang meminta penjelasan!

“Andrea,” suara baritonnya kini terdengar pilu. “Waktunya pulang.”

Aku menelan ludah. Bibirku mengatup. Kurasakan rahangku mengeras. Kalimat itu…

”Pulang?”

Dia mengangguk kaku. Terlihat guratan kesedihan di wajahnya yang biasanya ceria. Dia mengulangnya, “sudah waktunya pulang, Andrea.”

“Tunggu! Apa maksudmu? Ini rumahku. Pulang? Ke mana? Jangan tiba-tiba menyerangku dengan kata-kata itu!”

Sekarang berbalik, dia yang bungkam. Berusaha terlihat setegar mungkin. Ia menunduk dengan tatapannya kosong. Ada apa ini?

“Sekarang jelaskan padaku kenapa kamu nggak datang tiga hari yang lalu!”

“Ikut aku!” katanya setelah lama bertahan dalam diam.

***

Tiga hari yang lalu…

Cermin rias di hadapanku memantulkan senyumku yang mengembang. Sore ini, aku mengenakan dress berwarna putih dengan motif garis dan hiasan bunga berwarna cokelat. Selama beberapa menit mematut diri di depan cermin sembari memegang kue tart berdiameter 16 senti.

“Manis! Kamis selalu manis. Kamis manis!” seruku. “Sekarang, waktunya berangkat.”

Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk tiba di taman tak jauh dari kompleks perumahanku. Seperti biasanya, taman tampak ramai hanya dengan beberapa komunitas yang akan bubar sekitar pukul empat sore. Kulirik arlojiku.

“Hmm… sekarang hampir jam setengah empat. Gilang di mana ya? Nggak biasanya… ”

Kuputuskan untuk menunggu di bangku taman yang biasa kami duduki —bangku tengah yang menghadap ke persimpangan jalan. Berharap Gilang datang secepatnya.

Tiba-tiba ponselku berdering. Sejenak kutatap layarnya. Awalnya kukira Gilang, namun nama yang terpampang di sana ternyata… Mama

“Halo?”

“Halo. Ada apa, Ma?”

“Mama mau pergi dulu ya, hari Minggu baru pulang ke rumah.”

“…”

Biasanya Mama tak pernah memberi kabar kalau ingin pergi kapan pun dan ke mana pun.

“Ke mana, Ma?” akhirnya kata-kata itu meluncur dari bibirku.

“…”

     Kini berbalik, Mama diam. Untuk beberapa detik yang lama, akhirnya Mama menjawab. “Kakakmu akan menikah lusa. Mama harus mendampinginya.”

“Kakak?” seketika lidahku kelu. Aku anak tunggal! sergahku dalam hati.

“Namanya Rama. Dia anak dari suami pertama Mama.”

Klik! sambungan telepon diputus.

Hatiku semakin tak keruan. Bisa-bisanya selama ini mama menyembunyikan rahasia dariku! Padahal sudah sepuluh tahun ini kami hanya hidup berdua.

Harusnya Gilang ada di sini mendengarkan semuanya. Pandanganku menjamah ke sekeliling. Nihil.

Cukup. Ini sudah lewat dari jam setengah lima. Harusnya, aku dan Gilang bertemu setiap hari Kamis sore jam tiga hingga jam lima di sela kesibukannya. Namun hingga kerumunan orang-orang di sekitaran taman mulai sepi, tetap sosok Gilang tak muncul.

Baiklah, aku menyerah kalau seperti ini. Egois memang, karena nyatanya tak pernah selama ini seorang Gilang membiarkanku menunggu semenit pun.

Aku berdiri sembari tetap memegang kue tart yang kubawa dari rumah. Tak ada keinginan untuk membawanya pulang. Dengan senyum miris dan tatapan nanar aku malah berbicara pada benda mati itu seakan itu Gilang.

“Di mana pun kamu sekarang, aku harap kamu ingat kalau hari ini, tanggal 6 Februari yang ke-15 untuk persahabatan kita. Ini aku bikin kue tart untuk kamu. Seluruh lapisan luarnya dari cokelat warna biru, warna kesukaan kamu dan rasa favoritku.”

“Hmm… wanita yang sedang menempati ruang tersembunyi di dasar hatimu itu —yang aku harap dia adalah aku— nyatanya bukan aku, ‘kan? Miris.”

Aku menghela napas, “Awalnya aku ingin mengungkapkan semua ini di sini, sekarang, di hadapanmu. Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain. Mungkin kamu nggak akan pernah tahu kalau harapanku mulai melambung sejak tiga tahun yang lalu kamu memberiku asap harapan yang membubung tinggi, ternyata cuma asap, ‘kan? Aku memilih mundur dari ketidakjelasan ini, Lang. Di matamu aku seperti bayangan.”

“Sebenarnya tak pernah ada kata usai untuk menunggu cinta, Lang. Tapi ada kalanya ia jemu dan menyerah….”

***

Lidahku terlalu kelu untuk mengungkapkan semuanya di sini. Bukan aku tak mau menjawab pertanyaannya. Tapi aku hanya mampu membiarkan dia mengikutiku dan menyadari yang semestinya dia sadari, “Ikut aku!”

Awalnya kulihat dia bergeming. Tetap berdiri di ambang pintu menatapku ragu. Beberapa menit kemudian dia berbalik.

Sejujurnya aku takut dia akan berlari masuk kembali ke kamar. Namun nyatanya, dia masuk hanya untuk mengambil kunci rumahnya. Sejenak kembali meragu dengan tatapan penuh tanda tanya. Tak ada yang mungkin bisa kulakukan selain meyakinkannya, “Ayo! Kujelaskan semuanya….”

