Yang Mungkin Kau Lewatkan

Apa yang terlintas dalam benakmu ketika mendengar kata ‘cinta’?

Apa yang kamu rasakan ketika mendengar kata ‘cinta’?

Entah kenapa aku berfikir cinta adalah satu kata, berjuta getaran yang tak kasat mata, miliaran pengorbanan tak berbalas.

Setiap manusia memiliki hati, tapi sayangnya orang yang kamu cintai pun punya hati. Semua orang juga tau hal itu…

Hanya saja, kamu sadar nggak kalau hati dia itu untuk kamu? Baiklah kalau kamu bahkan yakin hinggak seribu persen kalau hati dia itu untuk kamu.

Yang menjadi masalah berikutnya adalah apakah hatinya hanya untuk kamu seorang? Kok ragu gitu jawabnya?

Pernah sakit hati? Oh, aku juga pernah kok. Tapi kalau patah hati? Hmm…

Sini sini, aku ajak merenungi ‘cinta’ senjenak…

Siapa yang terlintas dalam benakmu saat membaca kalimat pertama yang aku tulis di atas? Kekasihmu alias pacarmu itu itukah?

Hhhhh… baik, mari kita bicarakan hal yang mungkin terlewatkan di benakmu. Mungkin kamu akan berfikir bahwa membaca postingan ini menjemukan atau malah buang-buang waktu saja. Tapi aku takkan mundur atau berhenti sampai di sini. Mari kita mulai!

Aku, kamu, kita, sama-sama masih remaja… Menurutku hal yang wajar ketika mendengar kata ‘cinta’ yang teringat di benak kita adalah someone special yang alias si dia yang istimewa itu tuh. Tapi pernah nggak sih kamu berfikir, kalau kamu capek pindah-pindah ke lain hati alias move on hanya karena sedikit kesalahan yang membuat hubungan kamu yang istilahnya jadi… hmm ‘bubar’. Aku di sini nggak akan mempermasalahkan siapa yang salah di antara hubungan kamu, nggak. Itu masalah kamu, dan kamu yang menyelesaikan masalah kamu sendiri. Bukannya memang cinta itu masalah kesepakatan? Sepakat untuk seiring seirama menanti duka yang dibasuh lara hinggak tersapu sesuatu yang mengikat dan menjerat bernama sang waktu.

Hanya saja di sini aku ingin mempermasalahkan, apakah pernah sekali saja ketika mendengar kata ‘cinta’ yang terlintas di benak kamu bukan dia, melainkan orang tua kamu sendiri?

Mungkin ada yang mulai memutuskan untuk menutup halaman blog ini, tapi tunggu dulu. Aku tidak bermaksud untuk menceramahi atau menggurui, hanya sharing semata.

Terkadang aku pun lupa. Aku terlalu asik dengan segala ingar bingar kehidupan remajaku. Hingga aku menyadari segala kesalahan itu…

Apa sih yang si doi kasih ke kamu sampai hidup kamu persis kayak lagunya Bunda Maia Estianty yang judulnya Ingat Kamu? Aku mau makan, aku mau tidur, dll semua kebayang mukanya si dia terus.

Tapi anehnya, sebagai anak kita lupa kalau kita udah dikasih ‘segala’-nya sama orang tua kita. Inget ya SE-GA-LA-NYA!

Kenapa, nggak percaya? Nggak percaya karena orang tua kamu selalu ‘melarang’ kamu? Berarti kalau aku bilang orang tua kamu LEBIH MENCINTAI KAMU DIBANDING SIAPA PUN DI MUKA BUMI ini berarti kamu juga nggak percaya? Baiklah kalau masih nggak percaya juga. Ayo kita mulai hitung-hitungan!

Berapa umur kamu? Misalnya, 20 tahun. Berarti, 20 tahun=7.300 hari (kurang lebih). Kamu berani mengkonversi ke rupiah? Anggaplah 7.300 hari x Rp 50.000= Rp 365.000.000. Di usia kamu yang 20 tahun sanggupkah kamu menggantikan 7.300 hari yang telah kamu lewati ini dengan total biaya Rp Rp 365.000.000? Kamu sanggup? Hebat! Sayangnya, pada kenyataannya per hari kamu tidak hanya menghabiskan uang orang tuamu sebesar Rp 50.000, bukan? Terus ASI yang kamu minum dulu dan sekarang sudah menjadi bagian dari darah yang mengalir di tubuhmu itu juga bisa kamu ganti?

