[REVIEW NOVEL] AKU, JULIET

aku,julietJudul buku : Aku, Juliet

Penulis       : Leyla Hana ( @LeylaHana )

Penerbit     : Moka Media (@mokabuku )

Tahun Terbit  : 2014

Tebal         : iv + 180 hlm.

ISBN          : 978-979-795-840-4

Mereka bilang aku Juliet, lambang cinta yang agung, cinta yang mengatasi segala kepedihan-bahkan kematian. Ya, aku memang Juliet. Keluargaku bukan Capulet, melainkan Juventia. Dan Romeoku juga bukan dari keluarga Montague, melainkan sekolah yang mereka sebut Eleazar.

Tapi, satu hal yang harus kau tahu, jika bisa memilih, aku tak ingin jadi Juliet!

Sinopsis :

“Saat pertama kali melihatnya, aku tahu aku menyukainya. Tawanya yang renyah, matanya yang indah dan segalanya. Tak ada yang lebih kuinginkan dibandingkan bersamanya. Tetapi jalan kami tak semudah itu. Begitu tinggi dinding tinggi sekolah memisahkan kami atas nama kebencian yang sudah ada, entah sejak kapan. Terlalu banyak air mata yang mengalir, terlalu banyak darah yang menetes.

Aku tak ingin jadi Romeo. Aku hanya ingin mencintai dia, Julietku. Tetapi cinta tidak berpihak kepada kami. Haruskah kisah cinta kami berakhir tragis seperti Romeo dan Juliet?”

***

Bagian Satu

Masa putih-abu memang masa yang ‘melulu’ dominan dikuasai oleh masalah percintaan, persahabatan, puncak masa di mana seorang anak benar-benar bisa menilai sejauh apa keharmonisan keluarganya. Dan novel ini menyajikan semua itu dalam sebuah kemasan yang berbeda. Kenapa berbeda? Mbak Leyla Hana (penulis buku ini) menyajikannya dalam bentuk permasalahan sosial yang juga kerap kali dialami oleh remaja, yaitu tawuran.

“Ngapain lo ikut tawuran kalo belom nguasain lapangan? Untung lo nggak mati!” (hlm. 5)

Memang sebuah dilema ketika ingin melanjutkan pendidikan ke instansi yang memiliki prestasi yang membanggakan namun di sisi lain juga terkenal karena oknum-oknum ‘tak bertanggung jawab’ yang ikut membuat ‘tenar’ dari sisi negatifnya, tawuran. Mungkin tak masalah bagi Camar untuk tetap memilih SMA Juventia sebagai pilihannya karena telah diniatkan sejak di bangku SMP.

Di sinilah semua kisah di novel ini dimulai. Sebagai siswi baru di sebuah SMA, Camar harus menjalani Masa Orientasi Siswa (MOS). Di pagi hari pertama MOSnya ia bertemu dengan sosok cowok berkulit cokelat, hidung mancung, rambut ikal, bibir tipis, dan sebuah lesung pipi di pipi kiri. (Aku sependapat dengan pandangan Camar, “ia tampan” J )

Sebuah pertemuan tidak disengaja itu ternyata membekas di kehidupan keduanya. Sosok cowok itu telah mematri indah sosok cewek berseragam putih biru yang ia temui di bawah teras rumah tempat mereka berlindung dari derasnya hujan, namanya Camar. Pertemuan itu cukup singkat tanpa diawali dan diakhiri dengan perkenalan.

Namun bagi Camar, sosok cowok itu cukup tampan tapi tak se-magnetik tatapan Bayu. Bayu adalah pengurus OSIS, seniornya sewaktu MOS. Camar terpikat saat pertama kali menatap matanya. (eaaaa… haha)

Sebenarnya, Bayu tidaklah tampan. Wajahnya biasa-biasa saja, tapi ada daya tarik yang mampu membuat para gadis bertekuk lutut. Daya tarik itu terletak pada matanya yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Tatapannya begitu menusuk hati para gadis, meskipun matanya tidaklah tajam, melainkan teduh. Mata itu juga yang terus membuat Camar memikirkan Bayu. (hlm. 19)

Bagian Dua

Betapa indahnya cinta, ketika dia bisa menjadi milik kita. Namun cinta sering kali tak dapat dimiliki. Rasa sakitlah yang sering kita dapati, saat jatuh cinta. Seandainya aku orang pertama yang memasuki hatinya… mungkin kejadiannya tidak akan sesulit ini. (hlm. 7)

Sasa, sahabat Camar ketika awal masa putih-abu telah memperingatkan bahwa Bayu telah dimiliki orang lain. Orang lain itupun tak lain adalah teman sekelas Camar, Mentari. Sasa pun telah memberitahu Camar kalau Bayu termasuk oknum sekolah yang sering terlibat tawuran antara SMA-nya yaitu SMA Juventia dan SMA tetangganya, SMA Eleazar. Namun cinta itu buta, bukan?

