Mawar Hitam Februari

mawar hitam
sumber : google

Ini bukan kali pertama aku melihat pemandangan ini. Sudah ke sekian kali aku tak sengaja melihat dia tiba-tiba menangis di pojok lorong itu, sendirian. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Tapi sepengetahuanku dia baik-baik saja dan dia pun memiliki beberapa sahabat karib untuk berbagi.

“Rey!” teriak Aldo membuyarkan lamunanku.

“Iya?” Aku berbalik badan, tapi ekor mataku sempat menangkap sembap merayapi wajah cantiknya.

“Lagi ngapain di sini? Di tunggu Pak Deni di kelas dari tadi tuh!” Mata Aldo mencari-cari objek yang sejak tadi mengembangkan lamunanku.

“Udah, kalau suka bilang aja, Rey.. Nanti kalau direbut orang baru nangis darah deh tuh!” Ledeknya. “Iya nggak, Feb?”

Febriani. Baru saja disangkutpautkan dalam pembicaraan, sosok itu telah menghilang. Sosok cewek periang yang terkenal di kelas dengan miliaran celotehannya yang tak pernah berhenti.

“Tadi elu ngeliat si Febri nangis nggak, Do?”

“Hmm.. Nggak tuh.” Jawab Aldo enteng.

Aneh kalau hanya aku yang mungkin ‘selalu’ melihat sisi melankolis dari seorang Febriani. Sepertinya ada beban di hidupnya yang sulit terangkat sehingga membuatnya sering meneteskan air mata diam-diam.

***

Aku memberanikan diri mendekati Febri yang sedang tertawa dengan sahabat-sahabatnya. Entah dari mana keberanianku terkumpul, mungkin karena ada getaran di dadaku yang membuncah.

“Eh, Feb, besok ke acara perpisahan sama Mama atau Papa?”

Bukannya mendapat jawaban, aku malah memperoleh tatapan yang menusuk. Aduh, salah nanya! Pikirku.

“Oh, atau bareng sama kakak elu ya, Feb?”

“Nggak tahu.” Jawabnya sinis.

“Hmm, maaf maaf.. sebenernya gue mau tanya, besok elu mau nggak habis acara nemenin gue ke …”

“Maaf, besok aku nggak bisa.”

“Tapi besok setelah acara perpisahan selesai kok, Feb.”

“Rey, sekali aku bilang nggak, YA NGGAK! TITIK!” Bentaknya.

JLEB! Rencana besok untuk nembak cewek pemilik rambut panjang dengan alis tebal dan bola mata hitam kelamnya yang indah itu tampaknya GATOT alias gagal total.

“Oke, maaf ya udah ganggu elu, Feb.” Aku pun berlalu.

***

Acara perpisahan akan dimulai jam delapan. Masih ada waktu, pikirku. Kutancap gas menuju rumah Febriani, berharap dia ada di rumah dan mau kubujuk untuk ikut acara perpisahan. Semoga.

Aku berhenti tepat di depan pagar sebuah rumah sederhana dengan halaman depan yang cukup luas. Rumah yang dikelilingi beberapa jenis bunga seperti bugenvil, aster, dan mawar yang melengkapi kesederhanaan itu. Tapi rumah itu sepi.

Apa di rumahnya nggak ada orang, ya? Batinku.

Ternyata pertanyaanku terjawab sudah, ketika aku mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Sosok yang aku cari berada di ujung jalan. Berjalan sendirian mengenakan gaun merah marun sebatas lutut dan berlengan pendek.

Mau kemana dia? Bukannya memakai baju kebaya ke acara perpisahan malah…

***

Hampir 15 menit yang lalu hingga sekarang, aku masih menguntit ke mana Febri pergi. Antara percaya atau tidak. Sekarang aku berada di hamparan tanah yang luas dengan batu bernama sang pemiliknya. Iya, sejauh mata memandang, ini adalah ‘pemakaman’.

Febri berhenti lalu bersimpuh di samping salah satu batu nisan yang terbuat dari batuan marmer hitam. Aku berusaha mendekat, sehingga jarakku dengannya hanya menyisakan lima langkah.

“Ma, ini Ani datang bawa bunga mawar untuk mama. Mama pasti suka, kan? Bunga yang minggu kemarin Ani buang, ya? Sudah layu soalnya,” katanya dengan nada manja seraya meletakkan bunga mawar hitam.

Gambar-bunga-mawar-hitam
sumber ; google

Dia diam sejenak lalu seketika terisak, “Ma, hari ini Ani harusnya perpisahan di aula sekolah. Ani lulus, Ma. Ani bukan anak SMA lagi. Tapi kenapa di saat Ani harus menghadapi kehidupan nyata di luar sana, mama masih juga belum pulang ke rumah?”