Lantas apa yang sudah pacarmu berikan untukmu? Sebandingkah? Masihkah dia pantas berada di posisi teratas di ingatanmu? Yang amat sangat kamu prioritaskan kepentingannya hingga yang ada di benakmu hanya namanya!

Cinta memang tidak akan pernah bisa dinilai dengan uang, karena cinta yang murni dan tulus tanpa paksaan apa pun adalah salah satu mata uang yang sebenarnya tidak bisa diuangkan.

Lah, terus kenapa aku capek-capek ngebandingin apa yang udah orang tua kamu kasih dengan apa yang pacar kamu kasih, sampai harus ngitung gitu? Supaya kita sadar, seberapa besar pengorbanan orang tua kita. Seberapa besar kita telah ‘membebani’ mereka ketika kita ‘menomorduakan’ mereka.

Pernah nggak orang tua kamu meminta kamu membalas semua pengorbanan mereka? Sayangnya nggak, kan? Pasti sering denger kan kalau cinta itu nggak berbalas? Nah iya, cinta dan kasih sayang dari orang tua itu yang nggak berbalas! Tapi terkadang itu paling terlupakan gitu aja.

Kalau memang mereka meminta balasan, apa iya orang tua kamu meminta kamu merasakan betapa sulitnya keadaan Mama atau Ibu atau Bunda kamu itu ngebawa-bawa kamu di perutnya setiap detik selama 9 bulan mengandung kamu? Atau pernah kamu diminta merasakan betapa takutnya keadaan Mama kamu saat berjuang diambang kematian demi membiarkan kamu bisa menghirup udara yang sama dengan yang dihirup kedua orang tua kamu? Atau pernah kamu diminta merasakan betapa letihnya Ayahmu itu bekerja membanting-tulang demi bisa membuatmu terlahir dengan selamat lewat persalinan terbaik? Andai saja pori-pori di kulit Ayahmu itu bisa bicara, mungkin saja mereka letih telah mengeluarkan berkubik-kubik keringat yang diperuntukkan hanya untuk melihat kamu bahagia hingga detik ini.

Apa kamu nggak ingat juga betapa cintanya mereka ke kamu tapi kamu malah asyik dengan gadget baru kamu atau bahkan laptop kamu? Yang perlu kamu ingat adalah cinta mereka ke kamu nggak akan pernah berhenti mengalir bahkan ketika darah kamu berhenti mengalir!

See? Lantas kenapa kamu masih ‘menomorsatukan’ si doi di setiap aktivitasmu? Orang tua kamu melarang kamu keluar rumah tapi kamu bilang mereka ‘jahat’, ‘nggak pengertian’, ‘nggak tau kepentingan’ kamu dsb. Eh tapi giliran si doi yang melarang kamu ketemu seseorang atau melarang kamu main ke mana, kok kamu nurut ya? Aneh.

Kamu tau itu salah satu bentuk cinta mereka ke kamu? Padahal niat orang tua kamu bagus kok kalau menurut aku, kamu disuruh diam di rumah supaya nggak kecapekan atau nggak perlu keluar rumah kalau nggak terlalu penting karena takut kamu kenapa-kenapa di jalan. Tapi kalau si doi sih aku rasa supaya kamu nggak perlu deh cuci mata ngelihat yang lain saat kamu ketemu orang lain.

Kamu juga tau kan kalau cinta itu nggak bersyarat? Apa lagi cinta dari kedua orang tua kamu. Nggak perlu deh kamu selalu merayakan happy anniversary seperti yang sering kamu lakukan sama doi, ngasih kado dll (padahal baru pacaran aja). Beliau hanya meminta kamu selalu mengingatnya dan mengingat Tuhanmu yang telah menciptakan kamu di setiap helaan napas kamu, di setiap kalimat yang terucap di doamu. Simple, bukan?