Putusnya hubungan pacaran antara Bayu dan Mentari membuat Bayu menjadi lebih dekat dengan Camar. Menurutku, siapa wanita yang akan menolak ketika laki-laki yang diam-diam dicintainya ternyata pada suatu waktu menyatakan perasaan dan meminta kita untuk menjadi pacarnya? Begitu pula dengan Camar. Cintanya terlalu dibutakan dengan kebahagiaan bahwa perasaannya berbalas. Peringatan sahabatnya pun diabaikan. Ia tak percaya. Persahabatan mereka merenggang.

Aku tak ingin kehilangan sahabatku juga orang yang aku cintai. Tapi jika aku diharuskan untuk memilih, maka aku memilih kehilangan sahabatku. (hlm. 70)

Lantas bagaimana kelanjutan kisah mereka? Akankah persahabatan antara Camar dan Sasa kembali utuh? Apakah Camar bahagia dengan memilih bersama Bayu? Bagaimana kisah pertemuan tak disengajanya dengan sosok cowok di tengah derasnya hujan itu?

Sedikit bocoran dariku, sosok cowok di tengah derasnya hujan itu bernama Abby. Dia cowok baik-baik. Sosok yang sangat bertolak belakang dengan sosok Bayu.

Dari semua karakter yang ada, aku paling suka Abby.. i love you, Abby {{}} :* hehehe mau tau kenapa? Baca aja sendiri bukunya lalu temukan alasannya.. Dijamin nggak akan nyesel karena banyak quotes-quotes bertebaran juga di novel ini!

Aku tak peduli walaupun seluruh sekolah membenciku karena mencintaimu, bagiku kau lebih penting dari semua orang di SMA kita. (hlm. 125)

Perlukah aku menjauhimu jika kehadiranmu merusak hubunganku dengannya? Bukankah sejak awal memang tak ada apa-apa di antara kita? Kau dan aku pernah bertemu dalam satu peristiwa manis yang berlalu begitu saja. Mestinya, cukup sampai di situ pertemuan kita. Jika saja kau tak pernah masuk terlalu jauh ke dalam kehidupanku. (hlm. 151)

FYI. Novel ini aku dapetin hasil menang Selfie Photo Contest saat acara #KreatiFiksi bersama @mokabuku dan @klubbuku_bgr hehe. Lucu deh pokoknya, yang iseng ngajakin selfie itu temen aku namanya Basit dan akhirnya kami ber-3 (Basit, aku dan seorang sahabatku, Amalia) foto selfie saat acara. Tapi menjelang menit-menit acara tersebut selesai, Basit nggak juga berhasil upload fotonya -_- dan alhasil aku menawarkan diri untuk upload foto itu. Niatnya iseng Cuma buat memeriahkan acara aja. Eh ternyata di akhir acara malah username twitter aku dipanggil karena menangin contest itu. Tapi pas disebutin username aku dan MC nanya “mana yang punya akun @diasshinta?” ternyata selain aku ada juga yang mengangkat tangan. Duh? Haha selanjutnya hal itu memalukan karena saat panitia mengklarifikasi peserta dengan username tersebut, hanya ada satu yang mengangkat tangan. Lho? Haha yaudah berarti itu rejekiku. Dan sekarang buku ini milik kami ber-3 yang ada di foto selfie tersebut. Hehehe Jadi terima kasih kepada Moka Media dan Klub Buku Bogor 🙂

Teruntuk Mbak Hana, novel ini menyentuh mbak.. seolah nyata di mata saya yang beberapa kali memang melihat tawuran secara langsung. Memang tidak sering, namun melekat. Membaca endingnya saat saya berada di dalam gerbong kereta nampaknya salah tempat hehehe. Tenang mbak, saya berniat membacanya ulang.

Maaf ya mbak, saya ingin mengomentari novel yang begitu tipis ini mbak. Amat sangat disayangkan begitu cepat jarak pembaca dibuat nyeri dada ketika membaca anti-klimaks dari permasalahan cinta segitiga hingga penyelesaiannya. Saya pribadi sih dapet feelnya, tapi kurang lekat membekasnya.

Saya suka layout dan design isi novel ini, tapi rasanya agak janggal dengan covernya. Pertama kali saya mendapatkan novel ini, saya mengira novel dewasa, begitu pula teman saya. Tapi saat membalik novel ini dan melihat sisi cover belakangnya, saya yakin ini memang kisah masa putih-abu. Hingga saya membaca novel ini kemarin di kereta saat berangkat ke kampus, ibu-ibu agak memandang ‘tidak enak’ melihat saya membaca novel ini karena melihat cover depannya. Saya baru menyadari memang benar agak janggal dengan cover tersebut.

Untuk penulisannya, saya tidak bisa terlalu banyak mengkritik. Menurut saya ada beberapa typo seperti di halaman 34, halaman 90 (baris ke-3). Kekurangan penulisan kata depan “di” di halaman 153. Karena saya memang cuma seorang pembaca dan baru akhir-akhir ini mau belajar me-review, maka saya pun sebenarnya tidak dapat mengomentari lebih dalam dan masih tahap belajar (orang sendirinya juga masih sering typo kok) hehehe 😀 *kabuuurrrrr

Iklan

2 thoughts on “[REVIEW NOVEL] AKU, JULIET

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s