Tiba-tiba dia tertawa miris, “hahaha pasti di aula sekolah sekarang udah penuh sama murid dan orang tuanya, Ma… seperti kita. Pokoknya kalau mama nggak datang, aku juga nggak datang.”

“Mulai sekarang, Ani akan selalu temani mama di sini. Selalu.”

Kulihat dia mengecup batu nisan itu lama dengan setengah terisak, sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sesuatu yang bentuknya seperti cutter

“Mulai sekarang nggak akan ada lagi yang bilang kalau aku terkena bipolar disorder[1], Ma. Termasuk guruku yang baik itu. Mama ingat Pak Deni yang aku ceritakan? Ah tak penting, yang terpenting aku akan menemani mama seperti janjiku..”

Aku terhenyak. Bipolar disorder? Pak Deni? Beliau tahu penyakit itu?

“Bersama mama…”

Nyyeeeesssssss…… Hatiku kembali mencelos ketika melihat batuan marmer hitam itu telah berlumuran cairan kental amis berwarna merah. Darah!

Aku langsung berlari, memegang bahu Febri dan merebut cutter itu dari tangannya. “Feb! Gila lu! Ngapain segala…” aku mencari sumber cairan itu, “ngapain segala motong nadi gitu sih! Gila!”

Aku berusaha membuatnya duduk sempurna menghadapku. Segera aku mengeluarkan saputangan dan berusaha menghentikan pendarahannya.

Dia mengelak.

“Buat apa kamu di sini? Mau ikut-ikutan bilang aku kena gangguan bipolar juga? Atau mau ganggu mamaku, iya!” Serangnya.

“Sadar, Feb, sadar!” Bentakku sambil mengguncang bahunya. Ia beringsut.

“Pernah merasakan terlahir dari hubungan tanpa ikatan pernikahan, hah? Pernah merasakan kasih sayang hanya dari satu-satunya orang yang menyayangimu di antara jutaan orang yang seharusnya menyayangimu juga? Sedangkan jutaan orang itu malah mencampakkanmu, menyalahkanmu, mengusirmu dan menghinamu ketika kehilangan seseorang terkasih tadi, pernah?”

Aku menelan ludah. Tubuhku mematung.

“Dan sosok yang seharusnya bertanggung jawab atas segalanya yang telah terjadi ini malah membunuh satu-satunya orang yang mengasihimu, bahkan di depan matamu sendiri. Haha ironi sekali.” Dia tertawa lalu melanjutkan, “Pernah membayangkan bagaimana rasanya menjadi aku, Reynald Dwi Putra?”

“Aku, Febriani Esa Mahar. Benci Februari! Benci pernah terlahir ke bumi! Benci karena harus dilahirkan dalam keluarga seperti ini! Bahkan hidup pada sesuatu tak bisa disebut ‘keluarga’!”

Lidahku terlalu kelu untuk berkata-kata. Kuraih tubuh mungilnya dan kudekap erat. Aku hanya dapat berbisik, “Masih ada aku di sini…”

***

 

[1]Gangguan bipolar atau bipolar disorder adalah gangguan mental yang menyerang kondisi psikis seseorang yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang sangat ekstrim berupa depresi dan mania. Suasana hati penderitanya dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim.Suatu ketika, seorang pengidap gangguan bipolar bisa merasa sangat antusias dan bersemangat (mania). Saat suasana hatinya berubah buruk, ia bisa sangat depresi, pesimis, putus asa, bahkan sampai mempunyai keinginan untuk bunuh diri. (sumber: wikipedia)

Tulisan ini diikutsertakan pada Tantangan @KampusFiksi dengan Judul #KataSebuahNapas

Iklan

6 thoughts on “Mawar Hitam Februari

    • hehe iya aku juga sebenarnya pemalas kalau ngga ada deadlinenya.. kebetulan aja @kampusfiksi bikin tantangan nulis tetnang penyakit langka. salam kenal 🙂

  1. Hai di.. sorry baru bacaa–v seperti biasa, luar biasa *? hahaha nice story!! *many thumbs* tp di, cape nih di bikin nangis mulu:( ditunggulah cerita yang bisa bikin ngakaknya haha terus, gua teh asa kurang puas gitu sama endingnya, gantung #abaikan mungkin gua doang wkwk oh iya, ini tuh gua aja yang salah ngerti atau memang kurang subjek “Aku” di kalimat ini: “Hampir 15 menit yang lalu hingga sekarang masih menguntit ke mana Febri pergi.” hehehe udah deh ya, udah panjang. Akhir kata, terima kasih atas tagnya!^^ can’t wait for the next!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s