Apa pernah mereka menuntut lebih? Kalau boleh curhat, mama dan bapak aku adalah orang yang paling males kalau ada perayaan-perayaan gitu. Bahkan saat aku memberi mereka kado di tanggal anniversary pernikahan mereka. Respon mereka datar-datar aja tuh. Mereka cuma bilang, “Doain aja mama sama bapak sehat terus ya sampai nanti.”. DEG! Sampai nanti? Sampai kapan??? Ada yang bisa jawab? Itu semua beliau katakan karena cinta adalah kasih sayang yang hanya menuntut ketulusan. Untuk mereka, orang tua kamu, mereka hanya ingin anaknya selalu mengingatnya sama seperti mereka yang selalu mengingat kamu bahkan setelah kamu merantau ke negeri orang. Aku yakin kamu pasti tau kalau nama kamu selalu jadi yang pertama, utama dan selalu diucapkan dalam ucapan doa kedua orang tuamu.

Seberapa pun tak acuhnya sikap kamu kepada mereka, mereka selalu tau apa yang kamu rasakan. Toh mereka selalu tau apa pun yang kamu inginkan sekali pun kamu nggak mengutarakannya kan? Mereka selalu akan berusaha mengabulkan semua permintaan kamu selama itu bisa mereka kabulkan, sekali pun tuntutan kamu itu di luar batas kemampuan orang tua kamu. Karena cinta itu selalu membutuhkan pengorbanan yang besar.

Mereka berkorban untuk kamu, terus kamu berkorban apa untuk orang tua kamu? Sedangkan kamu aja nggak pernah memberikan detail aktivitas kamu ke mereka tapi si doi selalu kamu kasih kabar tiap menit bahkan tiap detik. Kalau nggak ngabarin terus berantem, tapi endingnya pasti melas-melas minta baikan. Ke orang tua kamu pernah ngga melas-melas gitu? Padahal di rumah, orang tua kamu selalu berdoa semoga kamu bisa kembali ke rumah dengan selamat tanpa gangguan apa pun. Pacar kamu mana pacar? Dia paling cuma sms, “Hati-hati di jalan yah, yang :* ”. See? Syukur deh kalau pacar kamu itu nganterin kamu selamat sampai di rumah.

Eh, tapi kenapa kamu marah ketika kamu dilarang pacaran sama orang tua kamu? Di satu sisi mereka itu nggak mau hati kamu terbagi sebelum waktunya (alias married).. di sisi lain, mereka nggak mau hati kamu tersakiti oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Iya nggak sih? Kan kalau kamu yang galau terus susah move on malah nyusahin kedua orang tua kamu… bahkan ada yang galau terus gantung diri. MasyaAllah.. *stop bayanginnya*. Orang tua kamu aja udah usaha setengah mati buat ngikutin kemauan kamu, ngebesarin kamu, tapi kamu si buah hatinya malah disakitin sama orang lain. Gimana nggak ngamuk orang tua kamu? Terus kalau yang ada di benak kamu cuma si doi terus padahal belum waktunya, emang orang tua kamu rela? Iklan aja bilangnya “Emang rela bagi-bagi?”.

Pernah merasakan cinta kamu bertepuk sebelah tangan, kan? Aku yakin orang tua kamu juga merasakannya ketika kamu asyik dengan dunia kamu sendiri. Kenapa aku bisa yakin? Karena aku sering melakukan kesalahan itu, tapi aku sadar.

Kalau di antara kamu mungkin ada yang disuruh kerja sama orang tua kamu dan kamu merasa kamu ‘diperas’ sama orang tua kamu. Kamu SALAH! Kamu disuruh kerja itu supaya kamu bisa berdiri sendiri menghadapi dunia. Terlebih lagi supaya kamu berguna bagi keluarga, bangsa, negara dan agama sesuai dengan doa dan harapan semua orang tua di luar sana kepada anaknya.

Cinta itu nggak menuntut kok.

“Tapi aku dituntut tuh suruh milih jurusan kuliah ini padahal aku nggak mau. Atau aku disuruh kuliah di sini padahal aku nggak mau.”