Kemudian dia menyejajarkan langkahnya denganku. Mempercayakanku bahwa semua tanda tanya dalam benaknya akan terbayar lunas. Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku atau pun Andrea, hingga kami tiba di tempat yang seharusnya menjadi pertemuan terakhir kami. Taman.

“Kamu ingat sesuatu yang terjadi di sini?” tanyaku.

“Aku hapal mati setiap pertemuan kita, termasuk taman ini.” jawab Andrea mantap.

“Kalau begitu, kamu pasti tahu apa yang terjadi di sana tiga hari yang lalu.” aku menunjuk ke persimpangan jalan bergaris polisi yang berjarak beberapa meter dari tempat kami berada.

“Tiga hari yang lalu tak ada garis polisi di sana.”

“Kalau begitu, tak ada pilihan lain selain membawamu kepada kenyataan, Drea. Tunggu, akan kutunjukkan sesuatu.”

Kali ini aku mengambil mobilku yang terparkir di sebelah kanan taman. Tanpa harus membuat Andrea menunggu lama, aku langsung menyuruhnya masuk ke dalam mobil.

Kemudian suasana kembali hening. Hanya deru mobil yang menghiasi perjalanan kami yang tak lama jika ditempuh dengan mobil, cukup sepuluh menit.

Namun tiba-tiba saja aku kaget saat tangan dingin itu menyentuhku…

“Untuk apa kamu membawaku ke rumah nenek, Lang?” tanya Andrea memecah keheningan saat kami tiba di sebuah rumah dengan halaman yang luas.

“Kita turun sekarang!” perintaku.

Agaknya dia ragu menurutiku. Namun tidak setelah dia melihat bendera kuning berkibar di salah satu tiang penyangga rumah itu. Dia tergesa turun dan setengah berlari menuju tiang itu.

“Lang! Siapa yang ….” kubekap mulutnya.

“Ssstt! Ikuti langkahku.”

Dia menurut dan melangkah di belakangku. Aku tergesa melangkah ke halaman samping. Sekarang saatnya, batinku.

“Andrea, lihat dan baca baik-baik!”

***

Andrea Febriyati

binti

Doni Mulyana

Lahir  : 2 April 1989

Wafat : 6 Februari 2014

Rasanya mustahil! Namaku tertulis di batu nisan sebuah  pusara yang gundukan tanah merah dan berbagai bunga di atasnya masih segar!

“TIDAAAKKK!!!” Aku mulai histeris. Kurasakan tubuhku limbung. Terlebih ketika melihat sosok wanita yang teramat aku cintai di dunia ini berjalan ke arah kami.

“Rama, kenapa kamu masih di sini? Biarkan adikmu tenang, Nak. Mama juga takkan pernah rela dia pergi mendahului kita.”

“Rama? Adik? Mama?” aku tertegun memandang Gilang di hadapanku. Aku mencoba berteriak, “MAMA!”

“Kau takkan membantah Mama, ‘kan, Gilang Nur Ramadhan? Ayo, masuk!”

***

Iklan

9 thoughts on “AKU….

  1. alurnya bagus dr judul gk keliatan alurnya. jd bikin penasaran. tp ada kalimat yg memang saya gk mengerti yaitu kelu. baru denger soalnya pas baca.hehe. yaudah itu aja kali ya 🙂 .terus membuat lebih bagus lagi :))

  2. iaass.. tapi judul n alur ceritaaanya berbanding lurus ga sih? hehe, masih belum nemuin hubungannya.

    nyoba nyoba komen nih yaa *karenadipaksajugaa
    perpindahan sudut pandangnya buat gue (mungkin cuma bagi gue) rada ngebingungin nih..
    alurnya emang bikin penasaran Iaas, tp dari kata, “kau harus pulang” itu sempet bikin statement, “wah mungkin si andrea waktunya udh abis tuuh, jangan2 si gilang itu malaikat maut penjemput”.

    gue juga seneng bgt benerr ngeimajinasiin penggambaran suasana, tempat, dll. pas di bagian “aku berjarak 2 meter dari gilang dan tangga” gue bingung, gimana ya ini, tangga yg mana ya? kok asaan deket bgt gitu. entah kurang detail ato guenya aja yg kurang cepet nangkep? hoho..

    terus apalagi ya..

    tp gue sukaa iaas alurnya, sempet merinding pas ngebaca tulisan di nisannya hehe..

    ias, ini cerita apa berarti ada fantasinya gitu ya? yg si gilang ngejemput andrea?

    aiih, maap yaaa sosoan komen, panjang lagi, terus berkarya yg keren yaa.
    jadi kepengen publish buatan gue juga deh tp maluu hehe 😀

  3. Eh, apa yang mau aku bilang sudah dibilang oleh komentar sebelumnya. :)) Yaitu, tentang keselarasan judul dengan cerita, serta pergantian sudut pandang yang agak bikin bingung.

    Komentar lain dari aku, jalinan kalimatnya rapi. Bagus. Alurnya juga oke. Twisted ending meski twist-nya nggak terlalu istimewa.

    Selesai baca, ada beberapa pertanyaan yg timbul. Menjelaskan kenyataan sebesar punya-saudara-lain hanya lewat telepon? Terlalu terburu-buru. Omong-omong, Gilang tahu nggak, ya, kalau Andrea ini adiknya?

    • hehe makasih kak.. jadi gantung ya? sebenernya kalau yang hanya-lewat-telepon itu pengen nyiratin hubungan Andrea sama Mamanya yang ngga harmonis.. Nah, kalau yang Gilang, niatnya sih dengan dia sendiri yang nunjukkin makam itu otomatis sebenernya dia tau kalau Andrea adiknya~
      makasih lho kak udah bersedia komentar 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s