Sssuuutt…. dipikir lagi deh… orang tua kamu mikirin prospek ke depannya, masa depan kamu. Coba didiskusikan aja sebenarnya maksud dari arah pembicaraan orang tua kamu. Mereka selalu ingin yang terbaik untuk anaknya semampu mereka. Mereka mencintaimu! Walau pun cinta itu adalah partikel kehidupan yang tak harus selalu diucapkan tapi diungkapkan. 🙂 Toh buktinya, kalau mereka kumpul dengan orang tua lainnya, apa yang mereka banggakan? Kamu, anaknya! Bukan perhiasan. Bukan segala properti dan kekayaan lainnya. Bukan! Semua pembicaraan akan bermuara pada si buah hatinya.

Pernah kamu berbuat sebaliknya? Bukan. Bukan kekayaan milik orang tuamu. Tapi tentang diri orang tuamu. Semoga kita selalu dapat mencintai mereka dengan tulus sehinggak mereka bisa merasakan cinta kita ya 🙂

Terakhir,

Kamu harus sadar kalau cinta kamu ke kedua orang tua kamu nggak pernah bertepuk sebelah tangan kok. Setiap orang tua punya cara mencintai anaknya sendiri 🙂

Kamu harus sadar di setiap helaan napasmu itu ada Tuhan yang memberikan kamu cinta yang indah. Termasuk kasih dan sayang yang tercurah lewat kedua orang tuamu.

Kamu harus sadar sekali pun kamu berpikir tidak ada yang memperhatikanmu, kedua orang tua kamu itulah yang selalu menjadi pemerhati nomor satu dalam hidupmu.

Kamu harus sadar sekali pun dunia membencimu dan kamu nggak tau kemana kamu harus pulang, kedua orang tuamu itulah satu-satunya tempat yang selalu terbuka lebar menerima segala kekuranganmu.

Kamu harus sadar kalau cinta yang ada di hati kedua orang tuamu itu sepenuhnya untukmu. Milikmu.

Kamu bisa buktikan sendiri kalau kamu menikah nanti. Hati mereka sebenarnya sulit untuk rela ketika buah hatinya harus dimiliki orang lain karena segala peluh yang tak bisa terhitung itu pada akhirnya harus diwarnai dengan penyerahan ‘kepemilikan’ kamu (khususnya bagi wanita) kepada orang lain yang menjadi pasangan hidupmu nanti.

Tapi hidup selalu begitu bukan? Sudah ditakdirkan~ 😥

Terima kasih kamu sudah sampai di kalimat terakhir tulisan ini. Mungkin kamu nggak pernah lupa, mungkin hanya aku yang selalu lupa hal-hal seperti di atas 🙂

“Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway Tema Cinta”

“Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway Tema Cinta” di https://rhyantd.wordpress.com/lomba/giveaway-tema-cinta/
“Tulisan ini diikutkan dalam GiveAway Tema Cinta” di https://rhyantd.wordpress.com/lomba/giveaway-tema-cinta/

 berikut kelengkapan persyaratannya :

persyaratan1 persyaratan2

Iklan

12 thoughts on “Yang Mungkin Kau Lewatkan

  1. Salam kenal yah. Mantap deh tulisannya. Cinta orangtua memang yang paling besar dan tak ternilai bagi kita. Mungkin dalam perkembangan hidup, cinta kita akan terbagi kepada orang lain. Pada saatnya bakal sadar sendiri kalau kasih sayang orangtua tidak tergantikan dan hanya layak dibalas dengan ketaatan seumur hidup.

    Semoga menang GA nya. Sekalian kunjungan balik juga hehe.

  2. keren yas haha.. kalo boleh komen, bahasa penulisannya terlalu lembut bagi gue hehe, ada yg rada kurang nampol.. tp kontennya gue suka meski juga mungkin ga umum banget ini..
    tp kerenlah, ada beberapa kasus dari lu yang ‘nyubit’ gue 😀
    semoga kita makin sadar deh yaaa.. maap kepanjangan dan sosoan komen hehe
    good luck n terus berkarya!

    • hehe masih amatir nih ken.. semoga nextnya bisa jadi tulisan lembut tapi nusuk yaaa! :p
      hehe yang mana keen yg ‘nyubit’??
      gapapa gua seneng kok dikomen 🙂
      maaciw :*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s